Viral, Dialog Ulama Indonesia Shamsi Ali dengan Demonstran Pro-Papua di New York

JawaPos • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 16:00 WIB
Imam besar Shamsi Ali.(ist)
Imam besar Shamsi Ali.(ist)

batampos – Ulama asal Indonesia yang menjadi imam sekaligus Direktur Jamaica Muslim Center di Queens, New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali, menjadi perhatian di media sosial setelah mengunggah video dialognya dengan demonstran yang menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Papua.

Pertemuan tersebut berlangsung di jalan setelah Shamsi Ali selesai menyampaikan khutbah di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Saat melintas, ia melihat aksi demonstrasi yang diikuti sejumlah orang dengan membawa atribut Papua, termasuk bendera Bintang Kejora.

Dalam video yang diunggah melalui akun media sosialnya pada Minggu (27/9), Shamsi Ali terlihat berdialog dengan salah seorang demonstran. Ia mempertanyakan alasan kelompok bersenjata di Papua melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

“Setelah khutbah di PBB saya melewati seorang pendemo Papua (anti Indonesia),” tulis Shamsi Ali dalam keterangannya.

Ia kemudian menyinggung kasus penembakan seorang warga sipil di Papua. Shamsi Ali mempertanyakan dasar tudingan bahwa warga Indonesia yang berada di Papua bekerja sama dengan TNI.

“Kesal juga baru-baru ini seorang warga tak berdosa ditembak mati di Papua. Alasannya semua warga Indonesia melakukan fungsi multi kerjasama dengan TNI. Saya tanya bukti. Jawabannya tonton YouTube,” tulisnya, mengutip percakapannya dengan demonstran tersebut.

Dalam unggahannya, Shamsi Ali juga menyampaikan kecaman terhadap kekerasan terhadap warga sipil.

Singgung Kasus Aris Sanda

Kasus yang disinggung Shamsi Ali diduga berkaitan dengan kematian Aris Sanda, sopir lajuran asal Toraja, yang tewas dalam insiden kekerasan di jalur Wamena-Mbua, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada 15 September 2026.

Berdasarkan keterangan Koops TNI Habema, rombongan kendaraan yang membawa penumpang dari Wamena menuju Mbua dihentikan oleh sekelompok orang bersenjata. Para pengemudi dan penumpang kemudian diperiksa.

Setelah pemeriksaan, para penumpang diperintahkan kembali ke Wamena, sedangkan Aris Sanda dibawa menuju kawasan Danau Habema. Aparat kemudian melakukan pencarian setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut.

Pada 16 September 2026, tim Koops TNI Habema menemukan kendaraan Aris dalam kondisi terbakar. Jenazah korban ditemukan di dalam kendaraan tersebut. Aparat menyebut kelompok bersenjata OPM Kodap III Ndugama sebagai pihak yang diduga terlibat dalam kekerasan tersebut.

Laporan lain menyebut Aris diduga sempat disandera sebelum ditemukan meninggal dunia. Namun, sejumlah detail mengenai kronologi dan motif kejadian masih bersumber dari keterangan aparat serta laporan media dan perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi secara independen.

Sebelumnya, beredar pula rekaman yang disebut memperlihatkan Aris berada di bawah ancaman senjata dan diminta menyampaikan pernyataan terkait kemerdekaan Papua. Keaslian serta konteks lengkap rekaman tersebut menjadi bagian dari informasi yang diberitakan terkait kasus tersebut.

Kasus kematian Aris Sanda mendapat perhatian di Papua. Pada 25 September 2026, puluhan sopir angkutan umum dan taksi daring di Kota Jayapura juga menggelar aksi untuk menuntut keadilan serta peningkatan keamanan bagi pengemudi di wilayah Papua dan Papua Pegunungan.(*)

Editor : Cipi Ckandina
Dialog AJI Ulama Shamsi viral