70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia - Mongolia

Antara • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 08:01 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri Mongolia Amartuvshin Gombosuren (kiri) dan Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (kanan) dalam resepsi diplomatik di Ulan Bator, Mongolia pada Selasa (29/9/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Wakil Menteri Luar Negeri Mongolia Amartuvshin Gombosuren (kiri) dan Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (kanan) dalam resepsi diplomatik di Ulan Bator, Mongolia pada Selasa (29/9/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

batampos - Indonesia dan Mongolia memperkuat kemitraan di berbagai bidang dalam momentum peringatan 70 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun mengatakan hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak 21 Desember 1956 menjadi momentum untuk memperluas kerja sama Indonesia dan Mongolia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

"Saat kita merayakan 70 tahun hubungan diplomatik, ada banyak hal yang dapat kita nantikan di masa depan. Kerja sama yang lebih kuat antara Indonesia dan Mongolia menjadi sangat penting dan semangat ketangguhan harus diwujudkan dalam tindakan nyata," kata Djauhari dalam resepsi diplomatik di Ulan Bator, Mongolia, Selasa (29/9).

Resepsi tersebut digelar untuk memperingati HUT ke-81 RI sekaligus 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Mongolia.

Djauhari mengatakan momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperdalam kemitraan kedua negara, terutama ketika dunia menghadapi berbagai tantangan seperti konflik, meningkatnya proteksionisme, gangguan rantai pasok, serta tekanan terhadap ketahanan energi dan pangan.

"Mongolia adalah tempat di mana tanah menunjukkan ketangguhan, di mana angin bertiup kencang melintasi padang rumput, dan di mana embusan angin musim dingin menguji batas ketahanan kita. Oleh karena itu, membuka pintu bisa menjadi penentu," ujarnya.

Menurut Djauhari, kondisi global tersebut membuat penguatan kemitraan Indonesia-Mongolia semakin penting. Kerja sama dapat diarahkan pada penguatan rantai pasok, diversifikasi pasar, sumber pasokan, lokasi produksi, hingga pengembangan ekonomi.

"Kemitraan merupakan suatu keharusan. Rantai pasok yang lebih tangguh, pasar yang lebih beragam, serta masa depan bersama yang lebih kuat. Hal ini berarti memperluas cakupan sumber pasokan, lokasi produksi, dan area pengembangan kita," katanya.

Perdagangan Indonesia-Mongolia

Dari sisi ekonomi, nilai perdagangan Indonesia dan Mongolia pada 2025 tercatat sebesar 56,6 juta dolar AS. Ekspor Indonesia mencapai 49,5 juta dolar AS, sedangkan impor dari Mongolia sekitar 6,5 juta dolar AS.

Djauhari mengatakan kedua negara memiliki sejumlah potensi kerja sama yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

"Kita telah berdiskusi mengenai cara memanfaatkan potensi yang kita miliki bersama dan dari diskusi saya melihat ada tiga bidang di mana kita dapat mencapai kemajuan nyata," ungkapnya.

Bidang pertama adalah pembelajaran kelembagaan. Indonesia dan Mongolia dinilai dapat saling berbagi pengalaman terkait tata kelola, hilirisasi, dan keberlanjutan.

Bidang kedua adalah pendidikan. Djauhari menyebut program beasiswa Dharma Siswa dan KNB dari Indonesia pada tahun ini memberikan prioritas khusus bagi Mongolia.

"Tahun ini, program beasiswa Dharma Siswa dan KNB dari Indonesia memberikan prioritas khusus bagi Mongolia. Kami siap menyambut dan memfasilitasi partisipasi yang lebih luas dari para pelajar Mongolia," ujarnya.

Bidang ketiga adalah pariwisata dan hubungan budaya. Indonesia dengan karakter kepulauannya dan Mongolia dengan wilayah padang rumputnya dinilai memiliki pengalaman budaya dan wisata yang dapat saling diperkenalkan.

Kerja sama juga dapat diperluas melalui ekosistem halal, pertukaran kuliner, dan program pariwisata. Djauhari turut mendorong peran kreator digital untuk memperkenalkan budaya kedua negara kepada masyarakat masing-masing.

"Selain itu, kita juga dapat memperluas kerja sama melalui ekosistem halal, pertukaran kuliner, dan program pariwisata. Mari kita biarkan para kreator digital saling menceritakan kisah satu sama lain," katanya.

Mongolia Sebut Indonesia Mitra Utama di Asia Tenggara

Wakil Menteri Luar Negeri Mongolia Amartuvshin Gombosuren yang hadir dalam resepsi diplomatik tersebut mengatakan hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki posisi penting dalam kebijakan luar negeri Mongolia.

"Dalam hal ini, kami memandang Indonesia sebagai mitra utama di Asia Tenggara dan tetap berkomitmen untuk memperluas serta memperkuat kerja sama perdagangan dan ekonomi antara kedua negara," kata Amartuvshin.

Mongolia juga berkomitmen memperkuat hubungan dengan Indonesia melalui berbagai bidang, termasuk politik, perdagangan dan investasi, pertanian, pariwisata, serta kebudayaan.

"Saya gembira melihat hubungan Mongolia–Indonesia terus berkembang dengan stabil, ditandai oleh kunjungan tingkat tinggi secara timbal balik yang rutin, dukungan timbal balik di tingkat regional dan internasional, serta kerja sama yang semakin erat dan substantif," ujarnya.

Amartuvshin turut menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Indonesia dalam hubungan bilateral, kerja sama di organisasi regional dan internasional, serta peran Indonesia dalam memperkuat hubungan Mongolia dengan ASEAN.

Sejarah Hubungan Indonesia-Mongolia

Hubungan Indonesia dan Mongolia telah berlangsung selama tujuh dekade. Kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada 21 Desember 1956.

Hubungan tersebut juga ditandai dengan sejumlah kunjungan tingkat tinggi. Dari pihak Mongolia, Presiden Punsalmaagiin Ochirbat mengunjungi Indonesia pada 1997, disusul Presiden Natsagiin Bagabandi pada 2005. Kunjungan tingkat perdana menteri juga dilakukan Nambaryn Enkhbayar pada 2002 dan Sükhbaataryn Batbold pada 2011.

Dari Indonesia, Presiden Soekarno tercatat mengunjungi Mongolia pada 1956, disusul Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2003 dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga melakukan kunjungan ke Mongolia pada 2016.

Kedua negara kemudian mengadakan pertemuan Komisi Bersama di Jakarta pada 2015. Konsultasi antarkementerian luar negeri berlangsung pada 2019 dan secara daring pada 2022.

Konsultasi politik Indonesia-Mongolia terbaru digelar di Jakarta pada 26 Februari 2026. (*)

Editor : Putut Ariyo
hubungan diplomatik Indonesia Mongolia Djauhari Oratmangun kerja sama internasional Mongolia