Melansir Investing pada pukul 06.40 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,72 poin atau 1,79 persen ke level 97,88 dolar AS per barel. Pada perdagangan Rabu (30/9) pagi, Brent berada di level 96,01 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,33 poin atau 0,36 persen ke level 90,08 dolar AS per barel. Sehari sebelumnya, WTI tercatat di level 89,23 dolar AS per barel.
Mengutip Reuters, pergerakan harga minyak masih dipengaruhi perkembangan hubungan AS dan Iran. Qatar pada Selasa menyatakan harapan agar diplomasi antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan.
Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang menyebut dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi serta mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.
Dari sisi pasokan, Arab Saudi kembali melakukan pemuatan tanker minyak dari pelabuhan Laut Merah Yanbu setelah mengaktifkan kembali jalur pipa East-West.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari (bph) dalam sepekan terakhir, sejalan dengan rata-rata 2025. Bank tersebut menyebut ekspor minyak kawasan Teluk meningkat dua kali lipat pada September.
JPMorgan juga memperkirakan rata-rata ekspor minyak selama 10 hari terakhir mencapai 20,5 juta bph, setara 89 persen dari level 2025.
Di Amerika Serikat, pasar produk BBM menunjukkan kondisi yang semakin ketat. Persediaan bensin AS turun 1,7 juta barel menjadi 204,4 juta barel pada pekan lalu.
Persediaan distilat, yang mencakup diesel dan minyak pemanas, juga turun 2,3 juta barel menjadi 105,2 juta barel. Data tersebut berdasarkan laporan Energy Information Administration (EIA).
"Penurunan aktivitas penyulingan mendorong berkurangnya persediaan distilat dan bensin. Aktivitas penyulingan diperkirakan secara bertahap meningkat sehingga dapat membantu mencegah persediaan produk turun ke level yang semakin rendah," ujar Analis Kpler Matt Smith.
Partner Again Capital di New York, John Kilduff, mengatakan tingginya permintaan distilat secara global membuat konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi.
Berbeda dengan produk BBM, persediaan minyak mentah AS justru meningkat 922.000 barel menjadi 427,3 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan 264.000 barel.
Selisih harga antara Brent dan WTI juga melebar ke level tertinggi dalam empat bulan. Investor mencermati kemungkinan AS membatasi ekspor diesel yang berpotensi menciptakan kelebihan pasokan di pasar domestik dan mendorong kilang AS mengurangi pemrosesan minyak mentah.
Trump mempertimbangkan opsi mengizinkan penjualan diesel berwarna merah sebagai alternatif dari larangan ekspor. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan harga bagi konsumen menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.(*)
Editor : Cipi Ckandina