Pengangguran Jepang Naik Jadi 2,5 Persen

JawaPos • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:01 WIB
Ilustrasi. Pekerja di Jepang. (hr.asia)
Ilustrasi. Pekerja di Jepang. (hr.asia)

batampos – Tingkat pengangguran di Jepang naik menjadi 2,5 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli yang berada di level 2,4 persen dan menjadi kenaikan pertama dalam lima bulan terakhir.

Dilansir Kyodo, Jumat (2/10), Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang mencatat jumlah orang yang bekerja mencapai 68,34 juta orang pada Agustus. Jumlah tersebut bertambah 30 ribu orang dibandingkan bulan sebelumnya setelah disesuaikan secara musiman.

Sementara itu, dari penduduk yang tidak bekerja, sebanyak 810 ribu orang meninggalkan pekerjaannya secara sukarela. Jumlah tersebut meningkat 8 persen dibandingkan Juli. Sebagian besar diduga meninggalkan pekerjaan untuk mencari kondisi kerja yang lebih baik.

Jumlah pekerja yang diberhentikan juga meningkat 5,3 persen menjadi 400 ribu orang. Sementara itu, jumlah orang yang baru mencari pekerjaan bertambah 2,2 persen menjadi 460 ribu orang.

Meski tingkat pengangguran meningkat, seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menilai kondisi pasar kerja masih relatif baik. Menurut dia, kenaikan angka pengangguran terutama dipengaruhi meningkatnya jumlah orang yang secara sukarela meninggalkan pekerjaan.

"Peningkatan pekerja yang meninggalkan pekerjaan secara sukarela tampaknya menjadi faktor utama kenaikan tingkat pengangguran terbaru," kata pejabat tersebut.

Dalam dua tahun terakhir, tingkat pengangguran Jepang tercatat kembali meningkat pada bulan setelah sebelumnya turun menjadi 2,4 persen atau lebih rendah.

Data terpisah dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang menunjukkan rasio ketersediaan pekerjaan tidak berubah dari Juli, yakni 1,18. Artinya, terdapat 118 lowongan pekerjaan untuk setiap 100 pencari kerja.

Namun, jumlah lowongan mengalami penurunan di sebagian besar sektor yang dipantau. Dari 11 sektor, delapan sektor mencatat penurunan jumlah lowongan.

Penurunan terbesar terjadi pada sektor akomodasi dan restoran yang anjlok 11,1 persen. Berikutnya, sektor perdagangan grosir dan ritel turun 10,2 persen.

Sebaliknya, tiga sektor mencatat pertumbuhan jumlah lowongan. Sektor manufaktur meningkat 3,9 persen, sedangkan sektor informasi dan komunikasi naik 3,3 persen. (*)

Editor : Jamil Qasim
Agustus 2026 Pengangguran Jepang