G7 Siap Lepas 100 Juta Barel Cadangan Minyak Darurat, Harga Minyak Dunia Turun

JawaPos • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 15:01 WIB
Ilusttrasi harga minyak dunia. (Pexels/Ganesh Ramsumair)
Ilusttrasi harga minyak dunia. (Pexels/Ganesh Ramsumair)

batampos - Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Penurunan harga dipengaruhi meningkatnya ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah serta rencana negara-negara G7 melepas cadangan minyak darurat ke pasar.

Mengutip data Investing pada pukul 07.20 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,07 poin atau 0,07 persen menjadi USD 100,25 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 0,20 poin atau 0,22 persen menjadi USD 89,25 per barel.

Ekspor Timur Tengah Meningkat

Mengutip Reuters, penurunan harga minyak masih relatif terbatas karena pasar tetap dibayangi kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Data pengiriman yang dirilis pada Senin (6/10) menunjukkan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah berada di atas level sebelum perang dalam empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September.

Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, mengatakan peningkatan tersebut terjadi meskipun kapal tanker masih menghadapi risiko serangan ketika melintasi Selat Hormuz.

“Meski kapal tanker masih menghadapi risiko, harapannya pada akhirnya lebih banyak minyak dapat mencapai pasar,” ujar Andrew.

G7 Siapkan Pelepasan Cadangan

Di tengah kondisi tersebut, negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas sekitar 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat.

Negara-negara G7 juga berjanji tidak menerapkan pembatasan ekspor energi setelah mendapat tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Namun, rencana tersebut masih mendapat perhatian dari pelaku pasar.

Analis Raymond James, Pavel Molchanov, mengatakan pasar masih skeptis terhadap rencana pelepasan cadangan tersebut.

Menurutnya, belum jelas berapa banyak minyak dalam kesepakatan terbaru tersebut yang berasal dari sisa volume pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel yang sebelumnya dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA) dan diumumkan pada Maret.

Risiko Geopolitik Masih Membayangi

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah masih sulit dipastikan.

Konflik baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran juga berpotensi mempertahankan risiko geopolitik di sektor energi.

“Gencatan senjata di Timur Tengah masih sulit tercapai. Permusuhan baru antara Arab Saudi dan Houthi yang didukung Iran akan memastikan serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal terus terjadi,” ujar Varga.

Menurut Varga, kondisi tersebut berpotensi menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar minyak.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, juga memperkirakan pasokan minyak mentah dan bahan bakar olahan masih akan berada dalam kondisi ketat.

Ia menilai pengisian kembali stok minyak global setelah penarikan cadangan darurat dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun.

Cadangan Minyak AS Terus Menurun

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun menjadi sekitar 283 juta barel pada pekan lalu.

Berdasarkan data Departemen Energi AS yang dirilis Senin, jumlah tersebut merupakan level terendah sejak Oktober 1982.

Kondisi cadangan minyak AS tersebut menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pasar di tengah upaya negara-negara G7 menambah pasokan minyak ke pasar global.

Dengan meningkatnya ekspor dari Timur Tengah dan rencana pelepasan cadangan darurat G7, harga minyak dunia mendapat tekanan. Namun, risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan masih menjadi faktor yang dapat membatasi penurunan harga lebih lanjut. (*)

Editor : Jamil Qasim
Harga minyak mentah kompak melemah