batampos - Temuan awal investigasi mengarah pada dugaan bahwa Hamam Al-Hammani, kopilot FlyDubai, berupaya mengambil alih kendali pesawat dan mengarahkannya ke Bandara Ben Gurion, Tel Aviv.
Dugaan tersebut kini menjadi salah satu fokus penyelidikan, termasuk bagaimana Al-Hammani dapat kembali bertugas sebagai awak kokpit meski sebelumnya disebut pernah masuk dalam daftar risiko keamanan.
Informasi tersebut disampaikan oleh dua pejabat senior Amerika Serikat dan seorang sumber Israel yang mengetahui proses penyelidikan. Jika dugaan tersebut terbukti, insiden ini tidak hanya berkaitan dengan upaya mengambil alih kendali pesawat, tetapi juga dapat dikategorikan sebagai dugaan serangan yang berpotensi membahayakan seluruh penumpang dan awak.
Pernah Ditandai sebagai Risiko Keamanan
Al-Hammani diketahui merupakan warga negara Oman. Menurut pejabat intelijen dan penegak hukum senior yang dikutip ABC News, Oman Air sebelumnya pernah menandainya sebagai individu yang memiliki risiko keamanan.
Ia disebut pernah menjadi kopilot trainee di maskapai tersebut pada 2024. Namun, statusnya kemudian ditangguhkan setelah ditemukan materi yang dikategorikan sebagai ekstremis.
Status tersebut kini menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Aparat berupaya mengetahui bagaimana seseorang yang sebelumnya dinilai memiliki risiko keamanan dapat kembali bekerja sebagai awak pesawat di maskapai lain.
Penyelidik juga menelusuri proses yang membuat Al-Hammani akhirnya menempati posisi first officer dalam penerbangan FlyDubai menuju Israel.
Hal tersebut menjadi perhatian karena penerbangan FlyDubai 1073 membawa penumpang dari Dubai menuju Israel. Sebagai awak kokpit, Al-Hammani memiliki akses langsung terhadap kendali pesawat.
FlyDubai Tunggu Hasil Investigasi
FlyDubai mengatakan pihaknya masih menunggu hasil penyelidikan resmi terkait insiden tersebut.
“Kami menyadari bahwa ada banyak pertanyaan pada tahap ini; namun, keadaan seputar insiden tersebut masih dalam penyelidikan,” kata FlyDubai dalam pernyataan kepada ABC News.
Maskapai tersebut menyatakan belum dapat memberikan informasi lebih lanjut di luar pernyataan resmi yang telah dipublikasikan.
FlyDubai juga menegaskan komitmennya untuk mendukung proses penyelidikan serta berkoordinasi dengan otoritas pemerintah dan regulator terkait.
Pesawat Sempat Menukik Ribuan Kaki
Dugaan upaya pengambilalihan pesawat tersebut berhasil digagalkan setelah kapten penerbangan, Smit Machchhar, melawan Al-Hammani.
Sejumlah penumpang kemudian ikut membantu melumpuhkan dan menahan pria tersebut.
Berdasarkan keterangan penumpang, Al-Hammani sempat membuat pesawat menukik ribuan kaki. Kondisi tersebut diduga merupakan bagian dari upaya untuk menjatuhkan pesawat.
Seorang penumpang bernama Yaniv Hayun disebut berhasil menarik Al-Hammani keluar dari kokpit. Ia kemudian membantu mengamankan situasi hingga pesawat kembali berada dalam posisi stabil.
Kendali penerbangan selanjutnya diambil alih oleh pilot ketiga.
Pesawat kemudian dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi, untuk melakukan pendaratan darurat.
Tidak ada laporan bahwa pesawat tersebut akhirnya jatuh. Tindakan cepat kapten, penumpang, dan awak lainnya disebut berperan penting dalam mencegah terjadinya bencana yang lebih besar.
Netanyahu Sebut Insiden sebagai Aksi Teror
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyebut insiden tersebut sebagai aksi teror.
Netanyahu mengatakan dugaan tujuan pelaku adalah menghancurkan pesawat bersama seluruh orang yang berada di dalamnya.
Ia juga menyatakan pemerintah Israel masih menyelidiki apakah Al-Hammani bertindak seorang diri atau terdapat pihak lain yang mengarahkannya.
Pernyataan tersebut membuka kemungkinan penyelidikan tidak hanya berfokus pada orang yang berada di dalam pesawat. Aparat juga dapat menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang mengetahui, membantu, atau mengarahkan dugaan aksi tersebut.
FlyDubai Hentikan Sementara Penerbangan ke Tel Aviv
Setelah insiden tersebut, FlyDubai menghentikan sementara penerbangan menuju Tel Aviv hingga pemberitahuan lebih lanjut atas permintaan otoritas.
Maskapai menyatakan penyelidikan resmi dipimpin oleh otoritas terkait dan pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap proses tersebut.
Al-Hammani kemudian dipindahkan dari Arab Saudi ke Uni Emirat Arab pada Kamis dan masih berada dalam tahanan.
Kasus ini kini menyisakan dua pertanyaan utama.
Pertama, bagaimana insiden di dalam kokpit dapat terjadi hingga pesawat sempat kehilangan kendali.
Kedua, bagaimana seseorang yang sebelumnya pernah dinilai sebagai risiko keamanan dapat kembali memperoleh akses untuk bertugas sebagai awak kokpit.
Jawaban atas kedua pertanyaan tersebut akan menjadi bagian penting dalam mengungkap apakah insiden FlyDubai merupakan tindakan individu atau berkaitan dengan latar belakang dan jaringan yang lebih luas. (*)