batampos - Ilmuwan kimia organik Jepang Kenso Soai dan peneliti Prancis Henri Kagan meraih Nobel Kimia 2026 atas penelitian yang membantu memecahkan misteri bagaimana molekul berbentuk cermin dapat terbentuk secara spontan.
Dilansir dari Kyodo, Kamis (8/10), Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia mengumumkan Soai, 76, dan Kagan, 95, sebagai penerima Nobel Kimia 2026. Soai merupakan profesor emeritus di Tokyo University of Science, sedangkan Kagan adalah profesor emeritus di Universite Paris-Sud, Prancis.
"Henri Kagan dan Kenso Soai telah memberikan solusi atas misteri kimia yang telah berusia lebih dari satu abad, yakni bagaimana homokiralitas dapat muncul secara spontan. Reaksi kimia yang mereka kembangkan sangat luar biasa," kata Heiner Linke, Ketua Komite Nobel Kimia.
Dalam kimia, sejumlah molekul memiliki dua bentuk yang merupakan bayangan cermin satu sama lain. Meski memiliki susunan atom yang sama, kedua bentuk tersebut tidak selalu memiliki fungsi yang sama.
Menariknya, organisme hidup umumnya hanya menggunakan salah satu bentuk molekul tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai homokiralitas dan telah menjadi salah satu pertanyaan penting dalam ilmu kimia selama lebih dari satu abad.
Penelitian Soai dan Kagan membantu menjelaskan bagaimana reaksi kimia yang menghasilkan homokiralitas dapat dipicu dan berkembang.
Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyebut penelitian mengenai efek nonlinier dan autokatalisis dalam sintesis organik asimetris sebagai terobosan penting. Pengetahuan tersebut membantu para ahli kimia merancang reaksi untuk menghasilkan molekul dengan bentuk tertentu, termasuk dalam pengembangan obat-obatan.
Penghargaan tersebut menjadi Nobel Kimia kedua berturut-turut yang diraih warga Jepang. Pada 2025, profesor Universitas Kyoto Susumu Kitagawa berbagi Nobel Kimia bersama dua ilmuwan lainnya atas pengembangan material berpori yang dapat menyimpan dan melepaskan gas.
"Saya sangat senang bisa berbagi penghargaan ini dengan Profesor Henri Kagan," kata Soai melalui sambungan telepon dalam konferensi pers setelah pengumuman.
Soai yang berasal dari Hiroshima mengatakan dirinya sedang berbelanja ketika mendapat telepon dari Komite Nobel. Ia mengaku senang karena bidang penelitian yang digelutinya akhirnya mendapat pengakuan.
Kabar kemenangan tersebut disambut gembira masyarakat di Hiroshima, Jepang barat, serta civitas akademika di universitasnya di Tokyo. Sejumlah mahasiswa menyebut penghargaan tersebut sebagai sesuatu yang "tidak terduga".
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga mengucapkan selamat kepada Soai melalui sambungan telepon. Takaichi mengatakan dirinya bangga atas pencapaian Soai sebagai sesama warga Jepang.
Dalam konferensi pers di universitasnya di Tokyo pada Rabu malam, Soai menyampaikan apresiasi kepada komunitas kimia Jepang. Menurut dia, keberhasilannya tidak terlepas dari fondasi kuat yang diberikan komunitas tersebut bagi perkembangan penelitiannya.
Soai bahkan membuat hadirin tertawa ketika mengatakan bahwa karena penemuannya berkaitan dengan fondasi kehidupan, "tentu tidak ada yang akan keberatan saya memenangkan penghargaan ini."
Ia berharap penghargaan tersebut dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap bidang penelitian yang digelutinya, termasuk dari kalangan yang sebelumnya belum mengenal penelitian tersebut.
Sebelum Soai menerbitkan penemuannya pada 1995 mengenai reaksi kimia yang berpotensi menghasilkan homokiralitas, Kagan telah meletakkan dasar penelitian tersebut hampir satu dekade sebelumnya.
Pada 1986, Kagan menemukan metode baru untuk memanipulasi reaksi kimia. Penemuan ilmuwan asal Boulogne-Billancourt tersebut memungkinkan terciptanya jumlah salah satu bentuk molekul cermin yang lebih banyak dibandingkan yang sebelumnya dianggap mungkin. (*)
Editor : Cipi Ckandina