batampos - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah pulih sepenuhnya. Bahkan, menurut dia, volume minyak yang melewati jalur strategis tersebut kini telah menyamai atau melampaui tingkat sebelum perang dengan Iran.
Trump menyampaikan klaim tersebut kepada wartawan pada Selasa. Dia menyebut jutaan barel minyak telah dikirim melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.
”Jutaan barel minyak telah dialirkan hanya dalam beberapa hari terakhir,” kata Trump.
Dia menegaskan, arus pengiriman minyak melalui jalur pelayaran tersebut kini berada pada tingkat yang sama atau lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.
”Kita dapat melihatnya mengalir pada taraf yang setara atau bahkan melampaui jumlah sebelum perang,” ujarnya.
Namun, klaim tersebut belum disertai data independen mengenai volume aktual pengiriman minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Pengiriman Minyak Selat Hormuz Terdampak Perang Iran
Perang antara AS-Israel dan Iran pecah pada 28 Februari 2026, setelah serangan gabungan Washington dan Tel Aviv terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah titik di Timur Tengah.
Pada pertengahan Juni 2026, Washington dan Teheran sempat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan. Namun, pertempuran kembali terjadi tidak lama kemudian. Konflik kedua pihak pun masih berlanjut.
Eskalasi tersebut berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) dunia.
Gangguan pelayaran di kawasan itu berisiko menghambat distribusi energi global. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi harga minyak dunia karena Selat Hormuz memiliki peran penting dalam rantai pasok energi internasional.
Karena itu, pemulihan arus pelayaran di jalur tersebut menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan pasar energi di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah.
Iran Peringatkan AS dan Israel soal Serangan Balasan
Di tengah konflik yang belum mereda, Iran memperingatkan AS dan Israel agar tidak melancarkan serangan baru. Teheran menyatakan akan memberikan balasan tegas yang berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar bagi pihak lawan.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik menyampaikan peringatan tersebut pada Selasa, sebagaimana dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Fars.
Menurut laporan itu, Iran telah menyiapkan sejumlah target potensial untuk serangan balasan. Teheran juga disebut meningkatkan kapasitas produksi persenjataannya secara signifikan.
Saat ditanya mengenai kemungkinan respons Iran terhadap serangan di Kuh-e Kolang atau Pickaxe Mountain, Talaei-Nik mengatakan angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan target yang dapat diserang jika terjadi agresi baru.
Dia menyebut Iran telah memperkuat kemampuan militernya, termasuk persenjataan rudal dan drone, sistem pertahanan udara, serta berbagai sistem persenjataan untuk angkatan darat, laut, dan udara.
Iran Klaim Produksi Senjata Naik 2,5 Kali Lipat
Talaei-Nik mengklaim kapasitas produksi senjata, peralatan pertahanan, dan amunisi Iran telah meningkat 2,5 kali lipat dibandingkan tingkat sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari 2026.
”Produksi beberapa jenis senjata meningkat lebih dari tiga kali lipat,” katanya.
Dia juga menyatakan Kementerian Pertahanan Iran bersama jaringan mitranya kini memiliki kemampuan memproduksi lebih dari 1.000 jenis sistem, senjata, peralatan, dan amunisi.
Meski demikian, angka peningkatan produksi tersebut merupakan klaim pejabat Iran yang belum disertai verifikasi independen dalam laporan tersebut.
Iran Sebut Kerja Sama Pertahanan dengan Rusia dan China Berlanjut
Selain meningkatkan kemampuan militer dalam negeri, Iran menyatakan kerja sama pertahanan dengan Rusia dan China tetap berjalan di tengah konflik.
Talaei-Nik mengatakan hubungan strategis dengan Moskow dan Beijing masih berlangsung berdasarkan perjanjian yang telah disepakati, termasuk kerja sama di bidang politik dan pertahanan.
Menurut dia, diplomasi pertahanan dan konsultasi dengan kedua negara bahkan meningkat di sejumlah bidang. Namun, dia tidak memberikan perincian lebih lanjut mengenai bentuk kerja sama tersebut.
Konflik AS-Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026 telah melibatkan serangan terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran serta sejumlah pejabat senior militer. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan rudal dan drone.
Di tengah perkembangan tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial bagi keamanan energi global. Klaim pemulihan pengiriman minyak yang disampaikan Trump masih perlu dicermati bersama data aktual pelayaran dan perkembangan konflik di kawasan itu. (*)
Editor : Putut Ariyo