batampos - Jepang berhasil mencatat terobosan dalam upaya konservasi satwa langka. Kebun Binatang Chausuyama di Prefektur Nagano berhasil mengembangbiakkan salamander Akaishi untuk pertama kalinya di negara tersebut. Sebanyak 16 anakan salamander menetas pada September lalu.
Keberhasilan ini membuka peluang bagi para peneliti untuk mempelajari siklus hidup spesies yang terancam punah tersebut, sekaligus mendukung upaya pelestariannya.
Dilansir dari Kyodo, Jumat (9/10), pihak Kebun Binatang Chausuyama mengumumkan keberhasilan perkembangbiakan tersebut pada Kamis (8/10). Keenam belas anakan salamander itu menetas pada 17 September, setelah telur yang telah dibuahi berhasil dikumpulkan pada Juli.
Salamander Akaishi merupakan spesies langka yang hidup di kawasan Pegunungan Alpen Selatan, Prefektur Nagano. Satwa ini telah ditetapkan sebagai spesies terancam punah.
Salah satu tantangan dalam mempelajari salamander tersebut adalah belum pernah teramatinya telur dan larva yang berkembang di air secara langsung di habitat aslinya. Karena itu, keberhasilan perkembangbiakan di penangkaran menjadi kesempatan penting untuk mengungkap tahapan awal kehidupannya.
“Ini merupakan kesempatan berharga untuk mempelajari lebih jauh siklus hidup spesies ini. Saya berharap keberhasilan ini dapat membantu upaya konservasi,” kata seorang staf Kebun Binatang Chausuyama.
Selain di Nagano, salamander Akaishi juga ditemukan di Prefektur Yamanashi, Shizuoka, dan Aichi. Hewan ini dapat tumbuh hingga sekitar 13 sentimeter, dengan tubuh berwarna cokelat gelap dan sebagian individu memiliki bintik-bintik putih kecil.
Kebun Binatang Chausuyama telah memelihara salamander Akaishi sejak 2014. Setelah bertahun-tahun melakukan pemeliharaan, keberhasilan mengumpulkan telur yang telah dibuahi pada Juli menjadi langkah penting hingga akhirnya 16 anakan berhasil menetas pada September.
Saat ini, seluruh anakan salamander tersebut dirawat di rumah sakit hewan milik kebun binatang. Pihak pengelola berencana memperkenalkan satwa langka itu kepada pengunjung pada masa mendatang.
Keberhasilan ini diharapkan tidak hanya memperluas pengetahuan mengenai biologi salamander Akaishi, tetapi juga menjadi bekal penting dalam merancang langkah konservasi untuk menjaga kelangsungan hidup spesies tersebut di alam liar. (*)
Editor : Jamil Qasim