Sandera 13 Anak di Brasil, Pelaku Ancam Bakar Ruangan dengan Bensin

JawaPos • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:40 WIB
Ilustrasi penyekapan. (Istimewa)
Ilustrasi penyekapan. (Istimewa)

batampos – Aksi penyanderaan terjadi di sebuah taman kanak-kanak di Curitiba, Brasil selatan, Jumat (9/10). Seorang pria menyandera 13 anak dan sejumlah staf sekolah. Situasi semakin mencekam setelah pelaku mengancam membakar ruangan dengan bensin yang dituangkan ke tubuhnya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Polisi akhirnya mengakhiri penyanderaan melalui operasi taktis yang menewaskan pelaku. Seluruh anak yang disandera berhasil diselamatkan tanpa dilaporkan adanya korban jiwa dari kalangan sandera.

Pemerintah Kota Curitiba menyatakan anak-anak dan staf sekolah yang terdampak akan mendapatkan pendampingan psikologis untuk membantu mereka mengatasi tekanan emosional setelah insiden tersebut.

Juru bicara Kepolisian Negara Bagian Paraná, Leticia Martins, menjelaskan pelaku masuk ke sekolah CMEI São Braz dengan melompati tembok. Setelah menerobos ruang kelas, pria tersebut menyandera anak-anak dan sejumlah staf sekolah.

“Pelaku juga mengancam akan menuangkan bensin ke dirinya sendiri dan orang lain. Tim negosiasi kami sudah berada di lokasi, tetapi mereka tidak melihat pilihan lain selain melumpuhkannya,” kata Martins, dikutip dari AP News.

Polisi belum mengungkap identitas pelaku maupun motif di balik aksi penyanderaan tersebut. Rincian mengenai bagaimana pelaku tewas juga belum dijelaskan secara terbuka.

Ancam Bakar Ruangan

Situasi semakin berbahaya ketika pelaku menuangkan cairan berbau seperti bensin ke dalam ruang kelas. Ia berulang kali mengancam akan menyulut api, sehingga keselamatan anak-anak dan staf sekolah berada dalam ancaman serius.

Selain mengancam para sandera, pelaku juga mengancam menyiramkan bensin ke tubuhnya sendiri. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran, terlebih para korban berada di ruang tertutup dan berdekatan dengan pelaku.

Polisi pun harus mempertimbangkan keselamatan seluruh sandera saat menentukan langkah penanganan. Setelah proses negosiasi berlangsung, petugas akhirnya melakukan intervensi taktis untuk menghentikan ancaman tersebut.

Komandan kepolisian setempat, Alexandre Lopes Dias, mengatakan petugas berupaya memasuki ruang kelas dengan pendekatan taktis untuk meminimalkan risiko terhadap anak-anak.

“Kami memasuki ruang kelas dengan pendekatan yang sangat taktis, dengan risiko yang kecil bagi anak-anak,” ujar Dias kepada wartawan.

Negosiasi Berlangsung Lebih dari Dua Jam

Proses penyanderaan berlangsung lebih dari dua jam. Selama periode tersebut, tim negosiasi berupaya mencari jalan keluar agar anak-anak dapat dibebaskan dengan selamat.

Namun, ancaman pembakaran menggunakan bensin membuat situasi semakin genting. Pelaku juga dilaporkan membawa pisau saat menyandera anak-anak.

Di luar sekolah, sejumlah orang tua terlihat menangis dan menunggu kabar mengenai keselamatan anak-anak mereka. Mereka berkumpul di sekitar lokasi ketika polisi masih berupaya menyelesaikan negosiasi.

Menjelang berakhirnya operasi, terdengar dua kali suara ledakan. Setelah itu, petugas terlihat keluar dari bangunan sambil membawa sejumlah anak.

Polisi tidak merinci bagaimana pelaku akhirnya dilumpuhkan. Meski demikian, operasi tersebut berhasil mengakhiri penyanderaan dan menyelamatkan seluruh anak yang berada dalam penguasaan pelaku.

Anak-anak Mendapat Pendampingan Psikologis

Pemerintah Kota Curitiba memastikan anak-anak dan staf sekolah yang terdampak akan mendapatkan dukungan psikologis. Pendampingan tersebut diperlukan untuk membantu mereka menghadapi tekanan emosional setelah mengalami situasi yang mengancam keselamatan jiwa.

Sebelum penyanderaan berlangsung, sejumlah siswa lainnya dilaporkan telah meninggalkan sekolah dengan selamat. Aparat juga melakukan pengamanan di lingkungan sekolah selama proses penanganan berlangsung.

Curitiba merupakan kota berpenduduk sekitar 1,8 juta jiwa di Brasil selatan, sekitar 400 kilometer dari São Paulo. Penyanderaan tersebut terjadi di kawasan São Braz, yang merupakan salah satu wilayah permukiman di kota itu. (*)

Editor : Jamil Qasim
Sandera 13 Anak di Brasil Ancam bakar ruangan