Larry Ellison Punya 8 Rumah untuk Staf, Zuckerberg Borong 11 Rumah Tetangga

jpg • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:34 WIB
Pendiri Oracle, Larry Ellison, membeli sejumlah properti di Florida untuk tempat tinggal staf keluarganya (Fortune)
Pendiri Oracle, Larry Ellison, membeli sejumlah properti di Florida untuk tempat tinggal staf keluarganya (Fortune)

batampos - Bagi miliarder teknologi, membeli rumah mewah terkadang bukan akhir dari investasi properti. Sebagian dari mereka membeli rumah tambahan di lingkungan yang sama untuk menampung staf keluarga, menjaga orang-orang yang membantu kebutuhan sehari-hari tetap dekat tanpa mengorbankan privasi.
Praktik tersebut terlihat pada pendiri Oracle, Larry Ellison, dan CEO Meta, Mark Zuckerberg. Namun, ketika satu keluarga menguasai banyak rumah dalam satu kawasan, kebutuhan privasi pemilik dapat bersinggungan dengan kenyamanan warga sekitar.

Dilansir dari Fortune, Rabu (14/10/2026), Ellison yang kekayaannya diperkirakan mencapai USD 195 miliar membeli delapan rumah di Palm Meadows Estates, Boynton Beach, Florida, pada 2023. Nilai transaksinya hampir USD 10 juta atau sekitar Rp178,9 miliar, dengan asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS.

Rumah-rumah tersebut diperuntukkan bagi staf keluarga, termasuk tutor untuk lima anaknya bersama sang istri, Jolin Ellison. Kawasan berpagar itu berjarak sekitar 30 menit dari kediaman tepi laut Ellison di Manalapan.

Investasi properti Larry Ellison tembus Rp8 triliun

Pembelian delapan rumah itu menambah portofolio properti Ellison di Florida. Pada 2022, ia membeli properti tepi laut senilai USD 173 juta atau sekitar Rp3,09 triliun. Transaksi tersebut saat itu tercatat sebagai penjualan rumah termahal yang pernah terjadi di Florida.

Menurut laporan yang dikutip Fortune, total investasi Ellison di Manalapan diperkirakan mencapai sedikitnya USD 450 juta atau sekitar Rp8,05 triliun.
The Wall Street Journal melaporkan, pengaturan tempat tinggal bagi staf memungkinkan mereka berada cukup dekat untuk membantu kebutuhan keluarga, sementara Ellison dan keluarganya tetap memiliki privasi.

Praktik ini juga mencerminkan tren di kalangan orang superkaya yang berusaha menjaga kerahasiaan kepemilikan properti. Sejumlah eksekutif teknologi dan kecerdasan buatan menggunakan perusahaan berbadan hukum atau limited liability company (LLC), perwalian privasi, serta penawaran tertutup yang tidak dipasarkan secara luas.

Ken DeLeon, pendiri DeLeon Realty, mengatakan kepada Fortune bahwa struktur LLC dapat mempersulit orang yang menelusuri catatan kepemilikan untuk menghubungkan sebuah properti dengan pemilik sebenarnya.

Sementara itu, agen properti mewah Jessica Julian menilai pengaturan khusus semacam itu kini menjadi bagian dari kebutuhan operasional bisnis di kawasan tersebut.

Mark Zuckerberg menghabiskan Rp1,97 triliun untuk 11 rumah

Di California, Zuckerberg membangun kompleks hunian keluarga di Crescent Park, Palo Alto. Sejak membeli rumah seluas sekitar 520 meter persegi di Edgewood Drive pada 2011, ia dilaporkan telah menghabiskan lebih dari USD 110 juta atau sekitar Rp1,97 triliun untuk sedikitnya 11 rumah.

Laporan The New York Times menyebut Zuckerberg terkadang menawarkan harga dua hingga tiga kali lipat dari nilai rumah yang ingin dibelinya.

Sejumlah properti tersebut dibiarkan kosong, sedangkan rumah lainnya digunakan untuk menampung tamu atau menggelar acara. Salah satu properti bahkan pernah digunakan sebagai sekolah privat yang melanggar aturan kota.

Cara Zuckerberg mengelola pembiayaan rumahnya turut menggambarkan strategi keuangan orang-orang dengan kekayaan sangat besar. Pada 2012, ia membiayai ulang hipotek rumahnya dengan tenor 30 tahun dan suku bunga variabel awal 1,05 persen.

Miltiadis Kastanis, eksekutif penjualan Compass, menjelaskan bahwa orang dengan kekayaan sangat tinggi memiliki cara pandang berbeda terhadap likuiditas dan utang.

Menurut dia, mereka dapat memilih mempertahankan uang agar tetap menghasilkan melalui investasi, bisnis, atau aset lain, termasuk karya seni, daripada mengikat seluruh dana dalam satu properti.

Kompleks rumah Zuckerberg memicu ketegangan warga

Meski memiliki alasan privasi dan kebutuhan keluarga, ekspansi properti Zuckerberg tidak lepas dari persoalan dengan masyarakat sekitar.
Pengacara Zuckerberg mengatakan keluarga itu mengatur taksi dan layanan transportasi daring bagi staf. Mereka juga membayar seseorang untuk memastikan orang-orang yang berkaitan dengan properti hanya memarkir kendaraan di depan rumah milik Zuckerberg.

Ketika pembangunan menimbulkan kebisingan, stafnya bahkan membagikan sejumlah hadiah kepada warga, termasuk headphone peredam bising.
Juru bicara Zuckerberg mengatakan kepada Fortune bahwa Mark, Priscilla, dan anak-anak mereka telah menjadikan Palo Alto sebagai rumah selama lebih dari satu dekade.

Keluarga tersebut, menurut juru bicara itu, menghargai keberadaan mereka sebagai bagian dari komunitas dan telah mengambil sejumlah langkah yang melampaui persyaratan setempat untuk mengurangi gangguan di lingkungan sekitar.

Persoalan tersebut turut masuk ke ranah kebijakan pemerintah kota. Pada April 2026, Dewan Kota Palo Alto menolak usulan yang menyasar pemilik lebih dari tiga properti dalam satu blok.

Rencana itu mencakup pembatasan durasi pembangunan, kewajiban lisensi bagi petugas keamanan, serta persyaratan hunian. Penolakan tersebut memperlihatkan tantangan pemerintah kota dalam menyeimbangkan hak kepemilikan pribadi dengan dampak aktivitas pemilik properti terhadap lingkungan.

Michael Kieschnick, warga setempat, menyampaikan kekhawatirannya kepada Palo Alto Online bahwa praktik serupa dapat menyebar ke kawasan lain.

"Apa yang terjadi di lingkungan kami bisa menjadi pola yang mudah diikuti orang lain," ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ekspansi properti miliarder bukan semata-mata persoalan investasi atau kebutuhan tempat tinggal. Ketika banyak rumah terkonsentrasi di tangan satu keluarga, aktivitas pembangunan, lalu lintas, parkir, hingga penggunaan kawasan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya. (*)

Editor : Putut Ariyo
Mark Zuckerberg Larry Ellison properti mewah miliarder teknologi pasar properti AS