Trump Prediksi Perang Iran Segera Berakhir, Harga Minyak Bakal Anjlok

jpg • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:31 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Ankara, Turkiye, (8/7/2026). (ANTARA/Anadolu/Binnur Ege Gurun Kocak)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Ankara, Turkiye, (8/7/2026). (ANTARA/Anadolu/Binnur Ege Gurun Kocak)

batampos - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperkirakan perang dengan Iran akan segera berakhir. Ia juga memprediksi harga minyak dunia bakal anjlok tajam setelah konflik mereda, meski Iran masih mempertahankan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak internasional.

“Perang dengan Iran akan berakhir segera, segera, seperti yang mereka inginkan. Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir dan harga minyak akan anjlok drastis,” kata Trump kepada wartawan di Montana, seperti dilansir Antara, Kamis (15/10) petang.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya AS mengakhiri konflik dengan Iran. Namun, Trump mengaku belum mengetahui siapa pejabat Iran yang akan menjadi mitra negosiasi untuk membahas penghentian perang.

Saat berpidato dalam sebuah kampanye di Montana, Trump juga mengeklaim kemampuan militer Iran telah melemah akibat operasi militer AS. Menurut dia, Iran yang sebelumnya memiliki pengaruh militer kuat di Timur Tengah kini tidak lagi berada dalam posisi yang sama.

“Mereka tidak punya angkatan laut. Mereka tidak punya angkatan udara. Angkatan darat mereka hancur lebur. Para pemimpin mereka sudah tiada. Seharusnya saya membiarkan para pemimpin mereka tetap hidup, karena saya tidak tahu dengan siapa sebenarnya kami bernegosiasi,” ujar Trump.

“Iran dulunya adalah pengganggu di Timur Tengah,” katanya.

Trump turut mengeklaim serangan AS telah menghancurkan armada laut Iran dan melumpuhkan pesawat-pesawat militernya. Ia menyebut Iran sebelumnya memiliki 159 kapal perang, tetapi kini tidak ada satu pun yang masih beroperasi.

“Mereka dulu kuat. Sekarang, mereka tidak sekuat itu lagi. Saya bilang, kami telah menghancurkannya, tetapi mereka memang memiliki tepat 159 kapal. Berapa banyak kapal yang kini tergeletak di dasar laut? Ya, 159,” kata Trump.

Ia juga mengklaim Iran memiliki 274 pesawat tempur, tetapi seluruhnya tidak dapat digunakan karena hancur di landasan pacu. Klaim mengenai kehancuran armada militer Iran tersebut belum disertai verifikasi independen dalam bahan yang tersedia.

Iran Masih Batasi Pelayaran di Selat Hormuz

Di tengah prediksi Trump mengenai berakhirnya perang, Iran menegaskan bahwa setiap kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz harus berkoordinasi dengan angkatan bersenjata negara tersebut. Teheran menyatakan masih mengelola dan mengawasi jalur pelayaran strategis itu di tengah konflik yang berlangsung.

Wakil Kepala Bidang Koordinasi Angkatan Bersenjata Iran Laksamana Muda Habibollah Sayyari mengatakan penutupan Selat Hormuz masih diberlakukan. Kondisi tersebut berdampak terhadap distribusi minyak dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di AS.

Pernyataan itu disampaikan Sayyari kepada wartawan pada Kamis (15/10), di sela-sela upacara penghargaan bagi perawat kesehatan militer, seperti dilansir Antara.

Menurut Sayyari, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) berjaga di bagian barat Selat Hormuz. Sementara itu, Angkatan Darat Iran beroperasi di bagian timur hingga wilayah utara yang mengarah ke Laut Oman.

Sayyari kembali mengingatkan bahwa kapal yang hendak melintasi selat tersebut harus berkoordinasi dengan pihak Iran. Jika prosedur itu tidak dipenuhi, militer Iran dapat mengambil tindakan.

Ia mengatakan kelancaran pelayaran akan membantu memulihkan distribusi minyak dan menekan harga BBM di AS maupun negara lain. Namun, Iran masih mempertahankan pembatasan lalu lintas kapal di jalur tersebut.

Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi menghambat pasokan energi dan memengaruhi pergerakan harga minyak internasional.

Karena itu, meskipun Trump memperkirakan perang segera berakhir, pembatasan pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi salah satu faktor yang membayangi prospek pemulihan distribusi energi global.

Organisasi HAM Desak AS Hentikan Dukungan Militer ke Israel

Di tengah konflik kawasan, sejumlah organisasi hak asasi manusia (HAM) di AS mendesak anggota Kongres menekan pemerintah untuk menghentikan dukungan terhadap operasi militer Israel.

Desakan tersebut muncul setelah beredarnya rekaman yang memperlihatkan seorang perempuan Palestina terbakar di dalam rumahnya di Kota Gaza, sementara putrinya yang masih kecil terjebak di tengah kobaran api.

Video yang beredar luas di AS itu memperlihatkan kondisi setelah serangan Israel terhadap sebuah apartemen di Kota Gaza. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya seorang perempuan Palestina, sementara warga setempat berupaya menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalam bangunan.

Organisasi HAM menilai rekaman tersebut menggambarkan penderitaan warga sipil Palestina. Mereka mempertanyakan kelanjutan dukungan AS kepada Israel di tengah laporan jatuhnya korban dari kalangan perempuan dan anak-anak.

Mereka mendesak anggota DPR dan Senat AS mengecam serangan tersebut, menyerukan penghentian dukungan AS terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza, serta meminta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pelanggaran terhadap warga sipil diadili.

Perkembangan tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah AS di tengah konflik yang melibatkan Iran dan Israel.

Di satu sisi, Trump menyatakan perang dengan Iran akan segera berakhir dan memperkirakan harga minyak dunia turun tajam. Di sisi lain, Iran masih mempertahankan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, sementara serangan di Gaza terus memicu desakan internasional terhadap kebijakan AS di kawasan.

Kepastian berakhirnya konflik, normalisasi pelayaran di Selat Hormuz, dan pemulihan distribusi minyak dunia masih bergantung pada perkembangan situasi serta langkah diplomatik dan militer pihak-pihak yang terlibat. (*)

Editor : Putut Ariyo
konflik Timur Tengah selat hormuz harga minyak dunia donald trump perang iran