Houthi Gempur Yaman dan Arab Saudi, Timur Tengah Kian Panas

JawaPos • Dipublikasikan Jumat, 16 Oktober 2026 | 13:31 WIB
Asap mengepul dari kompleks istana kepresidenan setelah serangan Houthi di Aden, Yaman, pada hari Kamis (15/10). (Reuters).
Asap mengepul dari kompleks istana kepresidenan setelah serangan Houthi di Aden, Yaman, pada hari Kamis (15/10). (Reuters).

batampos – Konflik bersenjata di Yaman kembali memanas. Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal ke kompleks Istana Kepresidenan Al-Maashiq di Aden, ibu kota sementara Yaman, Kamis (15/10). Sedikitnya lima orang tewas dan 16 lainnya terluka dalam serangan yang menyasar pusat komando pasukan pemerintah dan koalisi pimpinan Arab Saudi tersebut.

Serangan itu memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah. Arab Saudi langsung menuding Iran berada di balik meningkatnya agresivitas kelompok Houthi yang selama ini mendapat dukungan Teheran.

Menteri Kesehatan Yaman Qasim Buhaibeh mengatakan, korban tewas dan luka-luka merupakan petugas keamanan yang berjaga di kompleks istana serta pegawai sipil yang bekerja di lokasi tersebut.

Seorang jurnalis AFP melaporkan kepulan asap membubung dari kawasan istana setelah serangkaian ledakan mengguncang Aden. Warga setempat juga mengaku mendengar sejumlah ledakan keras ketika serangan berlangsung.

Insiden tersebut menjadi serangan pertama terhadap kompleks Al-Maashiq sejak perang saudara di Yaman kembali berkobar pada Juli lalu.

Seorang menteri pemerintah Yaman yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, sedikitnya lima rudal diluncurkan Houthi ke kompleks istana.

Tiga rudal menghantam pusat komando pasukan pemerintah Yaman, sedangkan dua lainnya diarahkan ke pusat komando koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Pejabat tersebut menyebut serangan juga menimbulkan korban di pihak Yaman dan Arab Saudi. Namun, jumlah korban dari masing-masing pihak belum dirinci.

Sementara itu, media yang berafiliasi dengan Houthi mengklaim serangan tersebut menargetkan markas operasi militer yang dipimpin perwira Arab Saudi serta gudang persenjataan pasukan koalisi di kompleks istana.

Perdana Menteri Yaman Shaya al-Zindani mengecam keras serangan tersebut. Melalui media sosial X, ia menyebut tindakan Houthi sebagai aksi pengecut yang kembali mengancam keselamatan warga sipil.

Al-Zindani diketahui berada di kompleks istana ketika serangan terjadi. Namun, pejabat pemerintah memastikan perdana menteri selamat dan tidak mengalami cedera.

Kompleks Al-Maashiq merupakan salah satu pusat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Kawasan tersebut juga menjadi lokasi aktivitas pasukan pemerintah dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi.

Arab Saudi Tuding Iran

Serangan terhadap istana kepresidenan semakin memperuncing ketegangan antara Arab Saudi dan Iran.

Riyadh menuding Teheran mendorong kelompok Houthi meningkatkan serangan sekaligus terus memberikan dukungan persenjataan dan pelatihan militer.

Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi untuk Diplomasi Publik, Rayed Krimly, mengatakan negaranya masih membuka jalur komunikasi dengan Iran. Namun, Teheran dinilai belum menunjukkan kesediaan untuk berkompromi.

"Kami menilai eskalasi yang dilakukan Houthi pada tahap terbaru konflik ini didorong oleh Iran," ujar Krimly.

Menurutnya, Arab Saudi sebelumnya telah mengundang perwakilan Houthi untuk melakukan perundingan di Muscat, Oman, pada Juli lalu. Namun, kelompok tersebut menolak undangan itu.

Tudingan tersebut berpotensi kembali merenggangkan hubungan diplomatik Riyadh dan Teheran yang sempat membaik setelah kedua negara menyepakati pemulihan hubungan melalui mediasi Tiongkok pada 2023.

Ketegangan terbaru juga terjadi di tengah meluasnya konflik Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu.

Serangan Meluas ke Arab Saudi

Selain menggempur kompleks istana di Aden, Houthi dilaporkan meningkatkan serangan terhadap sejumlah sasaran strategis di Arab Saudi.

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat sejumlah drone yang diarahkan ke wilayah selatan negara tersebut, termasuk Kota Khamis Mushait.

Sementara itu, pasukan pemerintah Yaman melaporkan serangan rudal balistik Houthi ke Kota Marib, wilayah strategis di Yaman tengah yang dikenal kaya sumber daya minyak.

Juru bicara koalisi Arab Saudi, Turki al-Malki, mendesak Houthi segera menghentikan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur vital.

Sasaran yang menjadi perhatian meliputi bandara, pelabuhan, fasilitas minyak, hingga sejumlah objek strategis lainnya.

Al-Malki menuding kelompok tersebut terus mengembangkan kemampuan militernya dengan dukungan pihak regional.

Persenjataan Houthi kini disebut mencakup rudal balistik, drone serang, drone bunuh diri, hingga kapal cepat bermuatan bahan peledak.

Koalisi Arab Saudi bahkan mengklaim Houthi telah menyerang Bandara Internasional Riyadh sebanyak 20 kali sepanjang Oktober.

Salah satu serangan pada Sabtu lalu dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai sekitar 300 lainnya. Insiden itu disebut sebagai serangan paling mematikan yang dialami Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.

Rangkaian serangan tersebut juga mulai menguji ketahanan infrastruktur dan keamanan ekonomi Arab Saudi.

Menteri Energi Arab Saudi sebelumnya mengakui meningkatnya serangan menjadi tantangan serius bagi perlindungan fasilitas strategis negara.

Situasi keamanan yang memburuk dikhawatirkan mengganggu aktivitas ekonomi dan agenda internasional di Riyadh, termasuk konferensi investasi yang biasanya dihadiri pemimpin negara dan pelaku bisnis global.

Krisis Kemanusiaan Terancam Memburuk

Konflik Yaman telah berlangsung lebih dari satu dekade sejak kelompok Houthi berhadapan dengan pemerintah yang diakui secara internasional.

Arab Saudi kemudian memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintah Yaman sejak 2015.

Setelah gencatan senjata yang bertahan selama beberapa tahun runtuh, pertempuran kembali meningkat. Houthi melancarkan ofensif dan memperluas penguasaan wilayah, termasuk sejumlah kawasan strategis di sepanjang pesisir Laut Merah.

Upaya pasukan pemerintah Yaman untuk merebut kembali wilayah tersebut dengan dukungan serangan udara Arab Saudi sejauh ini belum berhasil membalikkan keadaan.

Eskalasi terbaru tidak hanya meningkatkan risiko konflik regional, tetapi juga mengancam keselamatan jutaan warga sipil.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya menyebut perang berkepanjangan di Yaman telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Sebagian besar penduduk masih bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Meningkatnya serangan rudal dan pertempuran dikhawatirkan semakin menghambat distribusi bantuan, memperburuk kondisi ekonomi, serta menambah penderitaan masyarakat yang telah bertahun-tahun hidup di tengah konflik. (*)

Editor : Jamil Qasim
konflik Timur Tengah Houthi