Iran Perketat Selat Hormuz, Pasokan Energi dan Ketahanan Pangan Dunia Terancam

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:47 WIB
Selat Hormuz. Washington telah menyampaikan sejumlah usulan melalui mediator setelah Teheran mengajukan peta jalan tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz. (Al-Jazeera)
Selat Hormuz. Washington telah menyampaikan sejumlah usulan melalui mediator setelah Teheran mengajukan peta jalan tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz. (Al-Jazeera)

batampos - Iran menegaskan tetap mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Setiap kapal yang hendak melintasi jalur laut strategis tersebut diwajibkan berkoordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.

Kebijakan ini menjadi perhatian dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG). Gangguan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi menghambat distribusi energi, meningkatkan harga bahan bakar, hingga memperbesar risiko terhadap ketahanan pangan global.

Wakil Kepala Bidang Koordinasi Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, mengatakan pengawasan di Selat Hormuz dilakukan oleh sejumlah unsur militer Iran.

Menurut Sayyari, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bertugas di bagian barat selat. Sementara itu, Angkatan Darat Iran beroperasi di bagian timur hingga wilayah utara yang mengarah ke Laut Oman.

Pernyataan tersebut disampaikan Sayyari kepada wartawan pada Kamis (15/10), di sela-sela upacara penghargaan bagi perawat kesehatan militer, sebagaimana dilansir Antara.

Sayyari menegaskan, kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz harus berkoordinasi dengan pihak Iran. Jika ketentuan tersebut tidak dipenuhi, militer Iran dapat mengambil tindakan.

Ia juga menyatakan bahwa kelancaran pelayaran di jalur tersebut akan membantu memulihkan distribusi minyak dan menekan harga bahan bakar minyak (BBM), baik di Amerika Serikat (AS) maupun negara lain.

Selat Hormuz Jadi Kunci Pasokan Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis dalam perdagangan energi global. Jalur ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi lintasan utama pengiriman minyak serta LNG dari negara-negara produsen di kawasan Teluk.

Karena perannya tersebut, setiap gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz dapat memengaruhi rantai pasok energi internasional.

Ketidakpastian distribusi berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, mendorong kenaikan harga minyak, dan menambah tekanan terhadap negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Dampaknya juga dapat meluas ke sektor lain. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi industri, serta pengolahan dan distribusi pangan.

FAO Peringatkan Risiko terhadap Ketahanan Pangan

Ancaman terhadap pasokan energi bukan satu-satunya persoalan yang perlu diwaspadai. Gangguan pelayaran di Selat Hormuz juga berpotensi memperburuk risiko terhadap produksi pertanian dan ketahanan pangan dunia, terutama jika terjadi bersamaan dengan fenomena El Niño.

Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Maximo Torero, memperingatkan bahwa kedua faktor tersebut dapat saling memperkuat dampaknya terhadap sektor pertanian.

“Pesan utamanya adalah bahwa risiko-risiko ini dapat saling memperkuat satu sama lain,” kata Torero, Jumat (16/10).

Menurut data FAO yang dirujuk dalam laporan tersebut, gangguan pelayaran dapat memperbesar risiko produksi pertanian yang berkaitan dengan El Niño.

Kombinasi kedua faktor itu berpotensi memicu kenaikan harga komoditas sekaligus mengurangi ketersediaan pasokan. Namun, besarnya dampak terhadap produksi dan harga pangan akan bergantung pada tingkat gangguan pelayaran, kondisi cuaca, serta kemampuan negara-negara produsen dan konsumen mengantisipasi perubahan pasokan.

Gangguan Energi Bisa Menambah Tekanan Harga Pangan

Keterkaitan antara energi dan pangan membuat perkembangan di Selat Hormuz penting untuk dicermati. Energi dibutuhkan dalam berbagai tahapan produksi pertanian, mulai dari pengoperasian mesin, irigasi, transportasi, hingga pembuatan pupuk.

Apabila gangguan pelayaran mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik, beban produksi pertanian juga berpotensi meningkat. Pada saat yang sama, El Niño dapat mengganggu pola curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah pertanian.

Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap harga pangan, terutama apabila gangguan produksi terjadi di negara-negara pemasok utama.

Meski demikian, dampak terhadap ketahanan pangan global tidak akan seragam. Kondisi cuaca setempat, tingkat ketergantungan terhadap impor, cadangan pangan, dan kebijakan perdagangan masing-masing negara turut menentukan besarnya risiko.

Perkembangan di Selat Hormuz pun tidak hanya menyangkut kepentingan energi dan keamanan kawasan. Kelancaran jalur pelayaran tersebut juga berkaitan dengan biaya produksi, perdagangan internasional, dan kemampuan negara-negara menjaga kestabilan pasokan pangan. (*)

Editor : Putut Ariyo
FAO selat hormuz ketahanan pangan harga minyak dunia iran