batampos – Inggris menyiapkan dana lebih dari 60 juta pound sterling atau sekitar Rp1,43 triliun untuk membersihkan sampah antariksa menggunakan wahana robotik. Misi yang dijadwalkan meluncur pada 2029 itu akan menyingkirkan dua satelit mati dari orbit Bumi untuk mengurangi risiko tabrakan yang mengancam satelit aktif dan berbagai layanan penting.
Dilansir dari The Times, Jumat (16/10), program bernama UK Active Debris Removal (UK ADR) tersebut akan menggunakan wahana yang dilengkapi lengan robotik dan dirancang dapat diisi ulang bahan bakarnya.
Wahana itu bertugas mendekati dan menangkap dua satelit yang sudah tidak berfungsi, kemudian memindahkannya ke orbit yang lebih rendah. Dengan begitu, kedua objek tersebut diharapkan memasuki atmosfer dan terbakar secara alami.
Pemerintah Inggris menyebut misi ini dirancang untuk menyingkirkan lebih dari satu satelit dalam satu program pembersihan menggunakan metode tersebut. Selain mengurangi jumlah puing di orbit, proyek ini diharapkan membuka jalan bagi pengembangan wahana antariksa yang dapat digunakan kembali.
Sampah Antariksa Ancam Satelit dan Komunikasi
Ancaman sampah antariksa jauh melampaui dua satelit yang menjadi sasaran misi tersebut. Ratusan ribu objek puing diperkirakan bergerak di orbit dengan kecepatan mencapai lebih dari 27.000 kilometer per jam.
Dalam kecepatan setinggi itu, serpihan berukuran relatif kecil sekalipun dapat merusak satelit yang masih beroperasi. Tabrakan juga berpotensi menghasilkan puing baru yang meningkatkan risiko bagi objek lain di orbit.
Dampaknya bisa menjalar ke berbagai layanan yang bergantung pada satelit, mulai dari sistem navigasi seperti GPS, prakiraan cuaca, hingga komunikasi. Gangguan terhadap infrastruktur antariksa juga berpotensi memengaruhi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional.
Karena itu, peluncuran satelit pengganti saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan sampah antariksa. Pembersihan objek yang sudah tidak berfungsi menjadi salah satu pendekatan yang semakin diperhatikan untuk menjaga keberlanjutan aktivitas di orbit Bumi.
Menteri Antariksa Inggris, Liz Lloyd, mengatakan negaranya ingin mengambil peran lebih besar dalam upaya global mengatasi persoalan tersebut.
“Sampah dan puing antariksa menimbulkan tantangan yang sangat besar dan terus meningkat. Namun, dengan keahlian yang kami miliki di dalam negeri, Inggris bertekad memimpin upaya global untuk membersihkan sampah antariksa,” ujarnya.
Menurut dia, misi tersebut akan membantu melindungi satelit yang menopang kehidupan modern sekaligus menjaga keamanan negara.
Misi Pembersihan Sampah Antariksa Diluncurkan pada 2029
Wahana UK ADR dijadwalkan meluncur dari SaxaVord Spaceport di Pulau Unst, Shetland, Skotlandia, pada 2029. Program tersebut menargetkan penyingkiran kedua satelit paling lambat pada 2032.
Sebelumnya, pemerintah Inggris telah mengalokasikan 30 juta pound sterling atau sekitar Rp715,5 miliar untuk mendukung pengembangan kemampuan peluncuran antariksa mandiri.
Badan Antariksa Inggris menggandeng ClearSpace UK sebagai mitra pelaksana dari sektor industri. Perusahaan tersebut akan terlibat dalam pengembangan teknologi yang dibutuhkan untuk mendekati, menangkap, dan memindahkan satelit yang menjadi sasaran.
Direktur Bersama Badan Antariksa Inggris, Alice Bunn, menegaskan bahwa sasaran program tidak terbatas pada pembersihan puing. Teknologi yang dikembangkan juga diharapkan mendukung berbagai aktivitas di orbit pada masa depan.
“Misi ini bukan hanya tentang menyingkirkan puing. Misi ini juga tentang mengembangkan kemampuan yang memungkinkan perawatan, perakitan, dan manufaktur di orbit pada masa depan,” katanya.
Kemampuan tersebut dapat menjadi fondasi bagi layanan perawatan satelit di orbit. Pada masa mendatang, satelit berpotensi diperbaiki atau diisi ulang bahan bakarnya tanpa harus selalu diganti dengan unit baru.
Wahana Robotik Harus Bisa Menangkap Satelit Mati
Salah satu tantangan utama misi UK ADR adalah menangkap objek yang sejak awal tidak dirancang untuk ditangani atau dipindahkan oleh wahana lain.
Direktur Pelaksana ClearSpace UK, Rob Atchison, mengatakan pengembangan misi akan melibatkan insinyur dan spesialis dari berbagai wilayah di Britania Raya, bersama mitra internasional.
“Langkah berikutnya adalah merancang, membangun, dan menguji wahana yang mampu mendekati objek secara aman, meskipun objek itu tidak pernah dirancang untuk ditangkap, lalu mengambil kendali atasnya,” ujarnya.
Proses tersebut membutuhkan teknologi robotika, navigasi, pengendalian wahana, serta sistem untuk memperkirakan pergerakan dan jarak objek secara akurat. Wahana harus mampu melakukan pendekatan dengan aman sebelum menangkap dan mengubah orbit satelit sasaran.
Jika berhasil, misi ini berpotensi menjadi langkah penting dalam pengembangan teknologi pembersihan sampah antariksa sekaligus membuka peluang bagi layanan perawatan satelit dan aktivitas industri di orbit Bumi. (*)
Editor : Putut Ariyo