batampos – Alarm penurunan kualitas literasi di Provinsi Kepulauan Riau mulai berbunyi keras. Dalam setahun terakhir, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di seluruh kabupaten/kota mengalami penurunan tajam.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tak ada satu pun daerah yang mampu bertahan dari tren penurunan tersebut.
Penurunan paling mencolok terjadi di Tanjungpinang. Jika pada 2024 skor literasi masih berada di angka 74,73, kini merosot tajam menjadi 18,65 pada 2025.
Baca Juga: Urus Dokumen Lebih Mudah, Warga Serbu Layanan Disdukcapil di Arena MTQH di Engku Putri
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah lain. Karimun turun dari 59,01 menjadi 10,1. Bintan dari 69,19 menjadi 6,1. Natuna dari 74,48 menjadi 10,91. Lingga dari 69,14 menjadi 10,23. Anambas dari 92,9 menjadi 14,24, sementara Batam turun dari 48,52 menjadi 12,36.
Penurunan drastis ini menandakan melemahnya budaya literasi di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kepri, M. Bisri, menilai perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi menjadi salah satu penyebab utama.
Menurutnya, kebiasaan membaca kini mulai tergeser oleh konsumsi konten digital yang belum tentu berkualitas.
“Banyak yang menghabiskan waktu di media sosial, tapi bukan untuk membaca secara mendalam,” ujarnya.
Baca Juga: Perang Iran–AS Bayangi Inflasi Batam, BPS Minta Waspada
Ia menegaskan, literasi tidak sekadar kemampuan membaca, melainkan juga kemampuan memahami dan mengolah informasi secara kritis.
Fenomena ini juga tercermin dari menurunnya kunjungan ke perpustakaan. Pada Januari 2025, jumlah pengunjung masih mencapai 43.039 orang. Namun, dua bulan kemudian, angkanya anjlok menjadi hanya 2.285 pengunjung.
Sepanjang 2025, total kunjungan perpustakaan, baik secara langsung maupun digital, tercatat 481.631 orang.
Sementara pada 2026, tren kunjungan belum menunjukkan pemulihan signifikan. Hingga April, jumlah tertinggi terjadi pada Januari dengan 4.787 pengunjung.
Kondisi ini menjadi peringatan bahwa akses informasi yang semakin mudah tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas literasi masyarakat.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Bayangi Ekonomi Batam
Jika tidak segera diantisipasi, penurunan ini dikhawatirkan akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Pemerintah daerah pun dituntut tidak hanya memperluas akses informasi, tetapi juga mendorong budaya membaca yang lebih berkualitas di tengah derasnya arus digitalisasi. (*)
Editor : M Tahang