Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

6 PLTS Komunal Sudah Beroperasi di Kepri

Antara • Minggu, 7 Juni 2026 | 21:01 WIB
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri, M. Darwin
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri, M. Darwin

batampos – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di wilayah kepulauan. Hingga pertengahan 2026, sebanyak enam unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal atau terpusat telah beroperasi dan melayani warga di sejumlah pulau yang belum terjangkau jaringan listrik PLN.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri, M. Darwin, mengatakan enam PLTS komunal tersebut tersebar di tiga daerah, yakni Kota Batam sebanyak tiga unit, Kabupaten Lingga dua unit, dan Kabupaten Karimun satu unit.

“PLTS komunal tersebar di Kota Batam tiga unit, lalu Kabupaten Lingga dua unit, dan Kabupaten Karimun satu unit,” kata Darwin saat dihubungi di Tanjungpinang, Minggu.

Menurut Darwin, pembangunan PLTS komunal dilakukan oleh PT PLN dengan fokus menyasar pulau-pulau terluar yang telah berpenghuni namun belum menikmati layanan listrik dari jaringan PLN.

Baca Juga:  Harga Avtur di Bandara Hang Nadim Batam Turun 10 Persen

Salah satu contoh penerapan PLTS komunal berada di Pulau Panjang, Kota Batam. Fasilitas tersebut mampu melayani kebutuhan listrik lebih dari 200 kepala keluarga (KK) yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses energi.

Ia menjelaskan setiap rumah tangga memperoleh alokasi daya listrik sekitar 1.000 kWh sehingga masyarakat perlu mengatur penggunaan listrik secara bijak agar pasokan tetap tersedia selama 24 jam.

“Warga perlu berhemat agar PLTS tetap menyala 1×24 jam. Pemakaian lampu, kipas angin hingga televisi harus diatur sedemikian rupa,” ujarnya.

Darwin menjelaskan sistem PLTS komunal yang digunakan di Kepri memanfaatkan bank baterai sebagai media penyimpanan energi. Teknologi ini bekerja secara off-grid atau tidak terhubung dengan jaringan listrik utama.

Pada siang hari, panel surya menyerap energi matahari dan menyimpannya ke dalam baterai. Energi yang tersimpan kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, terutama pada malam hari ketika panel surya tidak lagi menghasilkan energi.

Untuk mengantisipasi kondisi cuaca buruk yang dapat mengurangi produksi listrik dari panel surya, pemerintah juga menyiapkan pembangkit cadangan berupa mesin genset.

“Kami juga sudah menyiapkan mesin genset untuk penerangan warga pulau terluar apabila PLTS tidak bisa menyerap energi matahari saat cuaca mendung atau hujan di siang hari,” katanya.

Menurut Darwin, pemanfaatan PLTS merupakan bagian dari upaya mendukung target transisi energi global menuju Net Zero Emission dengan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta menekan emisi karbon.

Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan PLTS juga dinilai mampu menekan biaya operasional jangka panjang dibandingkan pembangkit berbasis bahan bakar minyak (BBM), meskipun membutuhkan investasi awal yang relatif besar untuk pengadaan panel surya dan sistem penyimpanan energi.

Baca Juga: Penerbitan Kartu Kuning di Batam Naik, Disnaker Catat 12.284 Pencari Kerja hingga Mei 2026

“PLTS efektif dalam mengurangi beban tagihan listrik dan lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Kepri bersama PLN akan terus memperluas pemanfaatan PLTS komunal melalui program Kepri Terang. Program tersebut difokuskan untuk meningkatkan akses listrik bagi masyarakat di wilayah pulau terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan pasokan energi.

Pengembangan PLTS di Kepulauan Riau juga sejalan dengan target pemerintah pusat dalam meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan serta mempercepat transisi menuju sistem energi nasional yang lebih bersih dan berkelanjutan. (*)

Editor : Putut Ariyo
#energi terbarukan #ESDM Kepri #PLTS Komunal #Kepri Terang #listrik pulau terluar