batampos – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai upaya menekan angka pengangguran. Salah satu langkah yang ditempuh yakni menggelar Pelatihan dan Sertifikasi Skema Tailor Made Training Las 4G FCAW, yang disesuaikan dengan kebutuhan industri di Batam.
Pelatihan yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kepri di Kings Hotel, Lubuk Baja, itu melibatkan sejumlah perusahaan besar sebagai mitra industri, di antaranya PT McDermott Indonesia, PT NOV Profab, PT Caterpillar Indonesia Batam, dan PT Sidma Teknik Solusi Indonesia.
Keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan mampu menjembatani kebutuhan dunia usaha dengan kompetensi tenaga kerja lokal sehingga lulusan pelatihan memiliki peluang lebih besar untuk langsung terserap ke dunia kerja.
Baca Juga: Perdana Beroperasi, SMP Negeri 005 Kelas Jauh Di Desa Tukul Disambut Warga
Kepala Disnakertrans Kepri, Diky Wijaya, mengatakan tantangan utama ketenagakerjaan saat ini bukan semata minimnya lapangan pekerjaan, melainkan masih adanya kesenjangan kompetensi antara pencari kerja dan kebutuhan industri.
"Upaya menurunkan angka pengangguran harus dimulai dengan membangun kompetensi masyarakat. Kebutuhan tenaga las bersertifikat 4G FCAW di sektor industri sangat besar, tetapi jumlah tenaga kerja yang memiliki kompetensi tersebut masih terbatas," kata Diky, Selasa (21/7).
Menurutnya, ijazah pendidikan formal kini tidak lagi menjadi satu-satunya syarat memasuki dunia kerja. Industri, khususnya sektor galangan kapal, fabrikasi, dan manufaktur berat di Batam, lebih membutuhkan tenaga kerja yang telah memiliki keterampilan dan sertifikasi sesuai standar pekerjaan.
Baca Juga: Sebanyak 317 Sepeda Motor Tak Bertuan di Polresta Barelang, Kini Ditumbuhi Semak
"Hari ini ijazah saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah upskilling, kompetensi, dan sertifikasi. Banyak perusahaan meminta tenaga kerja yang bisa langsung bekerja tanpa harus memulai pelatihan dari awal," ujarnya.
Diky menjelaskan, pelaksanaan program tersebut merupakan hasil komunikasi intensif antara pemerintah daerah dan pelaku industri. Dari berbagai pertemuan itu, diketahui bahwa rendahnya penyerapan tenaga kerja lokal salah satunya disebabkan belum terpenuhinya kompetensi yang dipersyaratkan perusahaan.
Karena itu, pelatihan dirancang dengan konsep tailor made training atau berbasis kebutuhan industri, sehingga materi yang diberikan selaras dengan standar kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Anggota Komisi IV DPRD Kepulauan Riau, Aman, menilai program pelatihan dan sertifikasi tersebut menjadi solusi untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal. Menurutnya, program itu tidak hanya menyasar pencari kerja, tetapi juga pekerja yang ingin meningkatkan kemampuan dan sertifikasinya.
"Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini, peserta bisa langsung terserap bekerja di perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga las bersertifikat," katanya.
Ia menambahkan, sejumlah perusahaan yang terlibat juga menyatakan komitmennya mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal. Menurut Aman, peluang kerja di sektor industri Batam dan Kepulauan Riau masih terbuka luas, asalkan didukung tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar.
"Tantangan kita bukan lagi mencari lowongan kerja, tetapi menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan, kompetensi, dan daya saing sesuai kebutuhan industri," ujarnya.
Aman menegaskan, DPRD Kepri bersama Disnakertrans akan terus mengarahkan dukungan anggaran pada program pelatihan berbasis kebutuhan industri. Dengan demikian, lulusan pelatihan tidak hanya memperoleh sertifikat kompetensi, tetapi juga memiliki peluang nyata untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor manufaktur, fabrikasi, dan galangan kapal yang terus berkembang di Batam. (*)
Editor : Jamil Qasim