Kepri Jadi Jalur Rawan Narkotika, Polisi Perkuat Pengawasan Berlapis

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:10 WIB
Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Syafrudin saat memberi sambutan dalam acara Coffee Morning bersama insan pers di Gedung Bhayangkari, Mapolda Kepri, Nongsa, kemarin. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Kapolda Kepri, Irjen Pol Asep Syafrudin. F Cecep Mulyana/Batam Pos

 
batampos -
Luasnya wilayah perairan dan posisi Kepulauan Riau (Kepri) yang berbatasan langsung dengan perairan internasional membuat jalur laut di provinsi tersebut menjadi salah satu celah yang rawan dimanfaatkan jaringan penyelundupan narkotika. Menghadapi kondisi itu, Polda Kepri memperkuat pengawasan melalui sinergi lintas lembaga hingga kerja sama dengan kepolisian Malaysia.

Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safrudin mengatakan, pengawasan wilayah perairan Kepri tidak mungkin dilakukan kepolisian seorang diri. Polda Kepri mengandalkan sinergi dengan TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Darat, Badan Keamanan Laut (Bakamla), Bea Cukai, dan Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Luasnya wilayah perairan dan posisi Kepri yang berhadapan dengan perairan internasional membuat pengawasan harus dilakukan secara berlapis,” ujarnya, Selasa (1/9).

Baca Juga: 800 Kg Ketamine Dibongkar di Perairan Anambas, WN Taiwan Jadi Tersangka

Polda Kepri juga mendapat dukungan dari satuan di tingkat pusat, termasuk Bareskrim Polri, BNN, serta Bea Cukai. Sinergi tersebut dilakukan untuk mendeteksi sekaligus mencegah masuknya narkotika melalui jalur laut.

Asep menyebut perairan Kepri merupakan salah satu kawasan yang rawan digunakan sebagai jalur masuk narkotika ke Indonesia. Karena itu, pengawasan tidak hanya dilakukan di laut, tetapi juga dengan membangun kewaspadaan masyarakat di wilayah pesisir.

Polisi terus mengingatkan masyarakat agar tidak tergoda menjadi kurir narkotika. Informasi masyarakat juga menjadi salah satu sumber penting bagi aparat untuk mendeteksi pergerakan jaringan penyelundupan.

“Beberapa kali jaringan-jaringan kami memberikan informasi tentang masuknya narkotika melalui pelabuhan-pelabuhan tikus,” ujarnya.

Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui operasi bersama. Sejumlah unsur, termasuk TNI AL, Bea Cukai, Polda Kepri, dan BNN, telah beberapa kali melakukan pengungkapan kasus narkotika di wilayah perairan Kepri.

Namun, menurut Asep, persoalan penyelundupan narkotika tidak hanya berkaitan dengan pengawasan wilayah Indonesia. Jalur perdagangan narkotika kerap melintasi batas negara sehingga kerja sama lintas negara menjadi bagian penting dalam pencegahannya.

 

Polda Kepri karena itu membangun komunikasi dengan Kepolisian Johor, Malaysia. Kerja sama tersebut mencakup pencegahan penyelundupan narkotika dan tindak pidana perdagangan orang.

Asep mengatakan delegasi Polda Kepri akan berangkat ke Johor pada Senin mendatang untuk memperkuat kerja sama tersebut. Dua bulan sebelumnya, Kepolisian Johor telah datang ke Kepri untuk membahas upaya pencegahan dua jenis kejahatan lintas negara tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa kami dari jajaran Polri dan Polda Kepri selalu berkolaborasi, selalu bekerja sama,” kata Asep.

Menurut dia, pola kerja sama dibangun dari berbagai tingkatan, mulai dari antarlembaga di Kepri, dukungan satuan di tingkat pusat, hingga hubungan antarkepolisian kedua negara.

Karena itu, upaya menutup celah penyelundupan membutuhkan lebih dari sekadar patroli. Pertukaran informasi, operasi bersama, dan kerja sama lintas batas menjadi bagian penting dalam menghadapi jaringan narkotika yang memanfaatkan jalur laut Kepri. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
jalur laut narkotika kejahatan lintas negara penyelundupan polda kepri