33 Sekolah Lansia Terbentuk di Kepri, Dorong Lansia Tetap Aktif dan Berdaya

Antara • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 19:05 WIB
Sekolah lansia Tok Dalang dan Opah di Pulau Buluh Batam, Kepri (30/7/2026). ANTARA/Amandine Nadja
Sekolah lansia Tok Dalang dan Opah di Pulau Buluh Batam, Kepri (30/7/2026). ANTARA/Amandine Nadja

batampos – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kepulauan Riau (Kepri) mencatat sebanyak 33 sekolah lansia telah terbentuk dan tersebar di seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Program ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan kelompok lanjut usia (lansia) yang tetap aktif, mandiri, produktif, dan berdaya.

Kepala BKKBN Kepri Victor Palimbong mengatakan sekolah lansia dikembangkan melalui program prioritas Lansia Berdaya (SIDAYA). Program tersebut memberikan edukasi sekaligus mendorong para lansia tetap beraktivitas sesuai kemampuan masing-masing.

“Sekolah lansia melakukan kegiatan selama 12 kali. Setelah 12 kali mereka diwisuda menjadi S1. Nanti kalau ada kelas lagi, para peserta bisa lanjut ke S2 dan S3,” ujar Victor saat dikonfirmasi di Batam, Rabu.

Dari 33 sekolah lansia tersebut, sebanyak 13 berada di Batam, enam di Karimun, lima di Bintan, empat di Natuna, dua di Lingga, dua di Tanjungpinang, dan satu di Kabupaten Kepulauan Anambas.

Setiap sekolah rata-rata memiliki sekitar 30 peserta. Dengan demikian, total peserta yang mengikuti program sekolah lansia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang.

“Untuk keberlanjutan ke jenjang berikutnya menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran pada masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) terkait,” katanya.

Sebelumnya, pada Juli 2026, sejumlah sekolah lansia mulai menjalankan kegiatan di Batam, di antaranya di Pulau Buluh dan Kecamatan Batam Kota.

Victor mengatakan program SIDAYA terus dikembangkan karena mendapat respons positif dari masyarakat. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada kesehatan lansia, tetapi juga mendorong mereka tetap produktif dan aktif dalam kegiatan sosial.

“Para lansia diberdayakan untuk misalkan bekerja atau melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan dia. Jadi itu spirit kita, mempersiapkan bonus demografi yang kedua mulai dari sekarang,” ujarnya.

Menurut Victor, pemberdayaan lansia menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.

Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah lansia di Kepri mencapai 178.824 jiwa.

Selain sekolah lansia, BKKBN Kepri juga mengembangkan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL). Program ini menjadi wadah bagi keluarga untuk mendapatkan pemahaman mengenai pendampingan dan pengasuhan anggota keluarga lanjut usia.

Melalui berbagai program tersebut, BKKBN Kepri mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung agar lansia tetap sehat, aktif, mandiri, dan produktif di tengah keluarga serta masyarakat.

Catatan: Saya membetulkan hitungan peserta. Jika 33 sekolah masing-masing sekitar 30 peserta, totalnya sekitar 990 peserta, sehingga lebih tepat ditulis sekitar 1.000 peserta, bukan 330 peserta.

Editor : Jamil Qasim
33 Sekolah Lansia Aktif dan Berdaya