batampos – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyiapkan bantuan 10 unit X-ray untuk Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) guna mempercepat penemuan kasus tuberkulosis (TBC) di daerah tersebut.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, 10 unit X-ray itu akan ditempatkan di puskesmas yang tersebar di kabupaten/kota se-Kepri. Pendistribusian alat tersebut direncanakan mulai Oktober 2026.
“Bantuan X-ray sudah kita (Kemenkes) salurkan ke 18 provinsi prioritas penanganan TBC di Indonesia, termasuk di Kepri dalam waktu dekat ini,” kata Benjamin saat melakukan kunjungan kerja di Kota Tanjungpinang, Jumat (11/9).
Menurut Benjamin, pemerintah secara bertahap menargetkan seluruh puskesmas di Indonesia memiliki fasilitas rontgen untuk mendukung deteksi penyakit TBC. Pengadaan alat tersebut juga akan diikuti dengan penempatan tenaga radiografer yang memiliki kompetensi dalam mengoperasikan peralatan pencitraan medis.
“Kemenkes akan menempatkan radiografer di puskesmas, karena percuma kalau ada X-ray, tapi tak ada yang mengoperasikannya,” ujarnya.
Selain bantuan peralatan rontgen, Kemenkes juga akan meningkatkan dukungan bagi kader TBC, termasuk menyiapkan anggaran bagi tenaga kesehatan yang melaksanakan layanan integrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan skrining TBC di Kepri.
Dukungan tersebut dinilai penting mengingat kondisi geografis Kepri yang merupakan daerah kepulauan. Sekitar 98 persen wilayah Kepri berupa lautan dengan gugusan pulau yang tersebar.
Benjamin menegaskan penanganan TBC di Kepri membutuhkan sinergi berbagai pihak sekaligus dukungan anggaran yang memadai. Pemerintah pusat, kata dia, siap membantu pembiayaan untuk memperkuat upaya penemuan kasus di daerah.
“Makanya, kita libatkan camat, lurah, kepala desa serta kader untuk meningkatkan temuan atau deteksi TBC di Kepri. Semuanya memang butuh biaya, Kemenkes siap dukung,” ucapnya.
Ia menyebutkan Kepri masih menjadi salah satu provinsi dengan capaian penemuan kasus TBC yang rendah secara nasional. Dari estimasi sekitar 13 ribu kasus TBC di Kepri, baru sekitar 7 ribu kasus yang berhasil ditemukan. Sisanya masih dalam proses pencarian dan pendeteksian.
Meski capaian penemuan kasus masih rendah, Benjamin mengapresiasi tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC di Kepri. Sebanyak 95 persen kasus yang ditemukan berhasil diobati hingga sembuh. Capaian tersebut bahkan termasuk yang tertinggi secara nasional.
“Perkara mengobati Kepri sudah hebat, kita akui itu. Persoalannya tingkat temuan kasus TBC masih rendah. Inilah yang harus kita kejar, temukan orang sakit TBC lalu diobati sampai sembuh,” ungkapnya.
Benjamin menambahkan, penanganan TBC menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Hal itu sejalan dengan posisi Indonesia yang masih menjadi salah satu negara dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia, setelah India. (*)
Editor : Jamil Qasim