Kabut Asap Memburuk, SMA/SMK dan SLB di Kepri Belajar dari Rumah

Antara • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 17:01 WIB
Kabut asap menyelimuti wilayah Kota Tanjungpinang, Kepri, Selasa (15/9/2026). ANTARA/Ogen
Kabut asap menyelimuti wilayah Kota Tanjungpinang, Kepri, Selasa (15/9/2026). ANTARA/Ogen

batampos – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengalihkan pembelajaran tatap muka siswa SMA/SMK dan SLB menjadi belajar dari rumah (BDR) mulai Selasa (15/9/2026).

Kebijakan tersebut diambil menyusul penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah Kepri akibat kabut asap. BDR akan berlangsung hingga kondisi udara membaik dan dinyatakan aman untuk kegiatan pembelajaran tatap muka.

"Belajar dari rumah ini dimulai 15 September 2026, sampai kondisi kualitas udara membaik dan dinyatakan aman," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri Misni di Tanjungpinang, Selasa.

Misni mengatakan kebijakan tersebut merupakan langkah pemerintah untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga sekolah, terutama siswa SMA/SMK dan SLB di seluruh kabupaten/kota di Kepri.

Berdasarkan laporan indeks kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kabupaten/kota, kondisi udara di sejumlah wilayah Kepri saat ini berada dalam kategori tidak sehat.

"Pelaksanaan belajar dari rumah akan dievaluasi secara berkala dengan memperhatikan perkembangan kualitas udara di Kepri," ujarnya.

Sekolah Diminta Tetap Pantau Siswa

Selama pelaksanaan BDR, kepala sekolah dan guru diminta tetap memantau proses pembelajaran serta berkoordinasi aktif dengan orangtua atau wali murid.

Sekolah juga diminta memastikan kehadiran dan aktivitas belajar siswa tetap terdokumentasi. Materi pembelajaran dan penugasan harus disusun secara terstruktur dengan mempertimbangkan kondisi serta keterbatasan akses siswa di masing-masing wilayah.

"Kepala sekolah harus melakukan supervisi, pemantauan, dan pelaporan secara berkala menyangkut belajar dari rumah, termasuk kualitas udara dan kesehatan warga sekolah ke Kepala Cabang Dinas Pendidikan maupun Kepala Dinas Pendidikan Kepri," kata Misni.

Ia juga meminta orangtua mendampingi dan mengawasi anak selama mengikuti pembelajaran dari rumah.

Selain itu, aktivitas anak di luar rumah perlu dibatasi untuk mengurangi paparan langsung kabut asap.

"Yang paling penting, pakai masker apabila keluar rumah, lalu jaga pola hidup bersih dan sehat, serta minum air putih yang cukup," ujarnya.

Asap dari Kalimantan Masih Berpotensi Masuk Kepri

Sementara itu, Kepala BMKG Tanjungpinang Ahmad Kosasih mengatakan kabut asap dari Kalimantan masih berpotensi masuk ke wilayah Kepri dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi tersebut dipengaruhi cuaca di Kepri yang didominasi cerah hingga berawan dengan peluang hujan relatif rendah. Kondisi ini dinilai belum cukup membantu mengurangi konsentrasi kabut asap.

Menurut Kosasih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan masih berlangsung. Pada saat yang sama, angin dari arah tenggara hingga selatan berpotensi membawa asap menuju wilayah Kepri.

"Selama di Kalimantan kondisinya masih terbakar cukup masif, itu akan tetap berdampak ke Kepri," kata Kosasih.

Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah Kepri, termasuk Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, sejak Senin (14/9).

Penurunan kualitas udara tersebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama meningkatkan risiko gangguan pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pemerintah mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. (*)

Editor : Jamil Qasim
BDR Tatap muka