Lima Hari Hanyut di Laut, Nelayan Anambas Ditemukan di Perairan Malaysia

Eusebius Sara • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:52 WIB
Bachtiar, nelayan asal Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau (Kepri), hanyut hingga perairan Pulau Tioman, Pahang, Malaysia.
Bachtiar, nelayan asal Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau (Kepri), hanyut hingga perairan Pulau Tioman, Pahang, Malaysia.

batampos – Terpisah dari perahu kedua anaknya saat melaut, Bachtiar, nelayan asal Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau (Kepri), hanyut hingga perairan Pulau Tioman, Pahang, Malaysia. Setelah lima hari sejak dilaporkan hilang, ia akhirnya ditemukan pada 15 Oktober 2026 dalam kondisi kehabisan bahan bakar dan perbekalan.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru memfasilitasi penanganan hingga pemulangan Bachtiar ke Tanah Air. Nelayan tersebut dijadwalkan diserahkan kepada otoritas Indonesia di perbatasan laut kedua negara pada Sabtu (17/10).

Peristiwa itu bermula pada 10 Oktober 2026, ketika Bachtiar melaut bersama kedua anaknya menggunakan perahu masing-masing. Dalam perjalanan, ia terpisah dari perahu kedua anaknya hingga akhirnya hanyut dan memasuki perairan Malaysia.

Seiring waktu, bahan bakar dan perbekalannya habis. Bachtiar pun harus bertahan dalam kondisi darurat di laut sebelum akhirnya ditemukan oleh otoritas Malaysia.

Menindaklanjuti laporan kehilangan yang diterima dari otoritas terkait di Indonesia, KJRI Johor Bahru berkoordinasi dengan Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) Negeri Pahang untuk mendukung proses pencarian dan penyelamatan.

Setelah ditemukan pada 15 Oktober, Bachtiar dievakuasi dan mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Ia juga memperoleh akomodasi sementara serta bantuan logistik selama menjalani proses penanganan di Malaysia.

Pelaksana Fungsi Konsuler 3 KJRI Johor Bahru, Dhania Afini Lestari, mengatakan proses pemulangan Bachtiar dilaksanakan pada Sabtu (17/10).

Bachtiar diantar oleh pihak APMM Negeri Pahang untuk diserahterimakan kepada otoritas perbatasan Indonesia. Proses tersebut diperkirakan berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB di titik perbatasan laut kedua negara.

KJRI Johor Bahru mengapresiasi koordinasi dan bantuan APMM Negeri Pahang dalam proses pencarian, penyelamatan, hingga pemulangan nelayan tersebut.

Kerja sama lintas negara itu menjadi bagian penting dalam memastikan warga negara Indonesia yang mengalami keadaan darurat di perairan Malaysia mendapatkan pertolongan dan dapat kembali ke Tanah Air.

Selain memfasilitasi pemulangan, KJRI Johor Bahru mengingatkan para nelayan agar mengutamakan keselamatan sebelum melaut, terutama mereka yang beraktivitas di perairan terbuka dan kawasan perbatasan.

“Para nelayan diimbau untuk memastikan kelayakan kapal, kecukupan bahan bakar dan logistik, serta kelengkapan alat navigasi dan komunikasi sebelum melaut,” ujar Dhania.

Peristiwa yang dialami Bachtiar menjadi pengingat bagi nelayan di Kepulauan Riau akan besarnya risiko melaut di perairan terbuka. Persiapan yang matang, ketersediaan bahan bakar dan perbekalan, serta alat navigasi dan komunikasi yang memadai sangat penting untuk mengantisipasi keadaan darurat. (*)

Editor : Jamil Qasim
Nelayan Anambas Lima Hari Hanyut di Laut