Chahaya Simanjuntak• Rabu, 9 Juli 2025 | 16:41 WIB
ILUSTRASI terapi moksibusi, terapi kesehatan asal Tiongkok.
Batampos - Terapi moksibusi merupakan sebuah praktik pengobatan tradisional yang berasal dari Tiongkok. Terapi ini mendapatkan perhatian dari dunia medis modern.
Dengan menggunakan daun mugwort yang dibakar di atas atau dekat titik akupunktur tubuh, terapi ini diklaim mampu meningkatkan sirkulasi darah, memperkuat sistem imun, dan membantu mengatasi berbagai gangguan kesehatan, seperti kanker.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah studi ilmiah mulai mengevaluasi efektivitas dan keamanan dari terapi ini. Beberapa hasil penelitian menunjukkan, terapi ini memiliki potensi dalam mendukung pengobatan kondisi tertentu, seperti:
- Nyeri sendi dan otot, termasuk arthritis
- Masalah pencernaan seperti sindrom iritasi usus besar (IBS)
- Kelelahan kronis dan gangguan menstruasi, bahkan hingga
- Breech pregnancy (sungsang) . Ini salah satu manfaat moksibusi yang paling dikenal secara global
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan 2010 mencatat, moksibusi sebagai salah satu bentuk terapi tradisional yang "layak untuk diteliti lebih lanjut", terutama karena penggunaannya yang meluas di beberapa negara Asia. Oleh penelitian ilmiah dari kedokteran menunjukkan hasil positif, misalnya:
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine menyebutkan bahwa terapi moksibusi dapat membantu membalikkan posisi janin sungsang jika dilakukan sebelum minggu ke-35 kehamilan.
Studi lain dari Korea Selatan menunjukkan adanya pengurangan nyeri pada pasien osteoartritis lutut setelah menjalani terapi moksibusi selama beberapa minggu.
Namun, meskipun hasilnya menjanjikan, dunia medis masih memerlukan lebih banyak penelitian berskala besar dengan kontrol yang ketat untuk memastikan efektivitas dan keamanan dari terapi ini.
Seperti halnya terapi lainnya, moksibusi tidak lepas dari risiko. Efek samping yang bisa terjadi antara lain:
- Iritasi kulit atau luka bakar ringan akibat panas
- Alergi terhadap asap herbal
- Reaksi pernapasan, terutama bagi penderita asma atau masalah paru-paru
Dokter biasanya menyarankan pasien untuk tidak melakukan terapi ini sendiri di rumah tanpa bimbingan profesional terlatih.
Dengan begitu, Moksibusi masih dianggap sebagai terapi komplementer, bukan pengganti pengobatan medis, khususnya untuk pengobatan kanker seperti kemoterapi, radioterapi, atau operasi. Organisasi seperti American Cancer Society menyatakan, belum ada bukti kuat untuk mendukung klaim moksibusi sebagai penyembuh kanker. Namun, sebagai terapi suportif, moksibusi memiliki potensi dan layak untuk diteliti lebih lanjut. (*)