Batampos - Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, mengimbau para pelari supaya memantau detak jantung selama mengikuti lari maraton untuk menghindari risiko kesehatan.
Anindia mengatakan, sebelum lari maraton, seseorang harus memastikan kondisi tubuh berada dalam keadaan prima atau sehat dan heart rate atau detak jantung yang normal.
Selama berlari, pelari juga perlu memantau peningkatan denyut jantung. Jika denyut jantung dirasa meningkat terlalu tinggi, pelari disarankan menghentikan lari sementara.
Baca Juga: Luke Anthony Ungkap Jadi WNI dan Bela Timnas Indonesia jadi Impiannya
“Lebih baik kita hentikan dulu larinya, dengan berjalan menurunkan detak jantung kemudian dilanjutkan dengan berlari," kata Anindia.
Dia juga menegaskan, seseorang harus berhenti berlari jika mengalami keluhan seperti sesak napas, nyeri dada atau kram otot.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Mulai Dibangun Akhir 2026, Pemkab Lingga Lakukan Pembersihan Lahan
Sebelum mengikuti lari maraton, para pelari wajib melakukan latihan, yang disesuaikan dengan jarak tempuh dan tingkat kebugaran tubuh. Menurut dia, persiapan untuk lari maraton bisa dimulai 12 hingga 16 minggu sebelum hari H.
Persiapan para pelari untuk mengikuti maraton tidak hanya sebatas menjalani latihan fisik, namun, dia juga perlu memahami kondisi kesehatan tubuh, termasuk memastikan apakah memiliki penyakit komorbid atau penyerta seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung yang telah terkontrol dengan baik.
Anindia menjelaskan obat-obatan untuk penderita penyakit tersebut bisa berdampak pada detak jantung selama aktivitas lari maraton.
“Bagaimana kondisi penyakit tersebut, apakah terkontrol atau tidak. Karena mungkin bila kita ada diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung, ada obat-obat yang perlu disesuaikan dosisnya karena mungkin obat tersebut mengganggu kerja gula darah dan detak jantung selama pasien itu mungkin melakukan maraton,” tutur dia.
Selain itu, selama lari maraton, sang dokter juga mengingatkan pentingnya hidrasi tubuh. Pelari disarankan untuk mengonsumsi cairan secara teratur setiap menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer dan melakukan peregangan otot usai berlari. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak