6 Keterampilan Hidup yang Mulai Hilang karena Smartphone

Putut Ariyo • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 09:06 WIB
ilustrasi orang yang bermain ponsel sebelum tidur. Sumber foto: Freepik
ilustrasi orang yang bermain ponsel sebelum tidur. Sumber foto: Freepik

batampos – Kehadiran smartphone telah mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, hingga menyelesaikan berbagai aktivitas sehari-hari. Berbagai informasi kini dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui perangkat yang selalu berada di genggaman.

Namun, di balik kemudahan tersebut, sejumlah keterampilan hidup yang dulu dianggap penting perlahan mulai ditinggalkan. Generasi yang tumbuh sebelum era smartphone terbiasa mengandalkan kemampuan berpikir, membaca, hingga bernavigasi tanpa bantuan teknologi.

Menurut laporan YourTango yang dikutip pada Selasa (4/8), ada sejumlah keterampilan dasar yang kini semakin jarang dikuasai generasi muda, meski sebenarnya masih memiliki manfaat besar bagi perkembangan otak, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

Berikut enam di antaranya.

1. Menulis Tangan dengan Rapi dan Membaca Huruf Sambung

Sebelum komputer dan perangkat digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tulisan tangan merupakan keterampilan yang sangat penting. Murid dituntut memiliki tulisan yang rapi dan mampu membaca maupun menulis huruf sambung (cursive).

Kini, sebagian besar aktivitas belajar telah beralih ke perangkat digital. Pada tahun ajaran 2021–2022, sekitar 96 persen sekolah negeri di Amerika Serikat dilaporkan telah menyediakan perangkat digital bagi siswanya.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa menulis tangan membantu perkembangan otak, meningkatkan daya ingat, serta melatih koordinasi motorik, terutama pada anak usia dini. Kemampuan membaca tulisan sambung juga tetap berguna karena masih banyak dokumen dan arsip lama yang ditulis menggunakan gaya tersebut.

2. Membaca Buku untuk Kesenangan

Sebelum media sosial dan layanan streaming mendominasi waktu luang, membaca buku menjadi salah satu hiburan favorit banyak anak dan remaja.

Kini, kebiasaan tersebut mulai menurun karena perhatian lebih banyak tersita oleh konten digital yang serba singkat.

Data menunjukkan sekitar 60 persen orang dewasa membaca setidaknya satu buku sepanjang tahun pada 1982. Pada 2026, angkanya turun menjadi sekitar 49 persen, atau 53 persen jika buku audio ikut dihitung.

Padahal, membaca buku tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga meningkatkan konsentrasi, kemampuan berpikir kritis, serta empati.

3. Menghitung Tanpa Kalkulator

Aplikasi kalkulator di smartphone membuat banyak orang tidak lagi terbiasa melakukan perhitungan sederhana di kepala.

Mulai dari menghitung kembalian hingga membagi tagihan, hampir semua dilakukan dengan bantuan perangkat digital.

Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap kemampuan numerasi. Sejumlah negara bagian di Amerika Serikat bahkan mulai memperkuat pembelajaran matematika di sekolah dasar dengan mewajibkan satu jam pelajaran matematika setiap hari bagi siswa kelas K-5.

Kemampuan berhitung mental tetap penting karena membantu seseorang mengambil keputusan dengan cepat dalam berbagai situasi sehari-hari.

4. Membaca Peta dan Menentukan Arah

GPS memang membuat perjalanan menjadi lebih praktis. Namun, ketergantungan terhadap navigasi digital membuat banyak orang kehilangan kemampuan membaca peta maupun memahami arah mata angin.

Survei Ordnance Survey menunjukkan sekitar 41 persen orang dewasa di Inggris tidak mampu membaca peta.

Padahal, kemampuan navigasi dasar sangat berguna ketika sinyal hilang, baterai ponsel habis, atau berada di daerah terpencil yang tidak memiliki akses internet.

5. Memanfaatkan Rasa Bosan untuk Berkreasi

Dulu, rasa bosan sering menjadi awal munculnya kreativitas. Anak-anak mengisi waktu dengan bermain di luar rumah, membuat kerajinan, membaca buku, atau menekuni berbagai hobi.

Kini, ketika merasa bosan, banyak orang langsung membuka media sosial, bermain gim, atau menonton video di smartphone.

Sebuah studi pada 2024 mencatat rata-rata orang dewasa di Amerika Serikat menghabiskan sekitar 5 jam 16 menit per hari menggunakan ponsel. Bahkan, lebih dari separuh responden mengaku ingin mengurangi penggunaannya karena merasa sudah terlalu bergantung.

Padahal, kebosanan dapat menjadi ruang bagi otak untuk berimajinasi, memunculkan ide baru, dan mengembangkan kreativitas.

6. Menemukan Musik Baru Lewat Radio

Sebelum layanan streaming musik hadir, radio menjadi salah satu cara utama menemukan lagu dan musisi baru.

Kini, platform digital memungkinkan pengguna mendengarkan lagu favorit kapan saja melalui daftar putar yang dipersonalisasi.

Spotify, misalnya, kini memiliki sekitar 751 juta pengguna aktif bulanan dengan sekitar 290 juta pelanggan premium.

Meski praktis, algoritma layanan streaming cenderung menyajikan musik yang sesuai preferensi pengguna sehingga kesempatan menemukan genre atau artis baru secara acak menjadi lebih kecil dibanding saat mendengarkan radio.

Teknologi Memudahkan, tetapi Keterampilan Dasar Tetap Penting

Smartphone telah membawa banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mempercepat komunikasi hingga mempermudah akses informasi.

Namun, sejumlah keterampilan dasar seperti menulis tangan, membaca buku, berhitung, membaca peta, mengembangkan kreativitas, hingga mengeksplorasi hal baru secara mandiri tetap memiliki nilai penting.

Menguasai teknologi memang menjadi kebutuhan di era digital. Namun, menjaga keterampilan hidup dasar juga menjadi bekal agar seseorang tetap mampu berpikir kritis, kreatif, dan mandiri ketika teknologi tidak selalu dapat diandalkan. (*)

Editor : Putut Ariyo
Keterampilan Hidup generasi z smartphone teknologi psikologi