batampos - Coba ucapkan bunyi “nnn” sambil meletakkan ujung lidah tepat di belakang gigi depan bagian atas. Perhatikan posisi lidah ketika menghasilkan bunyi tersebut.
Dalam aksara Korea, posisi itu direpresentasikan melalui huruf ㄴ (nieun). Bentuknya menggambarkan posisi lidah saat menyentuh bagian depan langit-langit mulut.
Hal serupa dapat ditemukan pada ㅁ (mieum). Ketika mengucapkan bunyi “mmm”, kedua bibir tertutup. Bentuk huruf tersebut menyerupai gambaran bagian depan mulut.
Hubungan antara bentuk huruf dan cara bunyi dihasilkan inilah yang membuat Hangul, sistem tulisan Korea, berbeda dari banyak sistem aksara lainnya.
Yang lebih menarik, rancangan tersebut tidak hanya dapat dipelajari dari bentuk hurufnya. Alasan di balik pembuatannya juga terdokumentasi dalam catatan sejarah.
Raja Sejong Merancang Hangul
Hangul dikembangkan pada masa pemerintahan Raja Sejong, penguasa keempat Dinasti Joseon.
Pada 1443, Sejong memperkenalkan sistem tulisan baru yang dirancang agar masyarakat Korea lebih mudah membaca dan menulis. Tiga tahun kemudian, pada 1446, penjelasan resmi mengenai sistem tersebut diterbitkan dalam dokumen yang dikenal sebagai Hunminjeongeum Haerye.
Dokumen tersebut menjelaskan prinsip pembuatan huruf, termasuk alasan bentuk dasar sejumlah konsonan dan bagaimana karakter lainnya dikembangkan.
Naskah Hunminjeongeum yang masih bertahan kemudian mendapat pengakuan internasional. UNESCO memasukkannya ke dalam Memory of the World Register pada 1997.
Keunikan Hangul terletak pada pendekatan sistematis dalam merancang huruf. Bentuk sejumlah konsonan dasar dikaitkan dengan posisi organ bicara ketika menghasilkan suara.
Lima Konsonan Menjadi Dasar
Lima konsonan dasar Hangul adalah ㄱ, ㄴ, ㅁ, ㅅ, dan ㅇ.
Masing-masing memiliki hubungan dengan bentuk atau posisi organ bicara. ㄴ, misalnya, menggambarkan posisi lidah ketika menghasilkan bunyi tertentu, sedangkan ㅁ berkaitan dengan bentuk mulut saat kedua bibir tertutup.
Penelitian modern juga mencoba menjelaskan hubungan tersebut dari perspektif ilmu fonetik.
Choi Hong-Shik, ahli laringologi dari Yonsei University College of Medicine, menganalisis bentuk huruf Hangul menggunakan pendekatan ilmu bicara modern. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa sejumlah bentuk dasar tersebut dapat dipahami sebagai representasi penampang samping saluran vokal.
Dari huruf dasar itu kemudian terbentuk karakter lain.
Penambahan garis tertentu dapat mengubah karakter dan menghasilkan bunyi dengan aspirasi yang lebih kuat. Sementara penggandaan huruf dapat menghasilkan konsonan tegang, seperti perubahan ㄱ menjadi ㄲ.
Dengan sistem tersebut, seseorang tidak perlu menghafal setiap karakter secara terpisah. Memahami prinsip pembentukannya dapat membantu proses mempelajari aksara Korea.
Mengapa Hangul Disebut Alfabet Featural?
Dalam linguistik, Hangul sering dikaitkan dengan konsep featural writing system, yaitu sistem tulisan yang bentuk karakternya mengandung informasi mengenai karakteristik bunyi yang diwakilinya.
Istilah featural dipopulerkan oleh ahli bahasa Geoffrey Sampson untuk menjelaskan sistem tulisan yang tidak hanya mewakili bunyi, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai bagaimana bunyi tersebut dihasilkan.
Hangul menjadi salah satu contoh paling menonjol karena hubungan antara bentuk huruf dan artikulasi bunyi dirancang secara sistematis.
Hal ini berbeda dengan alfabet Latin yang berkembang melalui sejarah panjang. Bentuk huruf Latin seperti A, B, dan C mengalami perubahan selama berabad-abad sehingga hubungan antara bentuk karakter dan cara pengucapannya tidak lagi terlihat secara langsung.
Hangul Sempat Mendapat Penolakan
Pengenalan Hangul tidak langsung diterima oleh seluruh elite intelektual Korea.
Pada 1444, tujuh cendekiawan istana mengajukan keberatan kepada Raja Sejong. Mereka khawatir penggunaan sistem tulisan baru akan mengurangi kedekatan Korea dengan tradisi intelektual China yang saat itu sangat kuat.
Salah satu keberatan lainnya berkaitan dengan pendidikan. Para sarjana tersebut berpendapat bahwa kemudahan mempelajari sistem tulisan baru dapat mengurangi dorongan masyarakat untuk mempelajari karakter China yang membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Sejong tetap mempertahankan gagasannya.
Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah bahasa Korea karena Hangul akhirnya berkembang menjadi sistem tulisan utama yang digunakan masyarakat Korea.
Bisa Dipelajari dalam Waktu Singkat
Kemudahan mempelajari Hangul bahkan menjadi bagian dari narasi awal mengenai sistem tulisan tersebut.
Jeong Inji, salah satu cendekiawan yang terlibat dalam penyusunan penjelasan Hangul, menyebut bahwa orang yang cerdas dapat mempelajarinya dalam waktu singkat, bahkan sebelum pagi berakhir. Sementara orang yang belajar lebih lambat diperkirakan membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari.
Pernyataan tersebut menunjukkan tujuan utama Hangul sejak awal: membuat sistem tulisan yang dapat dipelajari masyarakat secara lebih mudah.
Meski demikian, karakter China tetap menjadi simbol prestise intelektual selama berabad-abad. Hangul baru secara bertahap memperoleh posisi yang semakin kuat dalam kehidupan masyarakat Korea.
Naskah Penjelasan Hangul Sempat Hilang
Salah satu bagian paling menarik dalam sejarah Hangul adalah perjalanan dokumen yang menjelaskan prinsip pembuatannya.
Haerye, bagian yang memberikan penjelasan rinci mengenai rancangan Hangul, sempat tidak diketahui keberadaannya selama berabad-abad.
Sebuah salinan kemudian ditemukan di Andong pada 1940, ketika Korea berada di bawah pemerintahan kolonial Jepang.
Penemuan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat Korea. Dokumen itu bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi menjadi bukti tertulis bahwa Hangul merupakan sistem tulisan yang dirancang secara sadar dengan prinsip dan alasan yang jelas.
Dari posisi lidah, bentuk bibir, hingga struktur bunyi, Hangul menunjukkan bahwa sebuah sistem tulisan dapat dirancang bukan hanya untuk mencatat bahasa, tetapi juga untuk membantu manusia memahami bagaimana bahasa itu dihasilkan.
Itulah yang membuat Hangul menjadi salah satu sistem tulisan paling menarik dalam sejarah linguistik dunia. (*)
Editor : Putut Ariyo