batampos – Perasaan tertinggal secara finansial tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan seseorang yang sebenarnya. Menurut psikologi, perasaan tersebut kerap muncul akibat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dan menetapkan standar kesuksesan yang tidak realistis.
Seseorang bahkan bisa memiliki pekerjaan tetap dan tabungan yang cukup, tetapi tetap merasa dirinya gagal secara finansial.
Berikut enam keyakinan keliru yang dapat membuat seseorang terus merasa tertinggal secara finansial:
Baca Juga: The Indonesia Pro-Am 2026 Kembali Digelar, Hadiah Capai US$150 Ribu
1. Menganggap Semua Orang Sudah Menguasai Keuangannya
Media sosial membuat perbandingan kondisi finansial semakin sulit dihindari. Kehidupan orang lain yang terlihat mewah sering dianggap sebagai gambaran kondisi mereka secara keseluruhan.
Padahal, foto liburan, rumah, kendaraan atau gaya hidup yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi keuangan sebenarnya.
Seseorang mungkin harus menabung lama untuk sebuah perjalanan atau mendapatkan bantuan dari keluarga. Karena itu, membandingkan kehidupan sehari-hari dengan momen terbaik orang lain hanya akan menimbulkan frustrasi.
2. Merasa Harus Mencapai Target Tertentu di Usia Tertentu
Sebagian orang memiliki standar tidak tertulis mengenai pencapaian yang dianggap wajib diraih pada usia tertentu, seperti membeli rumah, memiliki tabungan besar atau mempersiapkan dana pensiun.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup dan kondisi ekonomi yang berbeda. Generasi yang berbeda juga menghadapi situasi ekonomi yang tidak sama ketika memasuki usia produktif.
Baca Juga: Jepang Dilanda Hujan Ekstrem, 4 Orang Tewas dan 400 Ribu Warga Dievakuasi
Pencapaian yang dapat diraih seseorang dalam lima tahun belum tentu bisa dicapai orang lain dalam waktu yang sama.
3. Menganggap Satu Kesalahan Finansial Menghancurkan Masa Depan
Kesalahan dalam mengelola keuangan bisa terasa sangat berat. Namun, satu keputusan yang buruk tidak otomatis menentukan kondisi finansial seseorang sepanjang hidup.
Hampir setiap orang pernah membuat keputusan keuangan yang kurang tepat. Yang lebih penting adalah bagaimana kesalahan tersebut dijadikan pengalaman untuk memperbaiki keputusan berikutnya.
Kesalahan finansial sebaiknya dipandang sebagai hambatan sementara, bukan sebagai identitas atau penentu masa depan.
4. Menganggap Penghasilan Besar Akan Menyelesaikan Semua Masalah
Pendapatan yang lebih besar memang dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan. Namun, peningkatan penghasilan sering kali diikuti peningkatan gaya hidup dan pengeluaran.
Jika tidak dikelola dengan baik, tambahan pendapatan dapat habis untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan yang semakin besar.
Karena itu, persoalan finansial tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar penghasilan, tetapi juga bagaimana seseorang mengatur, menabung dan menggunakan uangnya.
5. Menganggap Meminta Bantuan Berarti Gagal
Sebagian orang merasa malu ketika membutuhkan bantuan atau saran mengenai keuangan. Mereka menganggap orang yang sukses secara finansial seharusnya mampu mencapai semuanya sendiri.
Padahal, banyak orang mendapatkan dukungan dari keluarga, pasangan, mentor maupun lingkungan di sepanjang perjalanan hidupnya.
Meminta bantuan ketika menghadapi masalah keuangan bukan berarti gagal. Justru, kemauan untuk belajar dan mencari solusi dapat menjadi bagian penting dalam memperbaiki kondisi finansial.
6. Menganggap Ada Angka Tertentu yang Menandakan Kesuksesan
Sebagian orang memiliki bayangan tentang angka tertentu dalam bentuk tabungan, pendapatan atau aset yang dianggap sebagai titik ketika semua masalah keuangan akan berakhir.
Namun, setelah mencapai angka tersebut, bisa saja muncul kekhawatiran baru, seperti bagaimana mempertahankan aset atau menginvestasikan uang dengan tepat.
Karena itu, ketenangan finansial tidak selalu ditentukan oleh satu angka tertentu. Mengenali perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai juga penting.
Memiliki anggaran yang jelas, memahami pola pengeluaran dan menghargai pencapaian kecil dapat membantu seseorang melihat kondisi keuangannya secara lebih realistis.
Pada akhirnya, merasa tertinggal secara finansial tidak selalu berarti benar-benar tertinggal. Yang lebih penting adalah membandingkan kondisi saat ini dengan perjalanan diri sendiri, bukan dengan kehidupan orang lain yang hanya terlihat dari permukaannya. (*)
Editor : Jamil Qasim