batampos – Sutradara Eugene Panji meninggal dunia pada Selasa, 25 Agustus 2026. Sineas yang dikenal melalui karya film, video musik, dan iklan tersebut mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Siloam Puri Cinere, Depok, pada usia 52 tahun.
Kabar duka tersebut turut dirasakan insan perfilman Indonesia. Persatuan Artis Film Indonesia (PB PARFI) menyampaikan belasungkawa sekaligus mengenang Eugene Panji sebagai salah satu sutradara berbakat yang memberikan kontribusi bagi industri kreatif Tanah Air.
Ketua Humas PB PARFI, Evry Joe, membenarkan kabar meninggalnya Eugene Panji.
"Betul sekali Eugene Panji meninggal. Dia termasuk sutradara yang berbakat," kata Evry Joe kepada JawaPos.com.
Atas nama PB PARFI dan secara pribadi, Evry Joe menyampaikan duka mendalam atas kepergian Eugene Panji.
"Kami dari organisasi profesi Persatuan Artis Film Indonesia (PB PARFI) mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya atas berpulangnya almarhum Mas Eugene Panji di usia 52 tahun," ujarnya.
Evry Joe juga mendoakan Eugene Panji mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
"Semoga beliau berpulang dengan damai, husnul khotimah, keluarga yang ditinggalkan tabah dan ikhlas menerima cobaan ini," tuturnya.
"Semua kita bakal berpulang, namun Tuhan lebih sayang memanggil hambanya lebih dulu. Selamat jalan, Mas Panji," imbuh Evry.
Karier Eugene Panji Dimulai dari Video Musik
Sebelum dikenal sebagai sutradara film layar lebar, Eugene Panji lebih dahulu membangun karier di balik layar melalui produksi video musik dan iklan televisi.
Sejak akhir 1990-an, ia dipercaya menggarap video musik sejumlah musisi dan grup musik populer Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Agnez Mo, Slank, Tompi, Ada Band, Cokelat, Ipang, Superglad, Govinda, dan Naif.
Dua karya yang turut tercatat dalam perjalanan kariernya adalah video musik "Piknik '72" milik Naif dan "Jera" dari Agnez Mo.
Pengalamannya menggarap video musik kemudian membuka jalan bagi Eugene untuk memasuki industri film layar lebar.
Debut Film Eugene Panji pada 2012
Eugene Panji menjalani debut sebagai sutradara film layar lebar melalui Cita-Citaku Setinggi Tanah pada 2012.
Film tersebut memiliki misi sosial karena keuntungan yang diperoleh disumbangkan kepada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).
Cita-Citaku Setinggi Tanah juga menjadi salah satu karya penting dalam karier Eugene. Film tersebut terpilih untuk berkompetisi di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2013.
Di ajang Piala Maya 2012, film tersebut masuk nominasi Film Bioskop Terpilih. Eugene Panji juga mendapatkan nominasi Sutradara Terbaik.
Garap Beragam Genre Film
Setelah debut, Eugene Panji terus mengembangkan kiprahnya dengan menggarap film dari berbagai genre.
Pada 2017, ia menyutradarai Naura & Genk Juara the Movie, film musikal anak yang memadukan unsur petualangan dengan isu perlindungan satwa.
Setahun kemudian, Eugene ikut menyutradarai 22 Menit bersama Myrna Paramita. Film yang dirilis pada 2018 tersebut mengambil latar peristiwa serangan bom di kawasan MH Thamrin, Jakarta, pada Januari 2016.
Film itu menggambarkan situasi dari sudut pandang aparat dan masyarakat yang berada di tengah kondisi mencekam akibat aksi teror.
Karya layar lebar Eugene berlanjut melalui Bangsatnya Cinta Pertama pada 2023. Film tersebut mengangkat kisah persahabatan dan percintaan tiga perempuan muda dengan latar kehidupan perkuliahan di Belanda.
Selain film layar lebar, Eugene Panji juga pernah menggarap film pendek Buang yang dirilis pada 2017.
Film tersebut mengangkat kisah korban tragedi Mei 1998, termasuk seorang ibu yang kehilangan suami dan dua anak perempuannya.
Kepergian Eugene Panji meninggalkan jejak panjang dalam perfilman Indonesia, terutama melalui karya-karyanya di bidang video musik, film layar lebar, hingga film pendek. (*)
Editor : Putut Ariyo