batampos – Operasi bypass jantung selama ini identik dengan sayatan panjang dan pembelahan tulang dada. Namun, perkembangan teknik bedah jantung memungkinkan prosedur tersebut dilakukan dengan sayatan yang lebih kecil tanpa membelah tulang dada melalui metode Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS).
Metode ini menjadi salah satu pilihan dalam operasi Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) atau bypass pembuluh darah koroner. Selain meninggalkan luka operasi yang lebih kecil, MICS membuat tulang dada atau sternum tetap utuh sehingga pasien tidak perlu menjalani masa pemulihan tulang dada seperti pada operasi konvensional.
Dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular Heartology Cardiovascular Hospital, dr. Widya Trianita Suwatri, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), menjelaskan pada CABG konvensional, sternum harus dibelah untuk memberikan akses ke jantung. Tulang tersebut kemudian membutuhkan waktu untuk kembali menyatu.
“Pada operasi konvensional, tulang dada yang dibelah membutuhkan waktu untuk menyatu dan proses penyembuhannya dapat berlangsung hingga sekitar 12 minggu,” ujar Widya di Jakarta, baru-baru ini.
Kondisi berbeda terjadi pada MICS. Sternum tetap utuh sehingga pasien tidak perlu melalui proses penyembuhan tulang dada. Kondisi tersebut juga dapat menurunkan risiko komplikasi yang berkaitan dengan tulang dada, termasuk infeksi.
“Ini berarti pasien tidak perlu menjalani proses penyembuhan tulang dada tersebut, sehingga pemulihan dapat menjadi lebih efisien. Selain itu, risiko komplikasi yang berkaitan dengan tulang dada, termasuk infeksi tulang dada, juga dapat lebih rendah,” katanya.
Bukan Berarti Bypass Lebih Sedikit
Meski menggunakan sayatan lebih kecil, metode MICS bukan berarti pembuluh darah yang ditangani lebih sedikit. Tujuan utama operasi tetap sama, yakni membuat jalur baru bagi aliran darah untuk melewati pembuluh koroner yang mengalami penyumbatan.
Dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular, Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), MARS, mengatakan penelitian menunjukkan tingkat complete revascularization pada pasien MICS CABG mencapai 95,5 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan operasi melalui sternotomi yang mencapai 96,3 persen.
Sementara itu, pemeriksaan angiografi sebelum pasien pulang menunjukkan 96,2 persen graft pada kelompok MICS CABG dalam kondisi baik.
Menurut Dudy, data tersebut menunjukkan bahwa pendekatan minimal invasif tidak mengurangi target pembuluh darah yang harus ditangani.
“Jadi, yang kita minimalkan adalah sayatan operasinya, bukan target pembuluh darahnya,” jelasnya.
Dengan kata lain, MICS berupaya mempertahankan efektivitas bypass sekaligus mengurangi trauma akibat proses pembedahan.
Potensi Kurangi Perdarahan
Keunggulan metode MICS juga terlihat dari aspek perdarahan selama operasi. Salah satu penelitian pada pasien penyakit jantung koroner yang juga memiliki diabetes melitus tipe 2 menunjukkan median perdarahan intraoperasi pada MICS CABG sebesar 600 mililiter.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan CABG konvensional yang mencapai 700 mililiter.
Menurut Dudy, pengurangan perdarahan menjadi salah satu aspek yang dapat mendukung proses pemulihan pasien. Minimnya trauma akibat operasi juga berpotensi mengurangi kebutuhan transfusi darah.
“Ketika perdarahan selama operasi dapat ditekan dan tulang dada tidak perlu dibelah, proses pemulihan pasien berpotensi menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan operasi bypass tidak hanya diukur dari keberhasilan membuat jalur baru bagi aliran darah menuju otot jantung. Proses pemulihan pasien setelah operasi juga menjadi bagian penting dari hasil tindakan.
“Keberhasilan operasi bukan hanya tentang memastikan bypass berjalan dengan baik, tetapi juga membantu pasien agar dapat pulih dan kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih cepat dan nyaman,” katanya.
Meski demikian, pilihan metode operasi tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan hasil evaluasi tim medis. MICS merupakan salah satu pendekatan dalam bedah bypass jantung yang dikembangkan untuk memberikan akses ke jantung dengan trauma pembedahan yang lebih minimal. (*)
Editor : M Tahang