batampos – Ekspektasi generasi muda terhadap dunia kerja terus berubah. Bagi Generasi Z (Gen Z) dan milenial, pekerjaan tidak lagi hanya dinilai berdasarkan besaran gaji, tetapi juga dari makna pekerjaan, peluang berkembang, serta keseimbangan antara kehidupan profesional dan personal.
Perubahan tersebut tercermin dalam Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey 2025. Survei itu menunjukkan tiga aspek yang semakin menjadi pertimbangan generasi muda dalam membangun karier, yakni money, meaning, dan well-being.
Dalam survei tersebut, sekitar sembilan dari 10 Gen Z dan milenial menyatakan bahwa pekerjaan yang memiliki purpose menjadi salah satu faktor penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
Artinya, kompensasi tetap menjadi faktor penting dalam keputusan karier, tetapi semakin banyak pekerja muda yang mempertimbangkan pengalaman kerja secara lebih menyeluruh.
1. Money: Gaji dan Keamanan Finansial
Faktor finansial tetap menjadi bagian penting ketika seseorang memilih pekerjaan. Penghasilan yang kompetitif diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus memberikan keamanan finansial.
Namun, bagi generasi muda, kompensasi tidak berdiri sendiri. Mereka juga mempertimbangkan prospek karier dan kesempatan meningkatkan keterampilan.
Dengan kata lain, pekerjaan dengan gaji menarik akan semakin bernilai apabila memberikan peluang bagi karyawan untuk berkembang dan meningkatkan kapasitas profesionalnya.
2. Meaning: Pekerjaan yang Memiliki Makna
Selain pendapatan, generasi muda semakin mempertanyakan makna dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Mereka ingin memahami bagaimana pekerjaan sehari-hari memberikan kontribusi, baik terhadap perusahaan, masyarakat maupun tujuan yang lebih luas.
People & Organisation Associate Director Novo Nordisk Indonesia, Adhika Widya Sena, mengatakan perubahan kebutuhan tersebut mendorong perusahaan menciptakan lingkungan kerja yang memberi ruang bagi karyawan untuk berkembang sekaligus memahami kontribusi mereka.
"Perlu terus belajar dan beradaptasi untuk terus memberikan dampak," kata Adhika.
Konsep purpose menjadi semakin penting karena karyawan tidak hanya ingin mengetahui apa yang harus dikerjakan, tetapi juga mengapa pekerjaan tersebut penting.
3. Well-being: Kesejahteraan dan Work-Life Balance
Aspek ketiga adalah well-being atau kesejahteraan. Generasi muda semakin memperhatikan apakah pekerjaan memungkinkan mereka menjaga keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi.
Kebijakan perusahaan yang mendukung kebutuhan personal dan keluarga pun menjadi semakin relevan. Bentuknya antara lain cuti melahirkan, cuti bagi ayah, caregiver leave, serta fasilitas yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
Di Novo Nordisk Indonesia, pendekatan tersebut diterapkan melalui berbagai kebijakan yang memungkinkan karyawan menjalankan tanggung jawab personal sekaligus profesional.
Per September 2026, perusahaan mencatat proporsi perempuan mencapai 56 persen dalam Management Team dan 57 persen pada jalur karier tingkat manajer.
Pengembangan Karyawan Tak Hanya Lewat Pelatihan
Selain gaji, makna pekerjaan dan kesejahteraan, kesempatan untuk terus berkembang juga menjadi perhatian pekerja muda.
Pengembangan karyawan kini tidak hanya dilakukan melalui pelatihan formal. Pengalaman langsung di tempat kerja serta interaksi dengan rekan kerja dan pemimpin juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Pendekatan tersebut salah satunya diterapkan melalui prinsip 70:20:10. Dalam model ini, sekitar 70 persen pengembangan berasal dari pengalaman langsung, 20 persen melalui interaksi dan pembelajaran dengan orang lain, sementara 10 persen berasal dari pelatihan formal.
"Bagi kami, menjadi tempat kerja terbaik berarti menciptakan lingkungan di mana setiap individu dapat mengembangkan potensinya dan menemukan makna melalui kontribusinya dalam membantu meningkatkan kehidupan jutaan masyarakat Indonesia," ujar Adhika.
Perubahan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan perlu melihat kebutuhan karyawan secara lebih utuh. Gaji tetap penting, tetapi kesempatan berkembang, rasa memiliki tujuan, dan kesejahteraan semakin menentukan bagaimana generasi muda menilai sebuah pekerjaan. (*)
Editor : Putut Ariyo