Jangan Bilang “Kamu Salah”, Ini 8 Frasa Cerdas untuk Menegur Rekan Kerja

Putut Ariyo • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 23:32 WIB
ilustrasi F. unsplash
ilustrasi F. unsplash

batampos – Menegur rekan kerja ketika terjadi kesalahan bukan perkara sederhana. Pemilihan kata yang kurang tepat dapat membuat kritik yang sebenarnya bertujuan memperbaiki keadaan justru terdengar sebagai serangan pribadi.

Situasi menjadi lebih rumit ketika orang yang ditegur adalah rekan kerja yang sensitif, atasan, atau anggota tim yang sedang berada dalam tekanan.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan berkomunikasi menjadi penting. Teguran tidak selalu harus disampaikan dengan nada keras atau kata-kata tajam. Sebaliknya, seseorang dapat menyampaikan ketidaksetujuan dengan tetap menjaga hubungan profesional dan harga diri lawan bicara.

Orang dengan kecerdasan komunikasi biasanya mampu memisahkan antara mengkritik masalah dan menyerang pribadi. Mereka memilih kalimat yang membuka ruang untuk penjelasan, diskusi, serta pencarian solusi.

Sejumlah frasa yang dibahas YourTango dapat menjadi inspirasi ketika seseorang perlu memberikan koreksi, menetapkan batas, atau menyampaikan ketidaksetujuan di lingkungan kerja.

Berikut delapan frasa yang dapat digunakan untuk menegur seseorang secara lebih profesional.

1. “Bisakah Anda menjelaskan bagaimana Anda sampai pada kesimpulan itu?”

Ketika melihat kesalahan, respons spontan yang muncul mungkin adalah mengatakan, “Itu salah.”

Namun, kalimat tersebut berisiko membuat lawan bicara langsung bersikap defensif. Akibatnya, pembicaraan dapat berubah menjadi upaya mempertahankan diri daripada membahas masalah.

Pertanyaan seperti, “Bisakah Anda menjelaskan bagaimana Anda sampai pada kesimpulan itu?” terdengar lebih netral.

Alih-alih langsung menyalahkan, Anda memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menjelaskan proses berpikirnya.

Cara ini juga memungkinkan orang yang bersangkutan menemukan sendiri bagian yang mungkin keliru dalam pertimbangannya.

Di lingkungan kerja, pendekatan tersebut berguna terutama ketika persoalan berkaitan dengan keputusan penting. Pembicaraan dapat diarahkan pada proses dan fakta, bukan kemampuan atau karakter seseorang.

2. “Saya memahami maksud Anda, tetapi ada hal yang perlu kita pertimbangkan lagi.”

Tidak semua teguran harus dimulai dengan penolakan.

Mengakui bahwa Anda memahami sudut pandang orang lain dapat membuat komunikasi berlangsung lebih terbuka. Setelah itu, Anda tetap dapat menyampaikan bahwa ada aspek lain yang perlu diperhatikan.

Kalimat “Saya memahami maksud Anda, tetapi ada hal yang perlu kita pertimbangkan lagi” menyampaikan dua pesan sekaligus: pendapat lawan bicara telah didengar, tetapi keputusan tersebut masih perlu dikaji.

Cara seperti ini sangat berguna dalam rapat atau diskusi tim karena perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam pekerjaan.

Fokus pembicaraan tetap berada pada ide atau keputusan yang dibahas, bukan menyerang karakter orang yang mengusulkannya.

Masalah dikritik, bukan orangnya.

3. “Mari kita fokus pada solusinya.”

Percakapan di tempat kerja terkadang berubah menjadi ajang saling menyalahkan.

Seseorang mengungkit kesalahan rekan kerja, kemudian dibalas dengan kesalahan lain yang pernah dilakukan. Jika tidak dihentikan, diskusi yang seharusnya mencari jalan keluar justru berkembang menjadi konflik.

Dalam kondisi seperti ini, kalimat “Mari kita fokus pada solusinya” dapat membantu mengembalikan arah pembicaraan.

Kalimat tersebut bukan berarti kesalahan harus diabaikan. Kesalahan tetap perlu dievaluasi agar tidak kembali terjadi.

Namun, tujuan utama pembicaraan profesional adalah mencari langkah perbaikan, bukan menentukan siapa yang paling pantas disalahkan.

Orang yang mampu mengarahkan diskusi kembali pada solusi juga cenderung tidak mudah terseret drama di tempat kerja.

4. “Saya melihat sudut pandang Anda, tetapi saya memiliki pertimbangan yang berbeda.”

Tidak setuju dengan rekan kerja bukan berarti harus membuat salah satu pihak menjadi pemenang dan pihak lainnya kalah.

Perbedaan pendapat sering kali muncul karena setiap orang memiliki pengalaman, informasi, atau prioritas yang berbeda.

Daripada mengatakan “Anda salah”, kalimat “Saya melihat sudut pandang Anda, tetapi saya memiliki pertimbangan yang berbeda” memungkinkan seseorang mempertahankan pendapat tanpa terdengar agresif.

Frasa ini sangat berguna ketika menyampaikan keberatan dalam rapat.

Misalnya, sebuah strategi dinilai memiliki risiko besar. Daripada langsung menyebut ide tersebut buruk, seseorang dapat menjelaskan sudut pandangnya beserta alasan dan data yang mendukung.

Dengan demikian, diskusi tetap terbuka dan tidak berubah menjadi pertarungan ego.

5. “Saya rasa kita sebaiknya tidak membuat asumsi sebelum mengecek faktanya.”

Asumsi yang tidak didukung fakta dapat menjadi sumber konflik di lingkungan kerja.

Seorang karyawan mungkin dianggap sengaja terlambat mengirim laporan, padahal terdapat kendala teknis. Sebaliknya, seseorang bisa dianggap tidak produktif karena pekerjaan yang dilakukannya tidak terlihat oleh orang lain.

Dalam situasi seperti itu, kalimat “Saya rasa kita sebaiknya tidak membuat asumsi sebelum mengecek faktanya” dapat menjadi teguran yang lebih objektif.

Frasa tersebut tidak menyebut seseorang ceroboh atau tidak kompeten. Anda hanya mengajak semua pihak kembali pada informasi yang dapat diverifikasi.

Kebiasaan memeriksa fakta sebelum mengambil kesimpulan juga penting untuk mencegah kesalahpahaman yang lebih besar, terutama dalam pekerjaan yang melibatkan data, klien, keuangan, atau keputusan bisnis.

6. “Saya memahami Anda sedang frustrasi, tetapi mari kita bicarakan dengan tenang.”

Ada kalanya seseorang memang memiliki alasan untuk marah atau frustrasi. Target pekerjaan tidak tercapai, pekerjaan terlambat, sistem bermasalah, atau keputusan tertentu bisa memicu emosi.

Namun, memahami emosi seseorang bukan berarti membiarkan perilaku yang tidak menghormati orang lain.

Kalimat “Saya memahami Anda sedang frustrasi, tetapi mari kita bicarakan dengan tenang” dapat digunakan untuk mengakui perasaan sekaligus menetapkan batas.

Pendekatan ini membantu meredakan situasi tanpa membalas kemarahan dengan kemarahan.

Setelah emosi mereda, pembahasan mengenai persoalan sebenarnya biasanya dapat dilakukan dengan lebih produktif.

Dalam lingkungan kerja, kemampuan mengendalikan eskalasi konflik merupakan bagian penting dari komunikasi profesional.

7. “Saya tidak ingin memberikan informasi yang keliru, jadi sebaiknya kita cek terlebih dahulu.”

Mengakui bahwa seseorang belum mengetahui jawaban atas sebuah persoalan bukan tanda kelemahan.

Sebaliknya, kesediaan untuk mengatakan “Saya perlu mengeceknya terlebih dahulu” menunjukkan kehati-hatian dan tanggung jawab.

Frasa tersebut juga dapat digunakan ketika menghadapi rekan kerja yang menyampaikan informasi tanpa melakukan verifikasi.

Daripada mengatakan “Kamu tidak tahu apa-apa”, pembicaraan dapat diarahkan pada pentingnya memastikan informasi sebelum digunakan.

Pendekatan ini membuat koreksi terdengar objektif karena yang dipersoalkan adalah keakuratan informasi, bukan kemampuan pribadi seseorang.

Dalam pekerjaan yang berkaitan dengan data, hukum, keuangan, kesehatan, teknologi, atau keputusan bisnis, kebiasaan memeriksa informasi bahkan menjadi semakin penting.

8. “Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa pun, tetapi kita perlu memperbaiki bagian ini.”

Ketika kesalahan terjadi dalam sebuah tim, mencari orang yang harus disalahkan sering menjadi respons pertama.

Masalahnya, jika setiap kesalahan langsung berubah menjadi sesi saling menyalahkan, anggota tim bisa menjadi takut mengakui kekeliruan.

Kalimat “Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa pun, tetapi kita perlu memperbaiki bagian ini” membantu menggeser perhatian dari individu menuju persoalan yang harus diselesaikan.

Tentu saja, pertanggungjawaban tetap diperlukan ketika terjadi kesalahan serius. Namun, pembicaraan awal dapat diarahkan pada penyebab masalah, dampaknya, dan langkah perbaikan.

Cara tersebut juga dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman untuk berdiskusi. Anggota tim akan lebih terbuka mengakui kesalahan jika mereka memahami bahwa tujuan pembicaraan adalah memperbaiki keadaan, bukan mempermalukan seseorang.

Cerdas Berkomunikasi Bukan Berarti Selalu Menghindari Konflik

Kemampuan berkomunikasi dengan baik bukan berarti seseorang harus selalu menghindari perbedaan pendapat.

Dalam dunia kerja, kritik, koreksi, dan ketidaksetujuan merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan. Yang membedakan adalah bagaimana hal tersebut disampaikan.

Delapan frasa di atas bukan kalimat ajaib yang dapat menyelesaikan seluruh konflik. Efektivitasnya tetap bergantung pada situasi, hubungan antara pihak yang berbicara, nada suara, bahasa tubuh, serta kesediaan masing-masing untuk mendengarkan.

Prinsip yang paling penting adalah mengarahkan kritik pada fakta, tindakan, proses, dampak, dan solusi, bukan menyerang kepribadian seseorang.

Menegur dengan tenang juga bukan berarti bersikap lemah. Justru, kemampuan menyampaikan hal yang sulit tanpa merendahkan orang lain merupakan salah satu keterampilan komunikasi yang penting di lingkungan profesional.

Pada akhirnya, teguran yang baik bukan tentang siapa yang menang dalam percakapan, melainkan bagaimana sebuah masalah dapat diselesaikan tanpa merusak hubungan kerja. (*)

Editor : Putut Ariyo
karier Komunikasi Kerja Tips Kerja dunia kerja psikologi