6 Kebiasaan Mencuci yang Diam-diam Bikin Boros Air

jpg • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi mencuci baju. (Magnific)
Ilustrasi mencuci baju. (Magnific)

batampos - Mencuci menjadi salah satu aktivitas rumah tangga yang membutuhkan cukup banyak air. Mulai dari merendam, membersihkan noda, hingga membilas pakaian membutuhkan beberapa tahapan yang jika tidak dilakukan secara efisien dapat meningkatkan konsumsi air.

Pemborosan air saat mencuci kerap terjadi tanpa disadari. Salah satunya adalah mencuci pakaian dalam jumlah sedikit tetapi dilakukan berulang kali.

Kebiasaan tersebut membuat mesin cuci menjalankan beberapa siklus pencucian, sementara setiap siklus membutuhkan air dalam jumlah tertentu.

Selain itu, mencampur pakaian dengan tingkat kekotoran berbeda juga dapat membuat proses pencucian kurang efisien. Pakaian dengan noda membandel membutuhkan proses pencucian lebih lama sehingga konsumsi air dan energi dapat meningkat.

Dikutip dari Evewash dan Aqua Elektronik pada Jumat (18/9), terdapat sejumlah kebiasaan mencuci yang dapat membuat penggunaan air di rumah menjadi lebih boros, terutama saat musim kemarau.

1. Tidak Merendam Pakaian

Merendam pakaian sebelum dicuci dapat membantu melonggarkan noda dan kotoran yang menempel pada kain.

Perendaman selama sekitar 15-30 menit dapat membuat kotoran lebih mudah terangkat ketika pakaian dicuci. Dengan begitu, proses pencucian tidak perlu dilakukan terlalu lama atau berulang kali.

2. Mencuci Pakaian Sedikit demi Sedikit

Mencuci pakaian dalam jumlah sedikit secara berulang dapat meningkatkan penggunaan air karena mesin cuci membutuhkan air pada setiap siklus pencucian.

Karena itu, mencuci ketika pakaian sudah terkumpul dalam jumlah yang sesuai dengan kapasitas mesin dapat membantu mengoptimalkan penggunaan air.

Cara tersebut juga dapat membuat penggunaan deterjen lebih efisien karena deterjen dapat tercampur dan tersebar secara lebih merata pada pakaian.

Namun, pakaian tetap perlu disesuaikan dengan kapasitas mesin agar proses pencucian berjalan optimal.

3. Salah Memilih Deterjen

Pemilihan deterjen juga berpengaruh terhadap efisiensi pencucian. Deterjen dengan konsentrasi tinggi dan formula yang sesuai dapat membantu mengangkat noda tanpa membutuhkan proses pencucian berulang.

Penggunaan deterjen yang tepat juga dapat mengurangi kebutuhan untuk membilas pakaian berkali-kali akibat sisa sabun yang masih menempel.

4. Menggunakan Program Cuci yang Tidak Sesuai

Setiap pakaian memiliki tingkat kekotoran dan kebutuhan pencucian yang berbeda. Menggunakan program pencucian yang terlalu lama untuk pakaian yang hanya sedikit kotor dapat membuat penggunaan air dan energi menjadi lebih besar.

Pilih program sesuai jenis bahan dan tingkat kekotoran pakaian. Untuk pakaian yang tidak terlalu kotor, program pencucian singkat dapat menjadi pilihan.

5. Tidak Memilih Mode Cuci yang Sesuai

Jenis mesin cuci juga berpengaruh terhadap konsumsi air. Mesin cuci bukaan depan atau front load pada umumnya menggunakan air lebih sedikit dibandingkan sejumlah tipe mesin cuci lainnya.

Teknologi pada mesin cuci front load memungkinkan pakaian terkena campuran air dan deterjen secara lebih efektif meski volume air yang digunakan relatif lebih sedikit.

Namun, tingkat penghematan tetap bergantung pada kapasitas, teknologi, program pencucian, serta cara penggunaan mesin.

6. Selalu Menggunakan Air Hangat

Untuk pakaian sehari-hari yang tidak terlalu kotor, penggunaan air dingin dapat menjadi pilihan yang lebih efisien.

Siklus pencucian dengan air dingin dapat membantu menghemat energi karena mesin tidak perlu memanaskan air. Pilih pengaturan suhu dan program pencucian sesuai jenis pakaian serta tingkat kekotorannya.

Dengan memperhatikan jumlah pakaian, pilihan deterjen, program pencucian, dan pengaturan mesin, penggunaan air saat mencuci dapat menjadi lebih efisien. Kebiasaan sederhana tersebut juga dapat membantu mengurangi konsumsi energi di rumah, terutama saat musim kemarau. (*)

Editor : Putut Ariyo
rumah tangga Tips Mencuci Mesin Cuci musim kemarau hemat air