batampos - Menjalani hidup yang lebih bahagia setelah memasuki usia 40 tahun tidak selalu berarti harus menambah banyak hal baru. Bagi sebagian orang, kebahagiaan justru dapat dimulai dengan melepaskan kebiasaan yang selama ini menguras energi.
Memasuki usia 40-an, seseorang dapat mulai menyadari bahwa hidup yang lebih tenang bukan hanya tentang mengejar pencapaian, tetapi juga mengetahui hal-hal yang perlu ditinggalkan.
Sejumlah pandangan psikologi menyoroti pentingnya melepaskan pola perilaku yang tidak lagi memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Dilansir dari YourTango pada Selasa (22/9), terdapat delapan kebiasaan yang dapat dipertimbangkan untuk dihentikan agar seseorang dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan fokus pada kesejahteraan diri.
1. Berhenti Mencari Persetujuan dari Orang Lain
Menghabiskan energi untuk membuat semua orang senang dapat menjadi kebiasaan yang melelahkan. Upaya mendapatkan persetujuan dari orang lain juga dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dan nilai-nilai pribadinya.
Seiring bertambahnya usia, seseorang dapat belajar bahwa pendapat orang lain mengenai pilihan hidup bukan sepenuhnya tanggung jawab yang harus dipikul.
Mengurangi kebutuhan akan validasi eksternal dapat memberi ruang untuk menjalani hidup berdasarkan nilai dan tujuan pribadi.
2. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Perbandingan sosial dapat membuat seseorang terus merasa kurang karena selalu ada orang lain yang tampak lebih sukses, lebih kaya, atau lebih beruntung.
Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Karena itu, mengukur pencapaian diri berdasarkan kehidupan orang lain tidak selalu menjadi cara yang sehat untuk menilai perkembangan pribadi.
Fokus pada kemajuan diri, sekecil apa pun, dapat membantu seseorang melihat perubahan yang telah dicapai tanpa terus terjebak dalam perbandingan.
3. Berhenti Mengkhawatirkan Hal yang Tidak Bisa Dikendalikan
Kekhawatiran terhadap masa depan atau situasi yang tidak dapat diubah dapat menghabiskan waktu dan energi.
Menerima bahwa ketidakpastian merupakan bagian dari kehidupan dapat membantu seseorang mengarahkan perhatian pada hal-hal yang masih bisa dilakukan.
Alih-alih terus memikirkan kemungkinan buruk, fokus pada tindakan yang dapat dilakukan saat ini dapat menjadi cara untuk menghadapi persoalan secara lebih realistis.
4. Berhenti Mempertahankan Hubungan yang Menguras Energi
Tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan cara yang sama. Hubungan yang secara konsisten membuat seseorang merasa tertekan atau tidak dihargai dapat menjadi sumber kelelahan emosional.
Menetapkan batasan yang sehat dan mengurangi interaksi yang merugikan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri.
Waktu dan energi juga dapat dialihkan untuk membangun hubungan yang saling menghargai dan memberikan dukungan.
5. Berhenti Menunda Hal Penting dalam Hidup
Prokrastinasi atau kebiasaan menunda pekerjaan dan keputusan penting dapat membuat seseorang semakin jauh dari tujuan yang ingin dicapai.
Menunggu waktu atau kondisi yang benar-benar sempurna juga dapat membuat sebuah rencana tidak pernah dimulai.
Mengambil langkah kecil secara konsisten dapat menjadi pendekatan yang lebih realistis dibandingkan menunggu motivasi atau kesempatan yang ideal.
6. Berhenti Terlalu Serius terhadap Diri Sendiri
Kemampuan untuk menertawakan kesalahan kecil dan menerima ketidaksempurnaan dapat membantu seseorang menghadapi kehidupan dengan lebih ringan.
Kesempurnaan merupakan standar yang sulit dicapai. Kesalahan maupun kegagalan kecil juga merupakan bagian dari proses belajar.
Dengan tidak terlalu keras terhadap diri sendiri, seseorang dapat lebih mudah menerima kekurangan dan kembali melanjutkan langkah setelah menghadapi kegagalan.
7. Berhenti Mengabaikan Kebutuhan dan Kesehatan Diri
Terus-menerus mendahulukan kebutuhan orang lain sambil mengabaikan diri sendiri dapat membuat seseorang kehabisan energi.
Merawat diri, menjaga pola hidup, beristirahat cukup, serta memperhatikan kondisi fisik dan mental menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup.
Memprioritaskan kebutuhan diri bukan berarti mengabaikan orang lain. Justru, kondisi diri yang terjaga dapat membantu seseorang menjalankan tanggung jawab dan hadir bagi orang-orang terdekat.
8. Berhenti Terjebak di Masa Lalu atau Terlalu Jauh Memikirkan Masa Depan
Penyesalan terhadap masa lalu dan kekhawatiran berlebihan tentang masa depan dapat membuat seseorang kehilangan perhatian terhadap kehidupan yang sedang dijalani.
Masa lalu tidak dapat diubah, sedangkan masa depan belum sepenuhnya dapat dipastikan. Karena itu, mengarahkan perhatian pada hal-hal yang dapat dilakukan saat ini dapat membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih sadar.
Melatih diri untuk hadir dalam aktivitas sehari-hari, termasuk menikmati hal-hal sederhana, dapat menjadi salah satu cara untuk membangun keseimbangan dan kualitas hidup.
Pada akhirnya, memasuki usia 40 tahun bukan berarti seseorang harus memiliki kehidupan yang sempurna. Melepaskan kebiasaan yang tidak lagi memberikan manfaat dapat menjadi salah satu langkah untuk menjalani hidup dengan lebih tenang, sehat, dan sesuai dengan nilai pribadi. (*)
Editor : Cipi Ckandina