7 Keluhan di Tempat Kerja yang Bisa Menunjukkan Rendahnya Semangat Kerja Menurut Psikologi

JawaPos • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 23:30 WIB
Keluhan orang malas bekerja sebagai tanda tidak punya semangat kerja menurut psikologi. (Magnific)
Keluhan orang malas bekerja sebagai tanda tidak punya semangat kerja menurut psikologi. (Magnific)

batampos - Keluhan di tempat kerja merupakan hal yang wajar. Namun, jika keluhan terus berulang tanpa disertai upaya mencari solusi atau memperbaiki keadaan, pola tersebut dapat memengaruhi produktivitas dan hubungan seseorang dengan lingkungan kerja.

Keluhan mengenai beban pekerjaan, gaji, atasan, aturan, hingga perubahan sistem dapat muncul karena berbagai alasan. Karena itu, satu jenis keluhan tidak serta-merta menunjukkan seseorang malas atau memiliki etos kerja yang rendah.

Namun, jika keluhan menjadi pola dan selalu disertai keengganan untuk mengambil tanggung jawab, mengevaluasi diri, atau beradaptasi, kondisi tersebut patut diperhatikan.

Dilansir dari YourTango pada Selasa (22/9), berikut tujuh jenis keluhan di tempat kerja yang dapat menjadi tanda seseorang memiliki masalah dengan motivasi atau semangat kerja.

1. Mengeluh Pekerjaan Terlalu Banyak, tetapi Tidak Diimbangi Produktivitas

Merasa kewalahan dengan pekerjaan tidak selalu berarti seseorang malas. Beban kerja yang memang berlebihan dapat menjadi alasan yang valid untuk menyampaikan keluhan.

Namun, persoalan dapat muncul ketika keluhan terus disampaikan sementara pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya tidak diselesaikan secara optimal.

Kemampuan mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menyelesaikan tugas menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering seseorang mengeluh, tetapi juga bagaimana ia mengelola pekerjaan dan mencari solusi ketika menghadapi beban kerja.

2. Terus Mengeluhkan Gaji Tanpa Berusaha Meningkatkan Kontribusi

Ketidakpuasan terhadap gaji merupakan persoalan yang dapat dialami pekerja. Kompensasi juga perlu dilihat berdasarkan tanggung jawab, kondisi perusahaan, kinerja, dan faktor lain yang relevan.

Namun, jika keluhan mengenai gaji terus muncul tanpa dibarengi upaya meningkatkan keterampilan, kinerja, atau kontribusi, hal tersebut dapat menjadi pola yang kurang produktif.

Mengevaluasi kemampuan dan mencari peluang pengembangan diri dapat menjadi langkah yang lebih konstruktif daripada sekadar membandingkan pendapatan dengan orang lain.

3. Selalu Menyalahkan Rekan Kerja atau Atasan

Ketika mengalami kegagalan, seseorang dapat mencari berbagai penyebab dari hasil yang tidak sesuai harapan. Namun, kebiasaan selalu menyalahkan orang lain tanpa mengevaluasi kontribusi diri sendiri dapat menghambat perkembangan profesional.

Kemampuan melakukan introspeksi dan mengakui bagian yang dapat diperbaiki merupakan aspek penting dalam proses belajar.

Dengan mengevaluasi kesalahan secara objektif, seseorang dapat menemukan strategi yang lebih baik untuk menghadapi persoalan serupa di kemudian hari.

4. Terus Mengeluhkan Perubahan Tanpa Mau Beradaptasi

Lingkungan kerja dapat mengalami perubahan, mulai dari kebijakan perusahaan, teknologi, sistem kerja, hingga pembagian tugas.

Perubahan memang tidak selalu mudah diterima dan pekerja berhak menyampaikan keberatan apabila terdapat dampak yang merugikan.

Namun, terus menolak perubahan tanpa berusaha memahami atau menyesuaikan diri dapat menghambat perkembangan seseorang.

Kemampuan beradaptasi dan mempelajari keterampilan baru menjadi semakin penting ketika tuntutan pekerjaan berubah.

5. Selalu Menganggap Peraturan Tidak Adil

Peraturan di tempat kerja dapat diperdebatkan dan dalam beberapa situasi memang perlu dievaluasi apabila penerapannya tidak konsisten.

Namun, merasa setiap aturan merupakan beban atau selalu menganggap diri sendiri menjadi pihak yang dirugikan dapat membuat seseorang sulit bekerja secara efektif dalam sebuah tim.

Daripada hanya mengeluhkan aturan, pekerja dapat menyampaikan keberatan melalui jalur yang tersedia dan memberikan alasan atau usulan yang konstruktif.

6. Menganggap Pengembangan Diri sebagai Beban

Pelatihan, workshop, dan kegiatan peningkatan keterampilan terkadang terasa seperti tambahan pekerjaan, terutama ketika dilakukan di tengah kesibukan.

Namun, menolak setiap kesempatan belajar tanpa mempertimbangkan manfaatnya dapat membuat kemampuan seseorang sulit berkembang.

Pengembangan keterampilan dapat membantu pekerja menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan industri dan meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas.

Karena itu, melihat proses belajar sebagai bagian dari perkembangan karier dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

7. Terus Mengeluhkan Lingkungan Kerja Tanpa Mencari Solusi

Keluhan mengenai budaya perusahaan, suasana kantor, atau dinamika tim tidak selalu menunjukkan rendahnya semangat kerja. Dalam beberapa kasus, keluhan justru dapat menjadi cara menyampaikan persoalan yang perlu diperbaiki.

Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah keluhan tersebut disertai upaya untuk mencari solusi.

Mengomunikasikan masalah secara tepat, memberikan masukan, atau mengambil langkah yang masih berada dalam kendali diri dapat menjadi pendekatan yang lebih konstruktif.

Sebaliknya, terus mengeluh tanpa berusaha melakukan perubahan apa pun dapat menciptakan pola negatif yang berpengaruh terhadap produktivitas dan hubungan dalam tim.

Pada akhirnya, semangat kerja tidak dapat dinilai hanya dari seberapa sering seseorang mengeluh. Faktor seperti kondisi pekerjaan, beban tugas, kompensasi, hubungan dengan atasan, lingkungan kerja, serta kesempatan berkembang juga perlu dipertimbangkan.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons persoalan tersebut. Kemampuan mengevaluasi diri, mencari solusi, berkomunikasi, dan mengambil tanggung jawab dapat menjadi bagian dari sikap profesional di tempat kerja. (*)

Editor : Cipi Ckandina
tempat keluhan kerja psikologi