batampos - Memasuki masa pasca menopause bukan berarti seluruh masalah kesehatan organ reproduksi otomatis berakhir. Rahim dan ovarium tetap dapat mengalami berbagai kondisi medis yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan.
Setelah menopause, perubahan hormonal menyebabkan kadar estrogen menurun dan sejumlah jaringan reproduksi mengalami perubahan. Namun, beberapa gangguan pada organ panggul masih dapat muncul atau menetap dan memengaruhi kualitas hidup.
Dilansir dari laman The Ohio State University, Rabu (23/9), histerektomi atau operasi pengangkatan rahim tidak hanya dilakukan untuk menangani kanker. Pada kondisi tertentu, prosedur tersebut dapat menjadi pilihan penanganan masalah non-kanker yang tidak membaik dengan terapi lain.
Perubahan struktur panggul dan melemahnya jaringan penyangga seiring bertambahnya usia juga dapat menyebabkan gangguan pada organ panggul.
Berikut lima kondisi yang dapat menjadi pertimbangan medis untuk melakukan histerektomi pada wanita pasca menopause:
1. Prolaps Organ Panggul
Seiring bertambahnya usia, otot dan ligamen yang menopang organ panggul dapat melemah. Kondisi ini dapat menyebabkan rahim turun dan menekan atau menonjol ke arah vagina.
Prolaps organ panggul dapat menimbulkan rasa mengganjal, tekanan atau nyeri di area panggul, serta gangguan saat beraktivitas. Pada kondisi tertentu, histerektomi dapat menjadi bagian dari prosedur untuk memperbaiki prolaps.
2. Pendarahan Vagina Setelah Menopause
Pendarahan vagina setelah menopause merupakan kondisi yang perlu diperiksakan karena dapat menjadi tanda adanya gangguan pada rahim atau lapisan endometrium.
Jika pemeriksaan menemukan hiperplasia endometrium atau kondisi tertentu yang tidak membaik dengan pengobatan, dokter dapat mempertimbangkan histerektomi sesuai kondisi pasien.
3. Nyeri Panggul Kronis atau Miom yang Menimbulkan Gejala
Miom umumnya dapat mengecil setelah menopause akibat penurunan kadar estrogen. Namun, pada sebagian wanita, miom tetap dapat bertahan dan menimbulkan tekanan, perdarahan, atau nyeri panggul.
Jika keluhan berlangsung terus-menerus dan penanganan lain tidak memberikan hasil yang memadai, histerektomi dapat menjadi salah satu pilihan terapi.
4. Endometriosis atau Adenomiosis yang Menetap
Endometriosis atau adenomiosis dapat menyebabkan nyeri dan peradangan pada area panggul. Meski aktivitas penyakit umumnya dipengaruhi oleh hormon estrogen, sebagian wanita dapat tetap mengalami gejala setelah menopause.
Pada kondisi tertentu yang menetap dan menimbulkan keluhan berat, dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi, termasuk histerektomi.
5. Risiko Tinggi Kanker
Pada wanita dengan risiko genetik tertentu, tindakan pencegahan dapat menjadi bagian dari strategi pengurangan risiko kanker.
Salah satunya pada pembawa mutasi gen tertentu yang berkaitan dengan Lynch syndrome. Dalam kondisi yang memenuhi kriteria medis, dokter dapat mendiskusikan tindakan pengangkatan rahim dan organ reproduksi tertentu untuk mengurangi risiko kanker di kemudian hari.
Secara keseluruhan, kebutuhan untuk menjalani histerektomi setelah menopause sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Histerektomi bukan prosedur yang otomatis diperlukan oleh setiap wanita setelah menopause.
Wanita yang mengalami pendarahan setelah menopause, rasa mengganjal atau tekanan di panggul, maupun nyeri yang menetap sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan menentukan pilihan penanganan yang sesuai.(*)
Editor : Cipi Ckandina