Google Buka Alat untuk Cek Foto, Video, dan Audio Buatan AI

jpg • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 21:32 WIB
Google buka tools untuk mendeteksi konten AI. (Google)
Google buka tools untuk mendeteksi konten AI. (Google)

batampos – Google mulai membuka akses SynthID Detector untuk publik secara global. Alat ini memungkinkan pengguna memeriksa apakah gambar, video, atau audio yang mereka temui dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Perluasan akses tersebut dilakukan ketika konten sintetis semakin sulit dibedakan dari konten yang dibuat atau direkam secara konvensional. Kondisi ini membuat teknologi untuk membantu mengenali asal-usul sebuah konten semakin dibutuhkan di tengah derasnya informasi di internet.

SynthID Detector bekerja dengan mendeteksi watermark digital yang tidak terlihat oleh mata. Watermark tersebut ditanamkan pada media yang dibuat menggunakan teknologi AI dari Google maupun sejumlah mitranya.

Dengan sistem tersebut, pengguna dapat mengunggah konten untuk diperiksa dan melihat apakah media tersebut memiliki tanda yang dapat dikaitkan dengan teknologi AI yang mendukung SynthID.

Google menjelaskan melalui blog resminya bahwa watermark SynthID tidak berupa tanda visual yang dapat dilihat secara langsung. Teknologi tersebut dirancang agar tetap dapat menjadi petunjuk mengenai asal-usul konten meskipun gambar, video, atau audio telah beredar di internet.

SynthID Detector Kini Bisa Diakses Publik

Sebelumnya, SynthID Detector masih tersedia dalam tahap awal dan ditujukan bagi kalangan profesional media yang membutuhkan alat tambahan untuk melakukan verifikasi konten AI.

Kini, aksesnya diperluas kepada masyarakat umum dan tersedia secara global dalam bahasa Inggris. Perubahan tersebut membuat pemeriksaan terhadap konten yang diduga dibuat AI tidak lagi terbatas pada organisasi media atau profesional.

Google menyebut SynthID Detector dapat digunakan untuk memeriksa konten yang dibuat menggunakan teknologi AI dari Google dan sejumlah mitranya, termasuk OpenAI, NVIDIA, dan Kakao. Dukungan untuk Apple juga disebut akan hadir dalam waktu dekat.

Perluasan akses ini menjadi relevan seiring semakin mudahnya masyarakat membuat gambar, video, maupun audio yang terlihat meyakinkan dengan bantuan AI.

Kemampuan membedakan konten sintetis dan konten asli kini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi kreatif. Konten yang dibuat AI juga dapat digunakan untuk memanipulasi konteks sebuah peristiwa, menyebarkan informasi menyesatkan, atau menghasilkan materi yang terlihat seperti dokumentasi nyata.

Tanpa konteks yang cukup, pengguna internet dapat kesulitan mengetahui apakah sebuah foto, video, atau rekaman suara benar-benar menggambarkan kejadian di dunia nyata.

SynthID Sudah Digunakan pada Skala Besar

Google pertama kali memperkenalkan SynthID pada 2023 sebagai sistem watermark untuk membantu mengidentifikasi konten yang dibuat menggunakan AI.

Sejak diperkenalkan, Google menyebut SynthID telah digunakan untuk memberikan watermark pada lebih dari 180 miliar gambar dan video. Teknologi tersebut juga digunakan pada konten audio dengan total durasi mencapai sekitar 240.000 tahun.

Skala tersebut menggambarkan semakin besarnya kebutuhan terhadap sistem yang dapat membantu memberikan informasi mengenai asal-usul konten digital.

Selain SynthID Detector, Google juga mengembangkan sejumlah fitur verifikasi yang terintegrasi dengan layanan seperti Search, aplikasi Gemini, dan Chrome. Menurut Google, berbagai fitur tersebut kini menangani lebih dari 1 juta permintaan verifikasi setiap hari.

Deteksi AI Bukan Pengganti Cek Fakta

Meski dapat membantu mengenali konten yang dibuat AI, watermark dan alat pendeteksi seperti SynthID Detector bukan berarti dapat menentukan apakah informasi dalam sebuah konten benar atau salah.

Pengguna tetap perlu memeriksa konteks, sumber, waktu publikasi, serta informasi lain yang menyertai sebuah gambar, video, maupun rekaman audio.

Artinya, mengetahui bahwa sebuah media dibuat menggunakan AI berbeda dengan memastikan kebenaran informasi yang disampaikan melalui media tersebut.

SynthID Detector lebih tepat diposisikan sebagai salah satu lapisan verifikasi tambahan. Kemampuan tersebut dapat membantu pengguna memahami asal-usul sebuah konten, tetapi tetap perlu dilengkapi dengan pemeriksaan fakta dan penilaian terhadap sumber informasi.

Google menyebut perluasan akses SynthID Detector merupakan bagian dari upaya memberikan lebih banyak konteks kepada pengguna ketika mereka menemukan media di internet.

Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, proses mengenali konten sintetis pun perlahan tidak lagi hanya mengandalkan intuisi manusia. Teknologi watermark dan sistem verifikasi dapat menjadi alat tambahan bagi pengguna untuk memahami konten yang mereka temui sebelum mempercayai atau menyebarkannya. (*)

Editor : Putut Ariyo
SynthID Konten AI AI kecerdasan buatan google