batampos - Film horor Indonesia Hasut menawarkan pendekatan berbeda dengan membangun teror psikologis melalui permainan suara. Dalam debut penyutradaraan film panjangnya, Ilya Sigma tidak mengandalkan penampakan atau sosok supernatural, melainkan menghadirkan ketakutan dari suara misterius yang memancing imajinasi penonton.
Film produksi Tuta Films yang tengah tayang di bioskop ini mengangkat tema luka batin dan trauma masa lalu. Gagasan tersebut diwujudkan melalui empat karakter utama yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.
Keempat karakter membawa beban masa lalu yang belum terselesaikan ketika memasuki sebuah hutan. Situasi semakin mencekam saat mereka mulai mendengar suara-suara misterius yang sulit dipercaya sumbernya.
Alih-alih memperlihatkan sosok menyeramkan secara langsung, Ilya memilih menjadikan elemen audio sebagai sumber teror utama. Permainan suara dirancang untuk menciptakan rasa tidak nyaman sekaligus membuat penonton mempertanyakan apa yang sebenarnya mereka dengar.
“Secara personal, aku lebih takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak. Karena ketika suara itu ada ruang di kepala kita, di ruang itu kita membayangkan, seperti apa bentuknya atau dari mana asalnya?” ujar Ilya Sigma dalam keterangannya, Senin (12/10).
Handy Talkie Jadi Medium Teror dalam Film Hasut
Salah satu perangkat yang digunakan untuk membangun ketegangan dalam Hasut adalah handy talkie (HT). Perangkat komunikasi yang lazim digunakan dalam produksi film ini dieksplorasi sebagai medium penyampai suara misterius yang sumbernya tidak selalu dapat dikenali.
Ilya mengolah karakteristik suara HT, mulai dari noise, suara statis, hingga frekuensi yang terputus-putus. Elemen tersebut menciptakan ketidakpastian dan mendorong penonton menebak siapa yang berbicara serta seperti apa sosok di balik suara tersebut.
“Jadi HT itu menurut aku jadi medium yang sangat menarik. Karena kalau ada suara dari HT terkadang membuat aku berpikir, ‘Ini yang ngomong siapa ya?’ Dan biasanya dari suara-suara yang keluar itu kita sudah membayangkan bentuknya seperti apa,” jelas Ilya.
Pendekatan ini menempatkan imajinasi sebagai bagian penting dari pengalaman menonton. Ketika sumber suara tidak terlihat, penonton memiliki ruang untuk membayangkan sendiri bentuk, asal, dan ancaman yang mungkin tersembunyi di baliknya.
Debut Penyutradaraan Ilya Sigma Berangkat dari Refleksi Personal
Bagi Ilya, Hasut bukan sekadar pengalaman baru di balik kamera, tetapi juga ruang untuk menyampaikan refleksi personal. Perempuan yang telah berkecimpung di industri perfilman sejak 2010 itu lebih dikenal melalui kiprahnya sebagai penulis skenario.
Sejumlah film yang pernah melibatkan Ilya sebagai penulis antara lain Catatan Harian Si Boy (2011), Rectoverso: Curhat Buat Sahabat (2013), Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016), dan A Man Called Ahok (2018). Ia juga pernah menyutradarai film omnibus Pintu Harmonika (2013).
Di luar industri film, Ilya mendirikan Aksara Jiva, ruang kreatif reflektif yang memadukan kegiatan menulis, penyelidikan diri atau self-inquiry, serta penceritaan yang berorientasi pada pemulihan atau healing.
Pengalaman tersebut turut memengaruhi gagasan yang diangkat dalam Hasut. Menurut Ilya, seseorang terkadang terhambat melakukan sesuatu karena pengaruh suara dari luar yang kemudian diyakini sebagai pemikiran sendiri.
“Film ini juga menjadi refleksi bagiku secara personal. Aku sudah lama juga sebenarnya di industri film. Dan yang sering menghambat itu sebenarnya ketika hasutan itu masuk ke kepala kita dan kita yakin sekali itu suara kita sendiri. Padahal, itu hasutan-hasutan yang muncul dari luar dan bisa menghambat kita untuk memulai dan melakukan sesuatu. Seperti saat aku membuat film feature pertamaku, aku merasa sepertinya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu semua,” ujar Ilya.
Film Hasut ditulis dan disutradarai oleh Ilya Sigma, dengan Putrama Tuta dan Siera Tamihardja sebagai produser serta Nick Musa sebagai ko-produser. Film ini dibintangi Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova, serta dapat disaksikan di bioskop. (*)
Editor : Putut Ariyo