Batampos - Warga Desa Marok Kecil, Kecamatan Singkep Selatan, Kabupaten Lingga, mengeluhkan kondisi bus sekolah yang sudah berbulan-bulan tidak beroperasi akibat mengalami kerusakan. Akibatnya, sejumlah siswa terpaksa berjalan kaki untuk pergi dan pulang sekolah.
Bus sekolah yang tidak berfungsi tersebut membuat para pelajar harus menempuh perjalanan ratusan meter, bahkan lebih, demi bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar. Jarak dari Desa Marok Kecil menuju sekolah tingkat SMP maupun SMA yang berada di Desa Resang terbilang cukup jauh.
Kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena rute yang dilalui siswa dikelilingi kawasan hutan dan akan semakin menyulitkan saat cuaca hujan.
Topik, salah satu warga Desa Marok Kecil, mengatakan bus sekolah sudah tidak beroperasi selama berbulan-bulan. Akibatnya, banyak anak-anak terpaksa berjalan kaki ke sekolah.
“Bus sekolah sudah lama tidak jalan. Anak-anak terpaksa berjalan kaki ke sekolah,” ujar Topik, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Disnaker Ungkap Belum Ada Pengusaha Ajukan Keberatan Terkait Kenaikan UMK Bintan
Ia menjelaskan, bagi warga yang memiliki sepeda motor, anak-anak masih bisa diantar ke sekolah. Namun, bagi keluarga yang tidak memiliki kendaraan, pilihan satu-satunya adalah berjalan kaki.
“Kalau orang tua punya motor masih bisa mengantar. Tapi yang tidak punya, anaknya terpaksa jalan kaki,” katanya.
Topik berharap pemerintah daerah dapat segera memperbaiki bus sekolah tersebut agar kembali beroperasi dan meringankan beban para siswa.
“Kami minta tolong kepada pemerintah supaya bus ini segera diperbaiki. Kasihan anak-anak harus berjalan jauh untuk menuntut ilmu,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Singkep Selatan, Muzzilin Hasibuan, membenarkan bahwa bus sekolah di Desa Marok Kecil memang tidak beroperasi sejak Juli 2025 akibat mengalami banyak kerusakan.
“Iya benar, bus tersebut sudah tidak beroperasi sejak Juli 2025 karena banyak kerusakan,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Baca Juga: HUNTR/X Tembus Radio Pop Lewat “How It’s Done” dari KPop Demon Hunters
Muzzilin menjelaskan, pada tahun 2025 tidak tersedia anggaran pemeliharaan bus sekolah. Bahkan, dirinya bersama Kepala Desa Marok Kecil sempat menggunakan dana pribadi untuk memperbaiki kendaraan tersebut.
“Karena tidak ada anggaran pemeliharaan, saya dan Kepala Desa Marok Kecil patungan menggunakan uang pribadi untuk memperbaiki bus,” jelasnya.
Awalnya, perbaikan bus sekolah ditargetkan rampung pada akhir September 2025 agar bisa kembali beroperasi. Namun keterbatasan anggaran membuat proses perbaikan belum dapat diselesaikan hingga Januari 2026.
“Target awal akhir September 2025 selesai, tapi karena keterbatasan anggaran dan hanya mengandalkan dana pribadi, sampai sekarang bus belum siap beroperasi,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya belum dapat memastikan kapan bus sekolah tersebut selesai diperbaiki dan kembali beroperasi, karena masih menunggu informasi dari pihak bengkel.
“Besok saya rencananya akan ke bengkel untuk melihat langsung progres perbaikan bus sekolah ini,” pungkasnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak