Batampos - Nasi manis atau dodol beras ketan. Oleh masyarakat Melayu Lingga, ini merupakan makanan tradisional yang sering muncul saat pesta pernikahan. Umumnya disajikan dengan telur merah.
Saat menyuguhkannya, warga akan melantunkan barzanji, melakukan tepuk tepung tawar dan khatam Al-Quran.
Makanan tersebut terbuat dari bahan dasar beras ketan dengan campuran santan kelapa, gula aren dan gula pasir yang dimasak menjadi satu. Proses memasaknya tidak instan. Santan dimasak terlebih dahulu, lalu gula dimasukkan sebelum beras ketan atau pulut ditambahkan.
Semua bahan dimasak menggunakan kayu bakar. Proses ini bisa memakan waktu hingga 3 sampai 4 jam.
Meski lama, masyarakat tetap menjalaninya dengan penuh kesabaran. Bahkan, momen memasak ini sering jadi ajang kebersamaan dan gotong royong.
Salah satu warga Haris atau yang sering disapa Bukoh mengatakan tradisi ini bukan sekadar soal makanan. Ada nilai budaya dan kebersamaan yang dijaga turun-temurun.
“Pulut ini bagian dari adat, terutama saat tepung tawar dan berzanji,” kata Bukoh, Senin (30/3).
Menurutnya, tradisi ini harus terus dilestarikan. Dalam prosesi pernikahan, pulut santan melambangkan harapan akan kehidupan rumah tangga yang manis dan lengket.
"Artinya, pasangan diharapkan selalu bersama dalam suka maupun duka," ujarnya.
Tradisi ini juga mengajarkan makna kesabaran. Sama seperti memasaknya yang butuh waktu lama, rumah tangga juga perlu proses agar tetap utuh.
Jadi, kalau pulut saja dimasak sampai berjam-jam demi hasil terbaik, masa hubungan ingin instan yang ada bukan manis, tapi cepat gosong. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak