batampos – Pemerintah Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, terus mendorong pengembangan sagu sebagai komoditas pangan lokal unggulan yang tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa.
Kepala Desa Panggak Laut, Agung Yuda, mengatakan pengolahan sagu telah menjadi tradisi turun-temurun dan hingga kini masih menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar warga.
Di Desa Panggak Laut saja, terdapat hampir 20 kilang sagu yang aktif beroperasi dengan kapasitas produksi mencapai 14 hingga 18 ton per bulan untuk setiap kilang.
"Untuk kilang sagu ini hampir ada 20-an kilang di Desa Panggak Laut. Produksinya bisa 14 sampai 18 ton per bulan untuk satu kilang," ujar Agung, Kamis.
Menurutnya, potensi sagu di Kabupaten Lingga sangat besar karena tanaman tersebut tumbuh alami dan tersebar di berbagai wilayah. Selain Desa Panggak Laut, sentra produksi sagu juga terdapat di Desa Nerekeh, Musai, dan Teluk.
Saat ini, sagu tidak lagi dipasarkan hanya sebagai bahan baku. Masyarakat mulai mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung sagu, mi sagu, kue kering, hingga alternatif pangan pengganti beras.
Baca Juga: Krisis Air Tanjung Sengkuang Berulang, Akademisi Soroti Tata Kelola Pelayanan
"Kalau tepung ada yang dikirim ke Batam, kemudian makanan kering dipasarkan di Lingga, Tanjungpinang maupun Batam. Ada juga yang dikirim ke Jambi. Di BUMDes, tepungnya dikembangkan menjadi produk jadi oleh UMKM lokal," katanya.
Pengembangan industri sagu juga berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Dari sekitar 500 penduduk Desa Panggak Laut, sekitar 40 hingga 50 persen warga terlibat dalam rantai usaha sagu, mulai dari penebangan pohon hingga proses produksi di kilang.
Direktur BUMDes Karya Mandiri, Mawardi, menjelaskan pihaknya mengembangkan pengolahan sagu dari bahan mentah menjadi tepung sagu bersih yang dikeringkan dan dikemas sebelum dipasarkan.
Menurutnya, proses pengeringan masih mengandalkan sinar matahari sehingga sangat dipengaruhi kondisi cuaca.
"Proses pengeringan tergantung cuaca karena masih menggunakan cahaya matahari. Kalau panas, cepat kering," ujarnya.
Tepung sagu dipasarkan dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram untuk kemasan satu kilogram. Namun, BUMDes juga melayani permintaan dalam kemasan yang lebih besar, mulai dari lima hingga 20 kilogram.
"Sesuai pesanan, jadi kalau kemasannya mau yang lebih dari sekilo juga bisa. Banyak pelanggan kami di Batam dan Tanjungpinang, biasanya kami kirim ke sana," kata Mawardi.
Pengembangan usaha sagu di Lingga turut mendapat dukungan dari Bank Indonesia melalui program peningkatan mutu produksi sagu yang dijalankan sejak 2023.
Bantuan tersebut meliputi dukungan permodalan, penyediaan aset, peralatan produksi, hingga mesin pengemasan yang membantu meningkatkan kualitas dan daya saing produk sagu lokal.
"Mereka telah membantu untuk permodalan, alat produksi hingga mesin pengemasan. Alhamdulillah dukungannya luar biasa. Tanpa dukungan BI, ini tidak bisa kami teruskan karena kami membutuhkan bantuan modal," ujarnya.
Dengan potensi produksi yang besar serta dukungan berbagai pihak, komoditas sagu di Kabupaten Lingga diharapkan semakin berkembang sebagai pangan lokal unggulan sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (*)
Editor : Putut Ariyo