Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah di Lingga, Siswa Belajar dari Rumah

Vatawari BP • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 18:30 WIB
Kondisi wilayah Dabo Singkep, Kabupaten Lingga yang masih di selimuti kabut asap. F. Vatawari/Batam Pos
Kondisi wilayah Dabo Singkep, Kabupaten Lingga yang masih di selimuti kabut asap. F. Vatawari/Batam Pos

batampos - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Lingga. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas udara memburuk dan berdampak langsung terhadap aktivitas belajar mengajar di sekolah.

Berdasarkan pemeriksaan kualitas udara yang dilakukan Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Lingga pada Senin (5/10/2026), konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 105 µg/m³.

Angka tersebut masuk kategori tidak sehat. Masyarakat, khususnya kelompok rentan, pun diminta mengurangi paparan terhadap udara tercemar.

Kelompok rentan tersebut meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) kembali menerapkan pembelajaran dari rumah (BDR) bagi siswa.

Plt Kepala Disdikpora Lingga, Joni, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pihaknya menerima hasil pemeriksaan kualitas udara dari Dinas Kesehatan yang menunjukkan kondisi udara tidak sehat.

"Karena kualitas udara buruk, proses belajar mengajar di sekolah kita tiadakan sementara dan siswa Belajar Dari Rumah," ujar Joni, Selasa (6/10).

Menurutnya, pelaksanaan pembelajaran tatap muka akan disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara. Jika kondisi udara membaik, siswa akan kembali mengikuti pembelajaran di sekolah. Sebaliknya, apabila kualitas udara kembali memburuk, kegiatan belajar tatap muka akan dihentikan sementara.

"Jika kondisi udara bagus siswa akan masuk ke sekolah. Namun, jika kualitas udara memburuk, pembelajaran di sekolah ditiadakan," jelasnya.

Joni menambahkan, kondisi kualitas udara yang masih berubah-ubah membuat pembelajaran tatap muka belum dapat berjalan secara stabil.

Meski demikian, sejumlah sekolah telah terlanjur melaksanakan ujian tengah semester (UTS). Untuk sekolah tersebut, siswa dan guru tetap diperbolehkan masuk dengan menerapkan langkah perlindungan dari paparan asap, salah satunya menggunakan masker.

"Guru harus ekstra untuk mengingatkan dan mengawasi siswa agar selalu menggunakan masker. Apalagi untuk anak SD," tegasnya.

Kabut asap akibat karhutla tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai berdampak terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Lingga.

Pemerintah berharap kondisi kualitas udara segera membaik sehingga kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dapat kembali dilaksanakan secara normal.

Untuk sementara, keselamatan dan kesehatan siswa menjadi prioritas di tengah kondisi udara Lingga yang masih belum stabil. (*)

Editor : Cipi Ckandina
Ganggu Sekolah lingga karhutla kabut asap