batampos - Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi antara individu kerap melibatkan dinamika psikologis yang kompleks. Namun, tak semua permainan psikologi yang dimainkan dalam hubungan interpersonal atau sosial itu sehat. Beberapa teknik manipulasi psikologis yang digunakan untuk mengontrol atau merusak seseorang bisa sangat merugikan, bahkan ilegal.
Meskipun tidak selalu melibatkan pelanggaran hukum secara langsung, permainan psikologi yang melibatkan pemaksaan, manipulasi, dan kontrol berlebihan bisa menjerumuskan dalam situasi yang berbahaya dan merugikan korban. Demikian dilansir dari Psychologi Today.
Kenali, berikut tiga permainan psikologi yang ilegal yang perlu diketahui agar Anda bisa lebih waspada dalam berinteraksi dengan orang lain, baik dalam hubungan personal, profesional, maupun sosial.
- Gaslighting: Manipulasi Psikologis yang Mengaburkan Realitas
Teknik ini bertujuan membuat seseorang meragukan kenyataan, ingatan, dan persepsi mereka. Pelaku gaslighting biasanya melakukan tindakan atau ucapan yang bertentangan dengan kenyataan, lalu membantahnya untuk memanipulasi korban. Tujuan dari gaslighting adalah untuk membuat korban merasa bingung, cemas, dan meragukan dirinya sendiri sehingga mereka menjadi lebih tergantung pada pelaku.
Meskipun gaslighting tidak selalu diatur dalam hukum secara eksplisit, dalam konteks hukum pelecehan emosional dan kekerasan psikologis, gaslighting bisa menjadi bentuk kekerasan mental yang melanggar hak asasi manusia. Gaslighting yang dilakukan dalam konteks hubungan pribadi, seperti hubungan pasangan atau dalam lingkup profesional, dapat mengarah pada kerugian mental yang signifikan dan bisa dianggap sebagai pelecehan emosional yang ilegal.
Contoh gaslighting:
- Seseorang mungkin secara sengaja memindahkan barang-barang Anda dan kemudian menyangkal bahwa mereka melakukannya, membuat Anda merasa gila atau paranoid.
- Love Bombing: Manipulasi Emosional yang Mengarah pada Pengendalian
Love bombing adalah strategi manipulatif yang melibatkan perilaku berlebihan yang ditujukan untuk menarik perhatian dan kasih sayang seseorang secara cepat. Pelaku love bombing akan menunjukkan perhatian, pujian, dan kasih sayang berlebihan untuk membuat korban merasa dihargai dan dicintai. Namun, setelah korban merasa tergantung dan terikat secara emosional, pelaku akan mulai menarik perhatian atau memperlakukan korban dengan buruk untuk mendapatkan kontrol.
Love bombing sendiri mungkin tidak selalu ilegal dalam konteks hukum, namun ketika digunakan dalam konteks kontrol emosional dan manipulasi, terutama dalam hubungan yang berisiko, ini bisa menjadi bentuk pelecehan emosional yang merugikan secara hukum, terutama jika terkait dengan kontrol yang tidak sehat atau perilaku yang mengarah pada kekerasan dalam rumah tangga.
Contoh love bombing:
- Setelah beberapa kali pertemuan, seseorang yang baru saja bertemu denganmu mulai memberikan hadiah mahal dan memuji-muji secara berlebihan. Setelah itu, mereka mencoba membuatmu merasa bersalah atau cemas ketika kamu tidak membalas kasih sayang mereka dengan cara yang sama.
- Silent Treatment: Bentuk Kekerasan Psikologis yang Merusak Hubungan
Perlakuan diam-diam adalah strategi manipulasi di mana seseorang mengabaikan atau tidak berbicara dengan korban sebagai cara untuk menghukum atau mengendalikan perilaku mereka. Meskipun terdengar sederhana, teknik ini dapat menjadi sangat merusak dalam hubungan personal dan dapat memicu kecemasan, depresi, dan perasaan terisolasi pada korban.
Dalam beberapa kasus, silent treatment bisa menjadi bentuk kekerasan emosional atau psikologis yang merusak hubungan dan bahkan bisa mengarah pada pelecehan psikologis yang ilegal. Terutama dalam konteks hubungan pernikahan atau keluarga, penggunaan silent treatment secara berulang-ulang bisa menjadi bentuk pengendalian dan pelecehan yang merusak kesehatan mental korban.
Contoh silent treatment:
- Pasanganmu tiba-tiba berhenti berbicara denganmu tanpa alasan yang jelas, bahkan saat masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi terbuka. Hal ini bisa membuatmu merasa bingung dan cemas, namun pelaku sengaja tidak memberikan penjelasan agar bisa mengendalikan situasi. (*)