Batampos - Makeup telah menjadi bagian penting dari rutinitas kecantikan sehari-hari. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa di balik tampilan cantik, beberapa produk makeup mengandung bahan kimia yang bisa berbahaya bagi kesehatan kulit. Bahkan, bagi tubuh kalau dalam pemakaian jangka panjang.
Ada dua kandungan yang sering menjadi sorotan para ahli, yaitu parabens dan pewangi sintetis (fragrance).
Menurut para dermatolog dan peneliti, paparan terus-menerus terhadap bahan-bahan ini dapat memicu iritasi, gangguan hormon, hingga risiko jangka panjang lainnya yang tak boleh dianggap remeh.
Apa itu parabens dan mengapa berbahaya? merupakan zat pengawet yang digunakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur dalam produk kecantikan. Kandungan ini sering muncul dalam label sebagai methylparaben, propylparaben, atau butylparaben.
"Parabens dapat diserap melalui kulit dan meniru hormon estrogen dalam tubuh. Ini dapat mengganggu sistem endokrin," jelas Food and Drug Administration (FDA) AS dalam laman resminya.
Studi yang dipublikasikan oleh Journal of Applied Toxicology menyebutkan, parabens telah ditemukan dalam jaringan tumor payudara, meskipun kaitan langsungnya dengan kanker masih dalam penelitian lebih lanjut.
Bahaya Pewangi Sintetis (Fragrance) dalam Kosmetik
Fragrance atau pewangi sintetis biasanya ditambahkan untuk memberi aroma menyenangkan pada produk makeup. Namun, di balik aroma tersebut, pewangi sintetis bisa mengandung campuran hingga 200 bahan kimia, yang tidak semuanya dicantumkan di label produk.
“Fragrance adalah penyebab umum alergi, dermatitis kontak, dan bisa memperparah asma,” ungkap Environmental Working Group (EWG) dalam laporannya.
Tak hanya itu, bahan kimia dalam pewangi juga bisa menumpuk dalam tubuh dan berdampak negatif pada sistem reproduksi jika digunakan dalam jangka panjang.
Baca Juga: PWI Batam Perkuat Peran Nelayan dalam Ekonomi Maritim
Paparan jangka panjang terhadap parabens dan pewangi sintetis dalam makeup dapat menyebabkan:
- Iritasi kulit kronis
- Gangguan hormonal (endocrine disruptors)
- Peningkatan risiko kanker payudara (dalam studi observasional)
- Masalah kesuburan
- Alergi pernapasan dan dermatitis kontak. (*)