Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kecombrang, Tanaman Liar yang Jadi Bumbu Andalan Kuliner Nusantara Mulai dari Sumatera hingga Bali

Chahaya Simanjuntak • Selasa, 13 Mei 2025 | 16:52 WIB

ILUSTRASI tanaman kecombrang atau honje.
ILUSTRASI tanaman kecombrang atau honje.

Batampos – Kecombrang, atau dikenal juga dengan nama honje, kantan, rias, atau kincung di beberapa daerah, adalah salah satu tanaman liar yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner Nusantara.

Tanaman bernama ilmiah Etlingera elatior ini tumbuh liar di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, namun kini semakin populer dan dibudidayakan untuk keperluan masak dan pengobatan tradisional.

Dengan bunga berwarna merah muda cerah dan aroma tajam menyegarkan, kecombrang tak hanya menggoda selera, tapi juga memiliki nilai budaya yang kuat di berbagai daerah Indonesia.

Baca Juga: Ini Tujuh Cara Kreatif Mengolah Kecombrang dalam Masakan Sehari-hari

Untuk mengetahui lebih dalam, mari mengetahui sejarah dari tanaman ini.

Kecombrang berasal dari wilayah Asia Tenggara dan tergolong dalam keluarga jahe-jahean atau Zingiberaceae.

Di Indonesia, kecombrang tumbuh subur di wilayah beriklim tropis, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga Sulawesi. Tanaman ini bisa ditemukan tumbuh liar di kebun, pinggir hutan, hingga ladang milik warga.

Menurut Flora Malesiana, sebuah publikasi ilmiah tentang tumbuhan di kawasan Malesia, Etlingera elatior telah lama dikenal sebagai tanaman yang dimanfaatkan sejak zaman nenek moyang, terutama untuk masakan dan pengobatan tradisional. Hal ini juga ditemukan dalam jurnal di Leiden, Flora Malesiana Series, Rijksherbarium, 1997.

Di Sumatera, terutama Sumatera Utara dan Aceh, kecombrang dikenal dengan nama asam cekala atau rias. Bunga kecombrang sering dimasukkan dalam masakan khas seperti arsik ikan mas, hidangan tradisional Batak yang kaya rempah dan cita rasa kuat atau bahkan sambal rias dengan bahan dasar batang mudanya.

Sementara di Minangkabau, kecombrang menjadi bahan pelengkap dalam masakan berkuah seperti gulai atau sambal lado mudo, memberi aroma khas yang menyatu dengan bumbu tradisional.

Di tanah Jawa, kecombrang dikenal dengan nama honje. Tanaman ini sering digunakan dalam bentuk lalapan atau dijadikan sambal honje, terutama oleh masyarakat Sunda di Jawa Barat. Rasa asam dan wangi khas kecombrang membuatnya cocok menjadi penyeimbang rasa dalam makanan pedas.

Selain itu, masyarakat Jawa Tengah juga kadang memanfaatkan kecombrang dalam sayur lodeh atau oseng-oseng, meski penggunaannya tak seumum di wilayah barat.

Di Bali, kecombrang dikenal sebagai kecicang, dan menjadi bagian penting dari base genep atau racikan bumbu dasar khas Bali yang terdiri dari bawang, jahe, kunyit, dan rempah lainnya. Base genep digunakan untuk berbagai olahan seperti ayam betutu, lawar, dan sate lilit.

Aroma kecombrang dipercaya memperkuat cita rasa dan menjadi penyeimbang bau amis dari daging atau ikan.

Bumbu Tradisional dengan Potensi Modern

Kini, kecombrang tak hanya digunakan dalam masakan tradisional, tetapi juga mulai menarik perhatian para chef modern. Beberapa restoran fusion di kota besar menyajikan kecombrang dalam bentuk sambal, salad, hingga nasi goreng dengan twist kontemporer.

Kecombrang juga dikenal memiliki manfaat kesehatan, seperti kandungan antioksidan dan antibakteri, yang menambah nilai tambah dari segi gizi dan gaya hidup sehat. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#tanaman kecombrang #Kecombrang #Honje