Batampos – Kecombrang atau Etlingera elatior merupakan tanaman dengan bunga berwarna merah muda cerah dengan aroma khas. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kecombrang telah lama dimanfaatkan sebagai bagian dari pengobatan tradisional dan upacara adat yang sarat makna simbolis.
Keberadaannya menyimpan kearifan lokal yang kaya dan diwariskan secara turun-temurun di nusantara. Dari Sumatera hingga Bali, kecombrang dipercaya memiliki kekuatan alami yang menyentuh aspek kesehatan fisik maupun spiritual.
Baca Juga: Cegah Cerai Sejak Dini, Kemenag Batam Turun Tangan Edukasi Remaja soal Pernikahan
Manfaat Kecombrang sebagai Obat Tradisional
1 Mengobati Luka dan Radang
Dalam pengobatan tradisional masyarakat Minangkabau, daun dan batang muda kecombrang digunakan sebagai obat luka luar. Daun yang dihaluskan ditempelkan langsung pada luka atau area yang bengkak untuk meredakan peradangan.
Menurut Jurnal Biologi UNAND, 2018, ekstrak etanol dari daun kecombrang memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri, yang mendukung penggunaannya secara empiris di kalangan masyarakat tradisional.
2 Melancarkan Pencernaan dan Menurunkan Demam
Masyarakat Batak Karo menggunakan bunga kecombrang yang oleh mereka dikenal dengan asam cekala untuk mengatasi gangguan pencernaan, seperti perut kembung dan diare. Ramuan ini juga dipercaya mampu menurunkan demam pada anak-anak.
Dalam Jurnal Farmasi Higea, senyawa tanin dan flavonoid dalam kecombrang terbukti dapat membantu memperkuat sistem imun dan meredakan gejala pencernaan.
3 Mengatasi Bau Badan dan Kesehatan Wanita
Dalam masyarakat Sunda di Jawa Barat, secara tradisional menggunakan kecombrang sebagai bahan ramuan param atau lulur alami. Kandungan antibakterinya membantu mengurangi bau badan dan menjaga kebersihan area tubuh tertentu, terutama bagi perempuan setelah melahirkan.
Peran Kecombrang dalam Ritual dan Upacara Adat
1 Simbol Penyucian dan Keharuman
Di Bali, bunga kecombrang (kecicang) digunakan dalam beberapa upacara adat sebagai simbol penyucian. Dalam upacara melasti atau pembersihan diri menjelang Nyepi, bunga kecombrang kadang dimasukkan dalam air suci untuk memancarkan aroma wangi yang dipercaya mampu mengusir roh jahat dan energi negatif.
2 Ramuan Pelengkap Ritual
Suku Dayak Kalimantan Tengah menggunakan tanaman kecombrang dalam campuran ramuan yang dibakar saat ritual penyembuhan atau balian. Aromanya dianggap membawa ketenangan dan membuka jalur komunikasi antara dukun dan roh leluhur.
3 Pengusir Hama dan Energi Negatif
Di beberapa desa adat di Jawa Tengah, kecombrang ditanam di sekitar rumah bukan hanya sebagai tanaman hias, tapi juga dipercaya dapat menolak bala. Hal ini sejalan dengan anggapan bahwa aroma kecombrang memiliki energi pelindung.
Meskipun saat ini penggunaan kecombrang dalam pengobatan dan ritual tradisional mulai terpinggirkan oleh produk modern, tapi peranannya dalam budaya lokal tetap penting.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pelestarian tanaman seperti kecombrang tak hanya menyangkut pelestarian botani, tetapi juga warisan pengetahuan tradisional Indonesia. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak