Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ini Fakta Ilmiah yang Jarang Diketahui Mengapa Plastik Sulit Terurai di Bumi

Chahaya Simanjuntak • Minggu, 1 Juni 2025 | 16:55 WIB

ILUSTRASI plastik di laut. Plastik berpotensi merusak lingkungan dan berbahaya untuk kesehatan.
ILUSTRASI plastik di laut. Plastik berpotensi merusak lingkungan dan berbahaya untuk kesehatan.

Batampos - Plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern saat ini. Namun, di balik kemudahannya, terdapat fakta ilmiah yang meresahkan. Plastik sangat sulit terurai secara alami.

Banyak orang belum memahami alasan ilmiah di balik ketahanan plastik ini, padahal ini adalah kunci utama dalam krisis pencemaran lingkungan global.

Plastik tersusun dari rantai panjang molekul karbon yang disebut polimer. Ikatan kimia dalam rantai ini sangat kuat dan tahan terhadap proses alami seperti penguraian oleh mikroorganisme, oksidasi, atau air.

Menurut laporan dari National Geographic di 2018 lalu, sifat kimia plastik modern dirancang untuk tahan lama, ringan, dan fleksibel. Semua sifat yang justru membuatnya sulit terurai secara biologis.

Tidak seperti bahan organik seperti daun atau sisa makanan, plastik tidak dikenali oleh enzim dan bakteri di alam sebagai "makanan." Mikroorganisme tidak memiliki kemampuan alami untuk memecah ikatan kimia dalam plastik.

Penelitian dari Science Advances mencatat, lebih dari 8,3 miliar ton plastik yang telah diproduksi sejak 1950-an, hanya sekitar 9 persen yang berhasil didaur ulang. Sisanya dibakar atau berakhir di lingkungan.

Plastik Bisa Bertahan Ratusan Tahun

Plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) yang biasa digunakan dalam botol air minum, diperkirakan membutuhkan waktu hingga 450 tahun untuk benar-benar terurai di alam. Beberapa jenis plastik bahkan bisa bertahan lebih lama tergantung pada kondisi lingkungan seperti suhu, kelembaban, dan paparan sinar matahari.

Mirisnya, plastik tidak membusuk seperti daun. Alih-alih terurai, plastik hanya terfragmentasi menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik. Mikroplastik ini kemudian tersebar luas di udara, tanah, laut, bahkan masuk ke tubuh manusia melalui makanan dan minuman.

Meski ada penelitian tentang bakteri atau enzim yang dapat memecah plastik, proses ini masih sangat lambat dan belum diterapkan secara luas dan secara komersial. Salah satunya adalah bakteri Ideonella sakaiensis yang mampu mendegradasi PET, tapi hanya dalam kondisi laboratorium tertentu. (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#bahaya plastik #plastik #dampak lingkungan