Batampos - Miom merupakan tumor jinak yang tumbuh di dalam atau sekitar rahim. Meskipun tidak bersifat kanker, miom dapat menimbulkan gejala yang mengganggu, seperti perdarahan menstruasi yang berat, nyeri panggul, atau gangguan kesuburan.
Berbagai pilihan pengobatan tersedia, mulai dari konsumsi obat-obatan hingga tindakan operasi. Lantas, mana yang lebih baik?
Baca Juga: Perdana Aksi Curanmor di Tarempa Selatan, Saat Motor Ditemukan Ada Beberapa Komponen yang Hilang
Pengobatan miom tidak selalu sama untuk setiap orang. Dokter akan mempertimbangkan usia, gejala, rencana kehamilan, dan ukuran miom sebelum menentukan terapi yang tepat.
1 Terapi Obat-obatan
Obat-obatan biasanya menjadi pilihan pertama bagi miom bergejala ringan hingga sedang.
- Agonis GnRH (Gonadotropin-Releasing Hormone):
Menurunkan kadar estrogen sehingga miom mengecil sementara waktu. Digunakan sebelum operasi atau sebagai terapi jangka pendek.
Ini Efektif mengecilkan miom, tetapi tidak menyembuhkan permanen.
- Pil KB atau progestin:
Mengontrol perdarahan berat akibat miom, tetapi tidak mengecilkan ukuran miom.
- Traneksamat dan NSAID:
Mengurangi perdarahan menstruasi dan nyeri, tetapi tidak mempengaruhi ukuran miom.
2 Terapi Non-Bedah
- Uterine Artery Embolization (UAE):
Prosedur ini memotong suplai darah ke miom, menyebabkan miom mengecil.
Cocok untuk wanita yang tidak ingin hamil lagi.
- MRI-Guided Focused Ultrasound (MRgFUS):
Teknologi non-invasif menggunakan gelombang ultrasonik untuk menghancurkan jaringan miom. Ini minim risiko dan pemulihan cepat, namun belum tersedia luas di Indonesia.
3 Operasi
- Miomektomi (Pengangkatan Miom):
Cocok bagi wanita yang ingin hamil. Miom diangkat tanpa mengangkat rahim. Ada kemungkinan miom tumbuh kembali.
- Histerektomi (Pengangkatan Rahim):
Solusi permanen untuk miom parah atau berulang. Tidak disarankan bagi wanita yang masih ingin memiliki anak. Ini bebas dari miom secara permanen.
Tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua penderita miom. Sebelum memilih pengobatan, pasien disarankan untuk menjalani pemeriksaan USG atau MRI rahim guna menentukan jenis dan posisi miom. Diskusi terbuka dengan dokter kandungan akan membantu memilih terapi yang aman dan efektif sesuai kondisi individu. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak