Itulah mengapa orang tua perlu mengenali gejala alergi ikan sedini mungkin agar bisa mengambil tindakan cepat dan tepat. Berikut ulasannya.
Apa Itu Alergi Ikan?
Alergi ikan adalah reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein dalam daging ikan, salah satunya parvalbumin. Reaksi ini bisa muncul meski hanya dalam jumlah kecil, dan pada anak-anak, alergi bisa timbul saat pertama kali dikenalkan pada ikan.
Menurut dr. Mira Wulandari, Sp.A, “Alergi ikan bisa muncul dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah terpapar, dan gejalanya sangat bervariasi, dari ringan hingga berat.”
Gejala Alergi Ikan yang Umum pada Balita
Berikut tanda-tanda alergi ikan yang perlu diwaspadai:
1. Gejala pada Kulit
- Ruam merah
- Gatal-gatal
- Biduran (kaligata)
- Kulit kering atau bengkak di sekitar wajah dan mulut
2. Gejala pada Sistem Pencernaan
- Mual
- Muntah
- Perut kembung
- Diare
3. Gejala pada Sistem Pernapasan
- Batuk
- Hidung tersumbat atau pilek
- Sesak napas
- Napas berbunyi (mengi/wheezing)
4. Gejala Berat: Anafilaksis
- Penurunan tekanan darah
- Pembengkakan pada tenggorokan dan saluran napas
- Kesulitan bernapas
- Hilang kesadaran
Anafilaksis adalah kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.
Kapan Gejala Muncul?
Gejala alergi biasanya muncul dalam waktu:
- Menit-menit awal hingga 2 jam setelah makan ikan
- Kadang hanya dari kontak kulit atau mencium aroma masakan ikan
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
- Segera hentikan pemberian ikan atau produk olahannya saat gejala muncul.
- Cuci mulut atau tangan anak jika kontak dengan ikan terjadi secara tidak sengaja.
- Bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan kemungkinan tes alergi.
- Jika anak mengalami sesak atau pembengkakan parah, bawa segera ke IGD.
Diagnosis Alergi Ikan
Dokter anak atau spesialis alergi biasanya akan melakukan:
- Tes tusuk kulit (skin prick test)
- Tes darah IgE spesifik
- Observasi makanan/eliminasi dan uji tantangan makanan
Mengenali gejala alergi ikan sejak dini sangat penting agar balita tidak mengalami reaksi yang berbahaya. Semakin cepat orang tua menyadarinya, semakin cepat pula penanganan dan penyesuaian pola makan bisa dilakukan untuk menjaga si kecil tetap sehat dan aman. (*)
Editor : Ichwanul Fazmi