Jika konsumsi jahe yang berlebihan justru bisa memicu efek samping yang tidak diinginkan. Apa saja dampaknya? Simak penjelasan berikut.
1. Gangguan Pencernaan
Meskipun jahe bisa membantu melancarkan pencernaan, mengonsumsi terlalu banyak jahe—terutama dalam bentuk mentah atau ekstrak pekat—dapat memicu rasa panas di perut, kembung, mulas, hingga diare. Ini karena jahe merangsang produksi asam lambung.
2. Iritasi Mulut dan Tenggorokan
Rasa pedas dari jahe berasal dari senyawa gingerol. Bila dikonsumsi dalam jumlah besar, gingerol dapat menyebabkan sensasi terbakar atau panas pada lidah, mulut, dan tenggorokan, terutama bagi yang memiliki sensitivitas tinggi.
3. Pengenceran Darah Berlebihan
Jahe memiliki sifat antikoagulan (mengencerkan darah) secara alami. Ini bisa bermanfaat bagi kesehatan jantung, namun menjadi berisiko bila dikombinasikan dengan obat pengencer darah seperti warfarin atau aspirin. Konsumsi jahe berlebihan dalam kondisi ini dapat meningkatkan risiko perdarahan.
4. Menurunkan Tekanan Darah Secara Drastis
Jahe bisa membantu menurunkan tekanan darah, tetapi pada orang yang sudah memiliki tekanan darah rendah (hipotensi), konsumsi jahe berlebihan dapat menyebabkan pusing, lemas, atau bahkan pingsan akibat penurunan tekanan darah secara tiba-tiba.
5. Mengganggu Keseimbangan Gula Darah
Jahe dapat menurunkan kadar gula darah, yang biasanya bermanfaat untuk penderita diabetes. Namun, jika dikonsumsi terlalu banyak bersamaan dengan obat antidiabetes, jahe bisa menyebabkan hipoglikemia atau gula darah terlalu rendah, yang berbahaya.
6. Kontraksi Rahim pada Ibu Hamil
Meskipun jahe dikenal ampuh meredakan mual pada awal kehamilan, konsumsi berlebihan dikhawatirkan dapat merangsang kontraksi rahim, yang berpotensi meningkatkan risiko keguguran atau kelahiran prematur, terutama di trimester akhir.
7. Interaksi dengan Obat-obatan
Jahe dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu, seperti:
- Obat jantung (beta blocker)
- Obat diabetes
- Obat antikoagulan
Efek interaksi ini bisa memperkuat atau mengganggu kerja obat, dan menimbulkan risiko komplikasi serius. (*)
Editor : Ichwanul Fazmi